Anomali Cuaca Bikin Produksi Garam Lokal Merosot

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi garam (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi garam (Foto: Pixabay)

Pemerintah telah menyepakati untuk segera membuka keran importasi garam konsumsi sebanyak 75.000 ton dari Australia. Importasi garam ini dilakukan mengingat stok garam nasional saat ini turun drastis sehingga berimbas terhadap tingginya harga garam konsumsi di beberapa wilayah.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti, mengungkapkan turunnya stok garam disebabkan anomali cuaca. Anomali cuaca, kata Brahmantya mengakibatkan panen garam terlambat dan tidak merata.

"Saat ini anomali cuaca masih terjadi. Di beberapa lokasi kita punya penyuluh yang melaporkan," kata Brahmantya saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (28/7).

Petambak sedang membersihkan tambak garam. (Foto:  ANTARAFOTO/Basri Marzuki)
zoom-in-whitePerbesar
Petambak sedang membersihkan tambak garam. (Foto: ANTARAFOTO/Basri Marzuki)

Ia juga menyebutkan, saat ini produksi garam nasional Mei-Juli mengalami penurunan yaitu hanya bisa produksi rata-rata 6.200 ton. Padahal rata-rata produksi normal garam nasional setiap bulannya sebanyak 166.000 ton.

"Mei-Juni total produksi garam rakyat dan PT Garam 6.200 ton. Produksi garam rakyat normalnya 2,5 juta ton/tahun atau 166.000 ton/bulan. Curah hujan masih tidak normal," tuturnya.

Bagi Brahmantya, di saat kondisi cuaca seperti ini banyak petani yang memanen garamnya hanya empat hari saja. Padahal, secara normal panen garam membutuhkan waktu 10 hari.

"Masih hujan kadang panen cuman sedikit empat hari di panen karena normalnya 10 hari biar kadar airnya rendah," paparnya.