Isu Perubahan Iklim di Tangan Calon Jurnalis

Fresh Graduate Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Tulisan dari Wiena Amalia Salsabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan iklim, kata yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Kata yang kian hari kian digembor-gemborkan berbagai pihak. Dikampanyekan diberbagai platform agar dilihat dan didengar banyak orang untuk mencapai suatu perubahan.
Memang, bumi yang kita tinggali sudah semakin tua dari hari ke hari. Namun, perubahan yang terjadi pada bumi ini juga disadari atau tidak, terjadi akibat akibat pemanasan global sebagai dampak dari keberadaan para penghuni bumi itu sendiri, yaitu kita, manusia.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Barat Meiki Wemly Paendong mengatakan beragam penemuan dari aktivitas manusia untuk menunjang hidupnya di bumi menghasilkan kontribusi gas emisi yang besar terhadap suhu bumi, mulai dari penemuan mesin uap saat revolusi industri, teknologi mekanisme pabrikasi dan mekanik robot hingga era digitalisasi saat ini.
Gas emisi itu kian bertambah hari demi hari hingga akhirnya menutupi lapisan atmosfer bumi. Padahal, lapisan ini adalah garda terdepan bumi agar terhindar dari sinar matahari berlebih.
“Secara ilmiah, karena semakin bertambah, akhirnya setiap ada sinar matahari yang tembus ke bumi yang seharusnya dipantulkan lagi ke luar angkasa, dia justru tertahan gas emisi hingga akhirnya sinar itu balik lagi ke bumi. Nah, ini yang secara ilmiah bisa kita pahami akhirnya bumi pelan-pelan suhunya mulai naik karena sinar matahari yang masuk ke bumi itu tidak bisa lagi mantul ke luar tapi tertahan lapisan karbon yang semakin menumpuk.” papar pria yang kerap disapa Meiki ini.
Tidak main-main, Meiki membeberkan sebagian kecil dari fenomena akibat perubahan iklim yang sudah terjadi saat ini. Musim kemarau yang berkepanjangan padahal belum memasuki waktunya, angin topan dengan badai berskalanya massif di berbagai negara yang sebelumnya jarang mengalaminya, sampai banjir bandang di daerah yang sumber resapan airnya masih mumpuni.
Meiki menyadari bahwa pada akhirnya harus ada berbagai upaya yang dilakukan untuk menekan perubahan iklim di bumi tercinta ini. Salah satunya dengan sosialisasi dan edukasi oleh para Jurnalis.
Tidak hanya Meiki, pandangan serupa dikatakan oleh para calon Jurnalis itu sendiri. Ajeng misalnya.
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad) ini sepakat bahwa sosialisasi tentang perubahan iklim memang perlu dilakukan oleh para Jurnalis agar isu ini tidak tenggelam dibandingkan isu lain, seperti politik atau ekonomi.
“Jurnalis juga gak bisa menutup mata, sekarang banyak banget aktivis lingkungan yang gencar sosialisasi tapi juga membutuhkan dukungan supaya informasi yang mereka sampaikan bisa tersebar lebih luas. Kalau masyarakat meragukan berbagai kasus terkait lingkungan yang disampaikan oleh aktivis, nantinya masyarakat mungkin jadi meragukan kredibilitasnya. Jurnalis dan media seharusnya bisa membantu supaya informasi tersebut bisa diterima masyarakat dan dipastikan kredibel,” ujar wanita asal Tegal ini.
Selain Ajeng, dua mahasiswa lainnya dari Jurnalistik Unpad, yakni Riri dan Rama, berpendapat demikian.
Jika menjadi Jurnalis kelak, keduanya setuju bahwa produk yang dibuat oleh Jurnalis sangat berpengaruh untuk membangun kesadaran dan gerakan secara nyata bagi masyarakat dalam memerangi perubahan iklim ini.
Di era digital ini, Riri berpandangan produk Jurnalistik berbentuk Infografis adalah media penyebaran isu yang paling efektif karena dapat dibuat secara ringkas, singkat, menarik, tetapi tetap lengkap.
Berbeda dengan Riri, Rama memilih untuk menyebarkan isu perubahan iklim melalui Jurnalisme Komik. “Jurnalisme Komik itu bisa diakses sama berbagai kalangan umur, dari anak-anak sampai dewasa. Jadi Jurnalisme Komik rasanya bentuk yang paling tepat deh,” ujar mahasiswa berusia 21 tahun tersebut.
Terlepas dari apapun produk Jurnalistik yang dihasilkan, Meiki menekankan agar calon-calon Jurnalis ini senantiasa melibatkan sains dalam setiap produk yang mereka buat, “Tentunya supaya itu bisa menjadi satu produk jurnalisme yang akurat, harus ditunjang juga dengan keilmuan berbasis sains. Jadi apa yang disampaikan ini mempunyai dasar. Itu sangat penting.”
Meiki juga berharap, para calon-calon Jurnalis kelak dapat menyebarkan isu perubahan iklim ini dengan lebih gencar dan konsisten, “Jangan hanya mengejar berdasarkan momentum-momentum tertentu, jadi memang harus konsisten dilakukan.” ujarnya.
