Konten dari Pengguna

Hilangnya Sakralitas Ujian Skripsi: Dari Ruang Sidang ke Lini Masa

Wiku Aji Sugiri

Wiku Aji Sugiri

Dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wiku Aji Sugiri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi skripsi. Foto: Aewphoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi skripsi. Foto: Aewphoto/Shutterstock

Ujian skripsi dulunya dikenal sebagai momen sakral dalam perjalanan akademik seorang mahasiswa. Ujian skripsi adalah gerbang terakhir menuju gelar sarjana, sekaligus ruang pengakuan atas kemampuan intelektual yang ditempa selama bertahun-tahun. Namun, belakangan ini, kesakralan itu seakan memudar. Ujian skripsi kini kerap tampil bukan sebagai panggung intelektual, melainkan sebagai ajang selebrasi, bahkan lebih jauh telah menjadi “panggung pencitraan”.

Fenomena ini semakin terasa di era media sosial. Setiap periode sidang skripsi, lini masa kita mendadak dipenuhi dengan unggahan foto dan video mahasiswa bersama keluarga dan sahabat. Tidak jarang, nuansa yang tampak justru lebih mirip pesta pernikahan ketimbang ujian akademik. Selempang dengan nama lengkap dan gelar yang bahkan belum sah, buket bunga yang harganya tak main-main, hingga baliho mini yang menyerupai ucapan selamat untuk pejabat negara.

Pertanyaan mendasar, kapan sebenarnya gelar itu resmi disandang? Jawabannya jelas, setelah yudisium, ketika surat keputusan disahkan oleh pejabat berwenang di kampus. Maka, mengenakan selempang bergelar sebelum momen itu sejatinya adalah bentuk manipulasi simbolik. Sebuah gelar yang belum sah ditampilkan seakan sudah final.

Ada paradoks menarik dalam tren ini. Di luar ruang sidang, kita melihat euforia berlebihan, sementara di dalam justru sering terdengar keheningan. Tidak sedikit mahasiswa yang tampil percaya diri di depan kamera, tetapi gagap ketika ditanya mengenai substansi skripsinya. Mereka bingung menjelaskan alasan pemilihan metode penelitian, bahkan tidak mampu menguraikan kerangka teori yang digunakan.

Di sinilah letak keprihatinannya. Ujian skripsi yang seharusnya menguji ketajaman berpikir, justru berubah menjadi formalitas administratif. Sementara itu, selebrasi pasca-sidang berkembang menjadi sebuah "ritual wajib", seakan kelulusan tanpa pesta dianggap kurang sah.

Ilustrasi perayaan kelulusan. Foto: Shutter Stock

Apakah selebrasi itu salah? Tentu tidak. Perayaan adalah bagian dari budaya manusia. Ia menjadi ekspresi rasa syukur setelah melalui proses panjang dan penuh tantangan. Namun, persoalannya terletak pada kadar dan orientasi. Ketika selebrasi lebih megah daripada kualitas akademik, kita patut bertanya, apa sebenarnya makna menjadi seorang sarjana?

Fenomena ini tidak berhenti pada individu, melainkan merembes ke masyarakat luas. Sarjana dipersepsikan bukan lagi sebagai sosok yang berilmu dan mampu memberi kontribusi, melainkan sekadar gelar yang bisa dipamerkan. Gelar menjadi komoditas simbolik, bukan tanda kompetensi.

Lebih jauh, budaya selebrasi ini berpotensi mendorong hedonisme akademik. Mahasiswa terdorong untuk mengejar pengakuan sosial lewat kemewahan perayaan, alih-alih menekankan substansi intelektual. Bagi sebagian keluarga, muncul pula beban sosial—merasa harus mengikuti tren selebrasi agar tidak dianggap kurang mampu atau kurang berprestasi.

Ironisnya, di tengah gegap gempita ucapan selamat di media sosial, masih ada lulusan yang kesulitan menjawab wawancara kerja sederhana. Ada pula yang tidak mampu menulis laporan portofolio (curriculum vitae) dengan baik, meski baru saja melewati proses penelitian. Ketimpangan ini mencerminkan adanya jurang antara gelar formal dan kompetensi riil.

Dalam tradisi akademik, sarjana bukan sekadar status sosial, melainkan amanah. Ia adalah simbol bahwa pemiliknya telah ditempa dalam disiplin ilmu tertentu, mampu berpikir kritis, dan memiliki tanggung jawab moral untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Jika gelar hanya dipandang sebagai ornamen untuk foto dan perayaan, maka kita tengah mengikis makna luhur pendidikan tinggi. Kampus yang semestinya menjadi kawah candradimuka intelektual, berisiko berubah menjadi panggung seremonial belaka.

Ilustrasi dosen Pria. Foto: Shutter Stock

Di sinilah peran dosen, pengelola kampus, bahkan keluarga menjadi penting. Kampus perlu mengembalikan marwah ujian skripsi sebagai ruang dialog akademik. Bukan sekadar menilai hasil tulisan, tetapi juga menguji proses berpikir mahasiswa. Ujian skripsi harus menjadi arena di mana mahasiswa diuji kematangan intelektualnya, bukan hanya kemampuan bertahan dari gugup.

Sementara itu, keluarga dan masyarakat juga perlu menata ulang cara pandang. Perayaan kelulusan boleh saja, tetapi hendaknya proporsional. Tidak perlu terjebak pada glamoritas yang justru mengaburkan makna perjuangan akademik itu sendiri.

Mahasiswa, dengan segala kreativitasnya, tentu sah-sah saja merayakan momen penting. Tetapi ada baiknya mereka juga mulai menggeser fokus dari pencitraan ke substansi. Media sosial bisa menjadi ruang berbagi inspirasi, bukan sekadar ajang pamer kemewahan. Bayangkan jika unggahan mahasiswa bukan hanya foto dengan bunga dan baliho, tetapi juga ringkasan penelitian yang dikemas menarik. Bukankah itu akan jauh lebih bermanfaat?

Akhirnya, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah ujian skripsi masih layak disebut panggung intelektual, atau sudah bergeser menjadi ajang pencitraan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan wajah pendidikan tinggi kita ke depan. Jika kita membiarkan ujian skripsi sekadar jadi perayaan seremonial, maka pendidikan hanya akan melahirkan gelar, bukan keilmuan.

Namun, jika kita kembali menegakkan makna sejatinya bahwa skripsi adalah wujud latihan berpikir, meneliti, dan berkontribusi, maka sarjana akan kembali pada fitrahnya. Ia bukan hanya orang yang diakui karena gelarnya, melainkan pribadi yang diakui karena pengetahuan, integritas, dan manfaatnya bagi masyarakat.