Konten dari Pengguna

Erupsi Anak Krakatau, Apakah Ongkos Ekonominya Bisa Ditekan?

MUH WIRA DARMAWAN

MUH WIRA DARMAWAN

Mahasiswa Akuntansi, PKN STAN

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUH WIRA DARMAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9). Foto: Ilustrasi, dibuat dengan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9). Foto: Ilustrasi, dibuat dengan AI.

Minggu pagi, 6 September 2026, puluhan ribu calon penumpang tertahan di berbagai bandara di Indonesia. Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara sejak dini hari, menyusul terdeteksinya sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah berlangsung sejak Jumat malam. Ratusan pergerakan pesawat dibatalkan hanya di bandara ini, dengan puluhan ribu penumpang terdampak langsung. Beberapa bandara lain, seperti Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug, turut menghentikan operasional. Efeknya menjalar hingga ke Bali, Pangkalpinang, dan Malang, sementara satu maskapai saja, Pelita Air, membatalkan puluhan jadwal penerbangannya.

Kerugian ini nyata dan langsung terasa. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan di tengah keriuhan berita: bagaimana keputusan menutup dan membuka kembali ruang udara ini bisa terus disesuaikan secara presisi jam demi jam, alih-alih ditutup total berhari-hari dengan spekulasi tanpa akhir yang sebenarnya berisiko dua arah sekaligus, menutup lebih lama dari yang sebenarnya diperlukan dan menambah kerugian yang semestinya bisa dihindari, atau sebaliknya membuka kembali ruang udara sebelum abu vulkanik benar-benar aman dan membahayakan keselamatan penerbangan?

Jawabannya ada pada teknologi pemantauan yang bekerja di balik layar. Sebaran abu Anak Krakatau dideteksi lewat citra satelit Himawari-9, dianalisis silang dengan data Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin di Australia, serta dikonfirmasi lewat uji lapangan langsung di landasan pacu yang dikenal sebagai paper test. Begitu indikasi abu terkonfirmasi, AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menjadi dasar hukum penutupan ruang udara secara presisi, baik dari sisi waktu maupun wilayah. Estimasi waktu pembukaan kembali Bandara Soekarno-Hatta sendiri telah beberapa kali direvisi sepanjang Minggu pagi hingga Senin, 7 September 2026, setiap kali menyesuaikan hasil pemeriksaan ulang kondisi abu di lapangan dan pembaruan citra satelit terbaru. Pola ini menunjukkan bahwa keputusan yang diambil bukan sekali jadi dan kaku, melainkan terus diperbarui mengikuti data, sehingga ruang udara dapat dibuka kembali secepat data mendukung, tanpa perlu menunggu lebih lama dari yang sebenarnya diperlukan.

Ketepatan ini penting karena abu vulkanik bukan ancaman biasa bagi pesawat. Berbeda dari awan hujan yang mudah terdeteksi radar cuaca, abu vulkanik berupa partikel silika dan kaca vulkanik yang kering, sehingga nyaris tidak terlihat oleh radar pesawat maupun mata telanjang di malam hari. Ketika terhisap ke mesin jet yang beroperasi pada suhu sangat tinggi, partikel ini meleleh, menempel di komponen bagian dalam, lalu mengeras kembali saat mesin didinginkan, menyumbat aliran bahan bakar hingga berpotensi mematikan mesin sepenuhnya.

Indonesia sendiri punya sejarah pahit soal ini. Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways Penerbangan 9 dengan 263 penumpang dan awak menembus awan abu dari erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat tanpa disadari kru maupun menara pengawas. Keempat mesin pesawat Boeing 747 tersebut mati total pada ketinggian jelajah, memaksa pesawat meluncur tanpa tenaga selama sekitar 16 menit sebelum akhirnya berhasil mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, bandara yang sama yang kembali ditutup sementara akhir pekan ini. Insiden nyaris fatal itulah yang mendorong terbentuknya jaringan VAAC di seluruh dunia, termasuk VAAC Darwin yang hari ini justru menjadi salah satu rujukan utama dalam menangani erupsi Anak Krakatau.

