Konten dari Pengguna

Di Balik Gurihnya Berkah Stik Sukun, Ibu Darsini Merintis Usaha dari Nol

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Widyadhana Benda SNismara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Ibu Darsini, pemilik UMKM Berkah Stik Sukun di Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ibu Darsini, pemilik UMKM Berkah Stik Sukun di Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten.

Di balik gurih dan renyahnya stik sukun khas Desa Jiwan, tersimpan kisah perjuangan Ibu Darsini yang membangun usaha dari pengalaman sederhana. Berbekal ketekunan dan keberanian untuk mandiri, ia berhasil mengembangkan Berkah Stik Sukun, usaha rumahan yang berdiri sejak tahun 2006. Berkat komitmennya menjaga kualitas, produk tersebut kini tidak hanya dikenal di Kabupaten Klaten, tetapi juga telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga pernah dikirim ke Hong Kong.

Perjalanan usahanya bermula ketika bekerja di usaha Azam Sukun. Di sana, Ibu Darsini mempelajari proses produksi hingga pemasaran. Saat mulai merintis usaha sendiri, seluruh hasil produksinya masih dipasarkan melalui Azam Sukun. Namun, ia kemudian memilih memasarkan produknya dengan merek Berkah Stik Sukun karena dapat menentukan harga jual secara mandiri. Hingga kini, hubungan kerja sama dengan Azam Sukun tetap terjalin sesuai kesepakatan yang telah dibangun sejak awal.

Seiring waktu, Berkah Stik Sukun terus berkembang. Produk dipasarkan melalui penjualan langsung di rumah, toko grosir, dan pesanan berbagai acara. Kini, produk tersebut telah tersedia di beberapa titik penjualan di Jiwan, Pedan, Boyolali, dan Salatiga sehingga semakin mudah dijangkau masyarakat.

Gambar 2. Ibu Darsini bersama keluarga menjalankan proses produksi Berkah Stik Sukun yang telah dirintis sejak tahun 2006.

Kepercayaan pelanggan membuat Berkah Stik Sukun semakin dikenal. Produknya telah dipasarkan ke berbagai daerah, seperti Klaten, Boyolali, Salatiga, Tangerang, bahkan pernah dikirim hingga Hong Kong karena adanya permintaan dari pelanggan yang telah mencicipi cita rasanya. Meski demikian, tingginya permintaan belum sepenuhnya dapat dipenuhi karena keterbatasan modal yang membuat kapasitas produksi masih terbatas.

Menariknya, perkembangan usaha ini hampir seluruhnya diperoleh tanpa promosi digital. Selama hampir dua dekade, Berkah Stik Sukun lebih banyak dikenal melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Kepercayaan pelanggan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam mempertahankan usahanya.

Di balik keberhasilannya, Ibu Darsini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Buah sukun sebagai bahan baku utama hanya tersedia pada musim tertentu, sekitar Januari hingga Maret. Agar kualitas tetap terjaga, buah yang dipanen harus langsung diolah pada hari yang sama. Jika pengolahan ditunda hingga keesokan hari, warna dan cita rasanya akan berubah. Selain itu, masa simpan produk yang hanya sekitar 60 hari membuat stok dalam jumlah besar tidak memungkinkan.

Ketika musim sukun berakhir, produksi stik sukun dihentikan sepenuhnya karena bahan baku tidak tersedia. Usaha ini juga berkembang berkat dukungan keluarga. Sang suami mendampingi jalannya usaha, sedangkan anak-anaknya turut membantu dalam proses produksi maupun kegiatan operasional. Selain menjadi sumber penghidupan keluarga, Berkah Stik Sukun juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Komitmen menjaga kualitas terlihat pada setiap proses produksi. Buah sukun dibelah, dicuci, dipotong, lalu direndam sebelum digoreng menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Saat setengah matang, minyak goreng dicampur dengan margarin dan garam agar menghasilkan cita rasa gurih yang khas. Setelah dingin, produk disortir menjadi tiga tingkatan berdasarkan bagian buah sukun yang digunakan. Perbedaan warna, tekstur, dan kualitas tersebut turut memengaruhi harga jual.

Gambar 3. Proses pengolahan buah sukun menjadi stik sukun dilakukan pada hari yang sama setelah panen untuk menjaga warna dan cita rasa produk.

Selain stik sukun, Berkah Stik Sukun juga memproduksi ceriping sukun yang memiliki tekstur dan cita rasa berbeda. Produk ini hanya dibuat berdasarkan pesanan. Stik sukun dijual sekitar Rp165.000 per 3 kilogram, sedangkan ceriping sukun dipasarkan seharga Rp92.000 per 2,5 kilogram.

Gambar 4. Berkah Stik Sukun hadir dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah yang dihasilkan dari proses pengolahan buah sukun berkualitas.

Perjalanan Berkah Stik Sukun membuktikan bahwa keberhasilan usaha lahir dari proses belajar, kerja keras, dan konsistensi menjaga kualitas. Berawal dari seorang pekerja, Ibu Darsini berhasil mengembangkan usaha yang kini dikenal hingga luar daerah bahkan pernah menembus pasar Hong Kong.

Ke depan, Ibu Darsini berharap Berkah Stik Sukun semakin dikenal melalui pemanfaatan media digital sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Masyarakat yang ingin menikmati camilan khas berbahan baku sukun ini dapat mengunjungi langsung lokasi usaha di Dusun 1, Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten atau melakukan pemesanan kepada pemilik usaha. Dengan memilih Berkah Stik Sukun, masyarakat tidak hanya menikmati camilan berkualitas, tetapi juga turut mendukung perkembangan UMKM lokal yang tumbuh dari semangat, ketekunan, dan kerja keras.

Instagram: @stiksukunberkah