103 Tahun Tamansiswa, Janji dan Kenyataan Ruang Kelas yang Membungkam

Guru Bimbingan dan Konseling SMP Muhammadiyah 1 Berbah.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Karunia Kalifah Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap bangsa besar, sebelum membangun masa depan, perlu menoleh ke cermin sejarahnya. Dan setiap bangsa yang ingin berdaulat, harus terlebih dahulu merdeka dalam cara berpikirnya. Pendidikan adalah tempat paling awal di mana kebebasan itu harus ditanamkan atau justru akan hilang selamanya.
Tanggal 3 Juli 2025 bukan hanya momentum seremonial. Bagi sejarah pendidikan Indonesia, ini adalah momen reflektif yang seharusnya mengguncang kesadaran kita bersama. Sebab tepat hari ini, Tamansiswa lembaga pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara genap berusia 103 tahun. Satu abad lebih sejak ia dilahirkan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang mendidik untuk mengatur, bukan membebaskan; untuk menundukkan, bukan menumbuhkan.
Namun di tengah perayaan ini patut kita tanyakan ulang secara jujur, apakah cita-cita besar itu masih hidup dalam sistem pendidikan kita hari ini, ataukah hanya tinggal catatan kaki dalam buku pelajaran sejarah?
Sekolah yang Terlalu Sibuk Menertibkan, Lupa Menyemai Jiwa
Datanglah ke ruang-ruang kelas kita. Lihat bagaimana murid-murid duduk berjajar seperti dalam jalur perakitan pabrik. Papan tulis menjadi panggung tunggal. Guru bicara, murid mencatat. Guru memberi tugas, murid mengerjakan. Murid menjawab soal, sistem memberikan nilai. Siklus berjalan. Tetapi makna seringkali tertinggal.
Setiap hari, ribuan anak pergi ke sekolah dengan tubuh yang hadir, tetapi jiwa yang absen. Mereka menjalani hari demi hari bukan karena rasa ingin tahu, tetapi karena kewajiban. Bukan karena cinta pada pengetahuan, tetapi karena takut gagal. Pendidikan menjadi rutinitas teknis yang diukur dengan angka, bukan pengalaman batin yang menumbuhkan makna.
Lebih parah lagi, anak-anak diajarkan sejak dini bahwa keberhasilan adalah soal kecepatan menyerap informasi dan ketepatan menjawab soal, bukan tentang keberanian bertanya, kemampuan berpikir mandiri, atau kepekaan terhadap realitas sekitarnya. Mereka belajar untuk menyenangkan sistem, bukan untuk memahami kehidupan.
Kita Punya Filsafat Pendidikan Sendiri, Tapi Malah Ditinggalkan
Yang ironis, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan model pendidikan yang kontekstual dan membebaskan. Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan kita sendiri, telah sejak awal merumuskan bahwa pendidikan adalah “tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak”. Bukan tempaan untuk menyeragamkan, apalagi instrumen untuk menjinakkan.
Sistem Among, gagasan Ki Hadjar yang menjadi pondasi Tamansiswa adalah bentuk paling manusiawi dari filosofi pendidikan Indonesia. Ia tidak sekadar metode, melainkan sebuah etika dan cara memanusiakan relasi dalam belajar. Guru diposisikan sebagai pamong bukan komando, tapi pembimbing. Anak bukan objek pelajaran, tetapi subjek pertumbuhan. Pendidikan tidak dimulai dari instruksi, tapi dari pengakuan terhadap kemanusiaan yang ada dalam setiap individu.
Filosofi ini lahir dari tanah Indonesia. Ia tidak mengimpor cara berpikir Barat, tapi meresapi jiwa Timur yang lembut namun tangguh. Among berpijak pada prinsip bahwa setiap anak memiliki kodrat alam (bakat bawaan) dan kodrat zaman (tantangan sosialnya), yang harus didampingi, bukan diarahkan secara seragam.
Namun hari ini, alih-alih menghidupkan kembali sistem Among, kita justru lebih percaya pada model-model kurikulum impor yang seringkali tercerabut dari konteks sosial budaya kita sendiri. Kita lebih rajin menyalin, tapi malas menggali. Kita lebih fasih menjelaskan kurikulum Cambridge atau IB, daripada menerapkan niteni, nirokke, nambahi yang dirumuskan oleh tokoh pendidikan nasional kita sendiri.
