Kumparan Logo

Apindo: Larangan Penjualan Minol Bikin 7-Eleven Drop

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minuman beralkohol. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minuman beralkohol. (Foto: Pixabay)

PT Modern Internasional Tbk (MDRN) telah menentukan pilihan untuk menutup seluruh gerai 7-Eleven (Sevel) di Indonesia pada akhir Juni 2017 ini. Ada sejumlah masalah yang mendera gerak bisnis Sevel di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan salah satu penyebab tumbangnya Sevel karena adanya aturan pelarangan penjualan minuman beralkohol di minimarket, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015.

"Kebetulan Sevel di konsep awal cukup bagus menyajikan lifestyle, bisa kumpul-kumpul di situ. Saya enggak tahu percis, konon katanya menyebabkan drop, penjualan minol (minuman beralkohol) enggak boleh. Mulai mereka kehilangan salah satu kompetitif advatange (keuntungan) dibanding yang lain," ujar Hariyadi saat ditemui di kediaman Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Kompleks Perumahan Menteri, Jalan Widya Chandra, Jakarta, Senin (26/6).

Pelarangan penjualan minol ini kemudian berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. MDRN harus menanggung kerugian hingga Rp 447,93 miliar di kuartal I-2017. Setelah itu, Sevel tidak mampu bersaing dengan kompetitor lainnya.

Belum bayar pajak, 7-Eleven tutup. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Belum bayar pajak, 7-Eleven tutup. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

"Lihat ritel ini setelah Indomart dan Alfamart terkonsentrasi di beberapa titik saja, misalnya Circle K kuatnya di Bali, kliennya turis. Ini menyebabkan Sevel enggak bisa bertahan lebih lanjut karena dari segi timing sudah mulai bermasalah keuangan, (pembelian oleh) Charoen iya, tapi akhirnya mundur," paparnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tidak mau menjelaskan detil apa yang menyebabkan tumbangnya Sevel. Dia hanya menjawab diplomatis.

"Enggak ada lawannya convenience store di Indonesia, minimarket seperti Alfamart, Indomaret, dan lain-lain. Sementara kalau Sevel, dia cenderung masuk ke pemukiman. Bahkan beberapa ada yang izinnya rumah makan. Sementara, yang namanya convenience store dan minimarket kita yang berkembang, itu efisien sekali," timpal Darmin.