Fenomena Mahasiswa Menjelma Menjadi Pelacur Politik

WIKA ARISTA ADALAH SEORANG MAHASISWA PRODI ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA ANGKATAN 2018
Tulisan dari WIKA ARISTA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Istilah "pelacur politik" mungkin masih terdengar asing ditelinga sebagian orang. pasalnya, sebutan pelacur identik dengan mereka yang rela memuaskan nafsu orang lain demi mendapatkan imbalan uang atau semacamnya. tentu saja hal tersebut sangat bertolak belakang dengan mahasiswa yang katanya kaum terpelajar. kaum yang semua pemikiran dan tindakannya didasarkan atas fakta, teori, dan disertai dengan analisis argumentasi. fenomena politik terus bermunculan seiring bertambahnya pula kebutuhan. tak jarang, bila mahasiswa yang digadang-gadang akan menjadi penerus bangsa dan harapan bagi orang-orang yang jarang mendapatkan kesejahteraan, mulai terang-terangan menampakkan dirinya sebagai pelacur politik di tengah masyarakat. lebih parahnya lagi, sampai membawa embel-embel kampus tempatnya menimba ilmu. memang tidak ada salahnya bila mereka memilih jalan tersebut. karena euforia dari perpolitikan di negeri ini sudah menjadi hak setiap warga negara. dimana setiap orang berhak untuk memilih atau mendukung pilihannya tanpa dikekang sedikitpun. ditambah lagi, partisipasi seluruh rakyat dalam memilih sangatlah menentukan kualitas wakil rakyat maupun pemimpin yang terpilih.
akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwasanya pemahaman makna mengenai perpolitikan jangan sampai salah kaprah. kebanyakan mahasiswa yang dengan tega mencatut nama kampus menganggap politik sebagai kompetisi dan memilih berdasarkan emosional hanya demi sebuah kepentingan belaka. tak ayal, bila seringnya seliweran dipendengaran bahwa adanya politik praktis di kampus dan terdapat organisasi kampus yang ditunggangi oleh kepentingan politik sehingga terkesan seperti kacung para elit politik saja. mahasiswa yang semasa di dunia kampus, telah dihadapkan pada semangat pemuda dalam menuntut ilmu dan memupuk talenta yang dimiliki melalui kegiataan organisasi. sudah seyogyanya mengandalkan akal pikiran yang rasional dalam memilih dengan meninjau kapabilitas, integritas, dan profesionalitas wakil rakyat yang dipilihnya. dengan tujuan mengandalkan dunia perpolitikan dari kekejaman penguasa dan mendorong tercapainya keadilan untuk semuanya. bukan malah bangga mendukung jujungan politik sembari membawa atribut kampus. apalagi perbuataan yang menyalahi aturan tersebut pun akan menjerumuskan banyak masyarakat pada kebingungan.
bagaimana tidak? sedari dulu hingga saat ini masyarakat mungkin saja masih menaruh secercah kepercayaannya kepada pemuda kampus. pemuda kampus yang membawa masyarakat pada ketenangan dalam memilih, menjadi pelopor penengah dalam politik, dan memberi pandangan netralnya. tapi, kepercayaan itu sirna seiring hadirnya pelacur yang hanya sibuk memperjuangkan kepentingannya, telah memecah belah kesatuan bangsa dan mengadakan berbagai pertentangan yang seharusnya tidak ada. mereka sibuk menjajakan diri untuk membantu junjungannya menyebarkan ujaran kebencian pada kompetitornya dan melakukan segala hal untuk melayani elit politik pilihannya. dibalik munculnya fenomena pelacur politik yang mengikut sertakan atribut kampusnya. nyala optimisme akan mahasiswa yang menahan diri tak terjerumus pada hal tersebut, masih tetap ada. mahasiswa yang rela belajar dengan sepenuh hati untuk kemajuan negara di masa mendatang. bukan berarti mereka apatis dan anti politik, hanya saja mereka membentengi dari gemerlapnya kepentingan pragmatis. untuk kalian mahasiswa bermental pelacur, segera sadarlah dan jangan terlalu terbuai akan lampu yang kemudian hari akan hilang terangnya.