Di sinilah letak argumen ekonominya. Empat puluh empat tahun lalu, tanpa sistem peringatan dini yang memadai, risiko yang dihadapi bukan sekadar penerbangan tertunda, melainkan potensi kehilangan pesawat dan ratusan nyawa sekaligus. Hari ini, dengan kombinasi satelit cuaca, jaringan VAAC, dan protokol NOTAM yang terstandardisasi secara internasional, ancaman yang sama dapat dikelola menjadi penutupan yang terukur dan disesuaikan secara dinamis, diperpanjang persis selama benar-benar diperlukan dan dibuka kembali segera setelah data menunjukkan kondisi aman, tanpa perlu menutup seluruh sistem penerbangan nasional secara serampangan dalam waktu yang jauh lebih lama dari yang sebenarnya dibutuhkan. Teknologi pemantauan bencana, dengan kata lain, bukan sekadar infrastruktur keselamatan, melainkan juga infrastruktur ekonomi yang menekan skala kerugian akibat bencana alam yang tidak dapat dicegah.

Namun demikian, ongkos ekonomi ini tidak sepenuhnya hilang, hanya ditekan skalanya. Dalam kasus serupa akibat kabut asap kebakaran hutan pekan lalu, Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (INACA) Denon Prawiraatmadja menjelaskan bahwa gangguan penerbangan berbasis keterbatasan jarak pandang seperti ini mendongkrak biaya operasional maskapai lewat beberapa jalur sekaligus: konsumsi bahan bakar tambahan saat pesawat terpaksa holding, kompensasi keterlambatan kepada penumpang, refund tiket akibat pembatalan, hingga terganggunya rotasi pesawat dan kru yang berimbas ke jadwal penerbangan di rute lain. Pola biaya serupa berlaku pada gangguan abu vulkanik kali ini: sebanyak 170 pesawat yang terpaksa parkir inap semalam di apron Bandara Soekarno-Hatta bukan sekadar pemandangan, melainkan representasi pesawat dan kru yang kehilangan posisi jadwalnya, memicu efek berantai pembatalan pada penerbangan lanjutan di berbagai kota, seperti yang terjadi pada rute ke Bali, Pangkalpinang, dan Malang.

Dampak ini turut merembet ke lapisan ekonomi yang jauh lebih dekat dengan keseharian warga. Pelaksanaan Car Free Day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, misalnya, dipangkas satu jam lebih cepat dari jadwal semula pukul 10.00 menjadi pukul 09.00 WIB, dengan petugas Dinas Perhubungan meminta warga yang tengah berolahraga meninggalkan area demi menghindari paparan abu. Meski warga di sejumlah titik CFD lain di Jakarta tetap beraktivitas seperti biasa, pemendekan waktu semacam ini, apalagi jika episode serupa berulang dan membuat warga makin enggan beraktivitas di ruang terbuka, berarti berkurangnya jam berjualan bagi pedagang kaki lima dan pelaku UMKM yang selama ini menggantungkan omzet mingguannya pada keramaian acara semacam itu. Skalanya memang jauh lebih kecil dan tersebar dibandingkan kerugian industri penerbangan, tetapi menyentuh langsung denyut ekonomi akar rumput yang bergantung pada mobilitas warga di ruang publik, bukan hanya konektivitas antarkota lewat udara.

Bagi negara yang berada tepat di jalur cincin api Pasifik, gangguan berlapis semacam ini, dari langit hingga trotoar, bukan kejadian sekali waktu, melainkan risiko struktural yang akan terus berulang, baik dari Anak Krakatau, Merapi, maupun ratusan gunung berapi aktif lainnya di Indonesia.

Konsekuensinya, investasi pada teknologi mitigasi bencana semestinya dipandang bukan sebagai pos anggaran keselamatan semata, melainkan sebagai bentuk perlindungan terhadap produktivitas ekonomi nasional, mengingat sektor penerbangan dan logistik yang bergantung padanya menyumbang bagian penting dari mobilitas dan perdagangan domestik. Setiap perbaikan pada akurasi dan kecepatan deteksi abu vulkanik, betapa pun kecil kelihatannya, berarti setiap jam penutupan bandara yang dapat dipangkas, dan setiap jam itu diterjemahkan langsung menjadi kerugian ekonomi yang berhasil dihindari.

Empat puluh empat tahun setelah Boeing 747 nyaris jatuh di langit Jawa Barat, Indonesia masih berdiri di jalur yang sama antara gunung berapi dan jalur penerbangan tersibuknya. Bedanya, kali ini teknologi yang berjaga lebih dulu, memastikan setiap jam penutupan yang diambil benar-benar diperlukan, jauh sebelum abu vulkanik sempat mengambil lebih banyak waktu, biaya, dan risiko keselamatan daripada yang seharusnya.