Konten dari Pengguna

Sosok di Balik Layar Kita Berbuka dengan Layak

Wiena Amalia Salsabilla

Wiena Amalia Salsabilla

Fresh Graduate Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wiena Amalia Salsabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Driver ojek online mengantri di salah satu tempat makan di Bandung untuk para customer pada Sabtu (17/04). (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla)
zoom-in-whitePerbesar
Driver ojek online mengantri di salah satu tempat makan di Bandung untuk para customer pada Sabtu (17/04). (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla)

Bulan Ramadan. Bulan yang identik dengan bukber alias Buka Bersama. Suasana Bulan Suci yang khas dengan obrolan hangat menjelang azan berkumandang bersama orang-orang tersayang membuat bukber menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Menjadi ajang melepas rindu khususnya dengan mereka yang sudah lama tidak bertemu.

Deretan list mulai dari bukber dengan keluarga, teman kantor, teman kuliah, teman SMA hingga teman saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak pun sudah menunggu.

Namun, di balik momen menyenangkan itu, di balik santapan lezat dengan canda-tawa bersama yang terkasih itu, banyak orang di luar sana yang harus mengesampingkan dirinya agar kita bisa bukber dengan suka ria. Padahal, mereka sama-sama berpuasa. Sama-sama perlu berbuka.

Mereka adalah para pelayan di tempat makan yang kita kunjungi menjelang azan. Mereka adalah para driver ojek online yang mengantar kita atau mengirim makanan yang kita pesan. Mereka adalah sosok-sosok di balik kita bisa berbuka puasa dengan nyaman.

Diki, pelayan di salah satu toko Ramen di daerah Pasar Kosambi Bandung mengaku kadang merasa lelah dalam melayani para pembeli di Bulan Puasa ini. Membludaknya pelanggan membuat ia dan rekan kerjanya sering kali telat berbuka. Bahkan, tidak jarang mereka hanya mengganjal lapar setelah seharian berpuasa dengan minum air putih saja.

“Kadang kalau buka puasa itu kita cuma minum aja. Dan selebihnya paling ya, kita nikmatin aja sih. Misalkan kita buka dari jam dua. Nah, dari jam dua sampai jam empat itu kita cuma bikin-bikin kuah. Dari jam empat sampai jam sepuluh kita udah mulai harus melayani tamu aja. Ibaratnya kan tamu itu raja-raja kita,” ujar Diki.

Diki bersama rekan kerjanya di salah satu toko Ramen di Bandung tengah menyiapkan bahan-bahan untuk pembeli menjelang berbuka puasa pada Sabtu (17/04). (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla)

Orderan yang panjang membuat Diki dan pelayan lainnya kesulitan untuk bisa makan dengan layak saat berbuka karena bagi mereka, pantang hukumnya bila para “raja” sampai datang menanyakan pesanan yang telat dihidangkan.

“Jadi udahlah sesempatnya aja. Kita udah balik lagi dari pelanggan, kita ngambil (makanan) dikit, makan, langsung otw lagi ke pelanggan. Gitu aja sih,” tambahnya.

Namun, meski lelah, Diki merasa senang saat pembeli dapat berbuka puasa dengan layak, “Kita juga ikut senang sih orang lain dapat buka puasa dengan nikmat. Wah, itu nilai lebih buat kita,” ujar lelaki yang akrab disapa Venom itu.

Tidak jauh dari toko Ramen tempat Diki bekerja, salah satu pelayan toko minuman kekinian di Pasar Kosambi Bandung bernama Salman merasakan hal serupa.

Ia mengaku baru bisa makan jika pelanggan sudah mulai sepi, “Yang penting kan sempatin dulu buka sebenarnya. Cuma minum juga cukuplah buat buka mah. Kalau makannya kan jam tujuh jam delapanan kalau udah mulai agak sepi lah,” tutur lelaki berusia 18 tahun tersebut.

Untungnya, meski telat dan hanya berbuka dengan air saja, Diki dan Salman masih bisa menjalankan ibadah Salat Magrib. Adapun untuk Tarawih, mereka mengaku jarang melakukannya kecuali di hari libur saja dan hanya menjalankan Salat Isa sebagai ibadah wajibnya.

Beranjak dari daerah Pasar Kosambi Bandung, Deni Permana, pelayan di tempat grill beef kaki lima di Jalan Lengkong Kecil, Bandung juga merasakan hecticnya melayani pembeli di Bulan Suci.

