Konten dari Pengguna

ASN Hanya Absen, Ngopi, Lalu Pulang? Aku Jawab dengan Inovasi dan Prestasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wiko Nurdian (wikonurdian) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sertifikat penghargaan Pegawai Teladan yang disandingkan dengan antarmuka aplikasi NUSA (Nomor Urut Surat Arsip) pada layar kerja. (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sertifikat penghargaan Pegawai Teladan yang disandingkan dengan antarmuka aplikasi NUSA (Nomor Urut Surat Arsip) pada layar kerja. (Foto: Dok. Pribadi)

Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WITA, tanganku baru berhenti mengetik ratusan baris kode yang kukerjakan sejak tadi pagi. Jari-jariku terasa pegal dan mata mulai perih karena terus bekerja tanpa henti.

Menyadari kondisi yang semakin tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan pekerjaan, aku memutuskan beristirahat sejenak.

Aku bangkit dari kursi yang mulai terasa hangat karena seharian menahan beban tubuhku, lalu melangkah ke pantry untuk menyeduh secangkir kopi.

Beristirahat sejenak sepertinya tak masalah, pikirku. Toh, waktu istirahat belum kugunakan. Sebab tadi aku hanya berhenti bekerja sekitar lima menit saja untuk salat Zuhur, kemudian langsung fokus kembali pada laptop.

Sambil menikmati kopi dan memeriksa barisan kode di layar laptop, tanganku memegang ponsel untuk mencari berita terkini.

Aku tersedak dan hampir menyemburkan kopi yang sedang kusesap ketika membaca berita tentang seorang anggota DPR yang menyatakan bahwa mentalitas ASN hanya 'absen, ngopi, lalu pulang'.

Aku paham betul bahwa sentilan anggota DPR itu ditujukan untuk oknum ASN di luar sana. Sebab tak dapat dipungkiri memang masih banyak ASN yang bekerja tidak profesional, menyalahgunakan wewenang, dan memberikan pelayanan yang kurang maksimal.

Meskipun demikian, entah mengapa aku seperti bisa mendengarkan suara itu secara langsung dan ditujukan kepadaku. Mungkin karena aku memang sedang menikmati secangkir kopi yang masih hangat?

Beberapa saat kemudian aku tersenyum. Aku yakin bahwa pernyataan dari anggota DPR tersebut tidak ditujukan kepadaku. Sebab, jangankan ngopi lalu pulang, waktu istirahat saja belum kugunakan.

Puluhan folder dan file berisi ribuan baris kode ini adalah buktinya. Kode-kode inilah yang nantinya akan menjadi sebuah aplikasi sebagai langkah nyata dari digitalisasi yang sedang kulakukan.

Aku memang memiliki dua target besar di sini, yaitu mewujudkan digitalisasi dan reformasi digital.

Sejauh ini aku sudah berhasil mendigitalisasi beberapa proses kerja dengan menyediakan berbagai aplikasi berbasis web.

Aplikasi tersebut antara lain digunakan untuk mengawasi keberadaan orang asing, mencatat tamu, memantau progres kegiatan, dan mengelola nomor surat.

Apa yang kulakukan ini sebenarnya kegiatan untuk menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang Pranata Komputer. Namun, tak disangka, ternyata langkah ini juga berhasil menjadi solusi efektif dari berbagai permasalahan yang ada di kantor ini.

Salah satu digitalisasi yang pernah kubangun berada di bidang persuratan. Inovasi ini hadir karena kegelisahanku melihat buku besar persuratan yang rentan rusak dan menyita banyak waktu.

Berawal dari kegelisahan itu, lahirlah sebuah aplikasi pengelola nomor surat berbasis web yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan aman.

Aplikasi tersebut kuberi nama NUSA, yang merupakan singkatan dari Nomor Urut Surat Arsip. Seperti namanya, NUSA hadir sebagai solusi digital untuk merombak total seluruh sistem penomoran surat yang masih manual dan memiliki banyak kelemahan.

Pimpinan merespons positif kehadiran inovasi ini. Melihat dampak efisiensi yang nyata, langkah cepat langsung diambil. NUSA pun diresmikan sebagai aplikasi yang secara penuh menggantikan sistem lama.

Kebijakan ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi sederhana sekalipun, jika didasari dengan asas kebergunaan, maka akan mendapat ruang dan apresiasi.

Kerja keras dan komitmen yang kujalankan akhirnya membuahkan hasil manis. Pada gelaran Analisis dan Evaluasi Kinerja akhir Desember 2025 lalu, aku dianugerahi penghargaan sebagai Pegawai Teladan atas Inovasi di Bidang Persuratan melalui Aplikasi Nomor Urut Surat Arsip (NUSA). Momen kebanggaan ini kian menguatkan keyakinanku bahwa dedikasi tak akan pernah mengkhianati hasil.

Aku sering tersenyum sendiri ketika mengingat kembali kenangan indah itu. Momen berharga saat aku, yang kala itu masih menyandang status sebagai CPNS, mampu membuktikan dedikasi hingga akhirnya dianugerahi penghargaan di tengah jajaran ASN senior.

Sejujurnya, aku sangat bangga dengan pencapaian tersebut. Jangankan meraih penghargaan, melihat aplikasi yang kurancang dapat digunakan saja sudah membuat dadaku membuncah.

Pengalaman tersebut menjadi bukti tak terbantahkan bahwa status sebagai CPNS, di salah satu wilayah timur Indonesia, bukan penghalang untuk menghadirkan karya dan dampak nyata.

Aku tersenyum tipis. Sentilan tentang 'ASN yang hanya absen, ngopi, lalu pulang' kini tak lagi terasa menusuk. Sebaliknya, sindiran itu seakan menjadi pengingat dan motivasi bagiku untuk terus membuktikan kinerja terbaik.

Aku menyadari bahwa semua inovasi yang telah kuhadirkan dan penghargaan yang kudapatkan bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang dalam melakukan digitalisasi dan reformasi digital yang telah kusematkan sebagai tujuan.

Sebab bagiku, menjadi ASN di era modern bukan tentang mempertahankan cara-cara lama yang nyaman, melainkan tentang keberanian untuk terus berinovasi dan memberi nilai tambah untuk organisasi.

Kembali ke cangkir kopi di mejaku yang kini mulai dingin.

Bagi seorang Pranata Komputer, secangkir kopi bukanlah simbol kemalasan, melainkan kawan setia di balik ribuan baris kode yang dirangkai demi mempermudah tugas.

Jadi, jika ada yang bertanya "apakah ASN hanya bisa datang dan ngopi?"

Jawabanku tegas: Kami memang menikmati kopi, tetapi kami juga menyajikan inovasi dan berprestasi!