Kurikulum Merdeka, Tapi Jiwa Masih Dijajah
Beberapa tahun terakhir pemerintah telah meluncurkan Kurikulum Merdeka, sebuah upaya progresif untuk memberikan ruang kreativitas kepada guru dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid. Namun apakah semangatnya benar-benar merdeka?
Fakta di lapangan menunjukkan, banyak guru masih terpaku pada target nilai dan administrasi, sekolah masih dibebani dengan kejaran akreditasi, dan proses belajar masih berpusat pada penguasaan materi ujian. Anak-anak tetap dinilai berdasarkan angka dan ranking, bukan pada proses berpikir, kekuatan empati, atau integritas dirinya.
Tanpa filosofi pembebasan seperti Among, Kurikulum Merdeka hanya menjadi dokumen berganti nama. Perubahan kebijakan tidak akan mengubah sistem secara mendalam bila cara berpikir dan cara mendidik tetap terkungkung dalam paradigma kompetisi dan keseragaman.
Sistem Among, dengan pendekatan bertahap dan partisipatifnya, justru mampu menjadi roh dari Kurikulum Merdeka. Ia mendidik dengan memberi ruang: untuk berpikir, merasakan, dan berkreasi. Ia percaya pada proses, bukan hanya hasil. Ia menghargai keberagaman anak-anak sebagai kekayaan, bukan masalah yang harus diseragamkan.
Kita Takut Membebaskan Karena Takut Kehilangan Kendali
Pertanyaannya adalah mengapa kita enggan membebaskan? Mengapa sekolah tetap mempertahankan sistem yang kaku dan menekan?
Jawabannya mungkin lebih dalam dari sekadar masalah kurikulum. Dalam sistem yang menjadikan ketertiban sebagai ukuran keberhasilan, anak-anak yang bebas berpikir dianggap ancaman. Guru yang dialogis dianggap kurang tegas. Sekolah yang terlalu lentur dianggap tidak disiplin.
Kita ingin menciptakan generasi unggul, tapi takut memberi mereka ruang untuk bertumbuh. Kita ingin anak-anak kreatif, tapi terus membanjiri mereka dengan ujian. Kita ingin manusia yang tangguh, tapi terus melatih mereka untuk patuh.
Sistem Among sesungguhnya menantang cara berpikir seperti itu. Ia tidak mencetak manusia-manusia taat, melainkan membentuk manusia-manusia sadar. Dan mungkin karena itulah ia diabaikan, karena terlalu membebaskan untuk sistem yang gemar mengendalikan.
Tamansiswa Masih Hidup, Tapi Harus Diaktifkan Ulang
Di usia ke-103 ini, Tamansiswa bukanlah peninggalan sejarah. Ia adalah warisan hidup yang menunggu dihidupkan kembali. Bukan untuk dipuja, tapi untuk dipraktikkan. Bukan untuk dirayakan sesekali, tapi untuk dijadikan fondasi dalam menyusun kembali arah pendidikan nasional.
Membangun pendidikan yang membebaskan bukan utopia. Tapi ia membutuhkan keberanian untuk meninjau ulang sistem penilaian, mengubah pola relasi guru dan murid, dan menata ulang cara kita memandang tujuan pendidikan itu sendiri.
Apakah pendidikan hanya untuk mencetak pekerja siap pakai, atau untuk membentuk manusia utuh yang sadar akan dirinya, lingkungannya, dan tanggung jawab sosialnya?
Tamansiswa adalah Jalan Pulang
Jika kita ingin pendidikan Indonesia benar-benar hidup, maka saatnya kita pulang ke akar. Bukan untuk mundur ke masa lalu, tapi untuk melompat ke masa depan dengan pijakan yang kuat. Sistem Among menawarkan kerangka filosofis yang menggabungkan kebebasan, tanggung jawab, dan kesadaran. Ia tidak menolak teknologi, tapi menempatkan kemanusiaan sebagai pusat dari segalanya.
Tiga kata terakhir dari Ki Hadjar Dewantara tak boleh hanya jadi semboyan: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Ia harus menjadi etika hidup dalam setiap ruang kelas.
Di hari ulang tahun Tamansiswa yang ke-103 ini, mari kita berhenti bertanya apakah sekolah masih berjalan. Yang lebih penting ditanyakan apakah ia masih menumbuhkan? Apakah ia masih memerdekakan? Apakah ia masih memanusiakan?
Jika tidak, maka sekolah hanya menjadi tempat di mana manusia hadir, tetapi jiwanya dikosongkan perlahan hingga tidak tahu lagi bagaimana bermimpi, bertanya, atau menjadi dirinya sendiri.