Para pegawai salah satu grill beef kaki lima di Bandung tengah menyiapkan tenda menjelang berbuka puasa pada Sabtu (17/04). (FOTO: Wiena Amalia Salsabilla)

Deni bercerita, saat orderan sedang banyak-banyaknya, terkadang ada saja pelanggan yang tidak sabaran. Sistem waiting list yang diterapkan ditempatnya bekerja ini memang mengharuskan pelanggan untuk menunggu hingga gilirannya datang karena tidak adanya pembatasan waktu saat makan.

“Kita memohon maaf karena kan kita lagi paciweuh juga ngelayanin orang. Bukan satu tapi berpuluh-puluh orang,” ujar Deni.

Dalam hal berbuka puasa, para pelayan di sini berbuka di waktu yang sama dengan para pembeli selepas memastikan mereka sudah mendapatkan pesanan. Namun, tidak berbuka dengan leluasa tentunya. Para pelayan hanya bisa berbuka sekitar 15 menit.

“Di sini kita sistemnya kan serempak ya untuk buka puasa. Jadi yang waiting list kita layanin dulu. Kita anter-anterin yang order dulu. Kalau udah azan, baru kita serempak makan. Yang pelanggan makan, kita pun break sebentar. Misalkan ada yang mau salat, salat dulu. Udah salat baru makan. Paling lama 10-15 menitan dan tetap harus ada kontrol. Ngontrolin meja, kan takutnya ada (pembeli) yang nyuruh, takutnya ada yang nambah (pesanan) ini-itu,” ujarnya.

Waktu istirahat yang hanya lima belas menit itu tidak mengurangi rasa terima kasih Deni pada para pembeli. Ia bahkan memohon maaf atas kekurangannya dalam layan-melayani.

“Terima kasih udah nunggu berjam-jam tapi masih mau aja makan di kita terutama kalau banjir, udah nunggu lama, kebanjiran, kehujanan. Makasih banyak juga untuk pembeli yang udah sabar, yang nggak rewel. Mohon maaf kalau ada kesalahan dan kekurangan dari kita-kitanya. Mohon maaf banget,” papar Deni.

Sedikit berbeda dengan tiga pelayan di atas, driver ojek online pun turut merasakan sulitnya melayani customer di Bulan Suci. Gugun salah satunya.

Pria berusia 40 tahun ini mengatakan, orderan menjadi lebih sepi selama Bulan Ramadan. Menurutnya, hal itu terjadi karena banyaknya orang yang berpuasa dan beragam aktivitas yang berkurang dari biasanya ditambah dengan cuaca Kota Bandung yang sering hujan menjelang sore hingga malam.

Beruntung, Gugun mengaku belum pernah menemukan customer yang rewel. Paling-paling seputar lokasi yang tidak sesuai dengan titik yang ditentukan.

“Kadang lokasinya yang gak sesuai. Itu yang bikin lama tuh. Jadi kan ada GPS-nya tuh di aplikasi, titiknya di sini ternyata rumahnya sebelah mana. Kalau yang gak ngasih notes detail tuh kadang suka susah. Tapi ada yang suka bilang rumahnya yang ini ya, bukan nomor itu. Itu ada juga yang kaya gitu,” papar Gugun.

Selama Bulan Puasa ini, tidak seperti teman-temannya, Gugun lebih memilih untuk mematikan aplikasi ojek onlinenya jika sudah menjelang buka puasa dan baru menyalakannya kembali selepas melaksanakan Salat Tarawih.

“Saya bisa ngatur juga kalau udah lewat setengah enam, aplikasinya dimatiin. Tapi teman-teman yang lain ada juga yang sampai magrib tetap jalan. Kalau saya mah nggak. Setengah enam udah matiin aja. Lanjut lagi abis Tarawih di masjid. Biasanya saya pulang dulu,” ujarnya.

Terlepas dari hiruk-pikuk melayani para pembeli di Bulan Suci, sosok-sosok dibalik layar dimana kita bisa berbuka puasa dengan layak ini mempunyai harapan yang sama. Harapan agar pembeli bisa lebih mengerti dan memaklumi pekerjaan mereka yang tidak mudah ini.

Bagi mereka, kesenangan pembeli tetap menjadi hal utama. Karena bagi mereka, lapar dan haus terbayar rasanya tatkala melihat pembeli dapat berbuka dengan nyaman bersama orang-orang terdekatnya. Tidak peduli jika mereka berbuka seadanya meski hanya bersama rekan kerja, bukan keluarga atau orang-orang terkasih lainnya.