Natal di Era Media Sosial: Merayakan Makna atau Mengejar Pengakuan?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Wilda A Siallagan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Natal merupakan momen yang identik dengan kasih, kedamaian, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Namun, di era media sosial, perayaan Natal sering kali juga menjadi kesempatan untuk membagikan foto pohon Natal, hadiah, pakaian baru, hingga momen makan bersama. Hal ini tidak salah, tetapi muncul pertanyaan: apakah kita merayakan Natal untuk menikmati maknanya atau sekadar mendapatkan pengakuan dari orang lain?
Media sosial memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk membagikan kebahagiaan. Foto keluarga, ucapan Natal, dan kegiatan berbagi dapat menjadi cara untuk menyebarkan sukacita. Akan tetapi, ketika jumlah suka, komentar, dan perhatian menjadi ukuran kebahagiaan, makna perayaan berisiko bergeser dari ketulusan menjadi keinginan untuk terlihat sempurna di hadapan orang lain.
Fenomena ini juga dapat mendorong gaya hidup konsumtif. Sebagian orang mungkin merasa perlu membeli pakaian, dekorasi, atau hadiah mahal agar perayaan mereka terlihat menarik seperti unggahan orang lain. Padahal, kebahagiaan Natal tidak seharusnya ditentukan oleh harga barang atau kemewahan sebuah perayaan. Kajian tentang perilaku konsumsi saat Natal juga menunjukkan bahwa kegiatan berbelanja dan pemberian hadiah memiliki makna sosial yang dapat memengaruhi cara orang merayakan hari tersebut.
Sumber foto: Getty Images
Menurut saya, menggunakan media sosial saat Natal bukanlah sesuatu yang perlu dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak. Membagikan foto kebersamaan boleh saja, selama kita tidak melupakan orang-orang yang hadir di sekitar kita hanya demi mendapatkan gambar yang sempurna untuk diunggah.
Natal juga seharusnya menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga, memaafkan, membantu orang yang membutuhkan, dan menghargai kebersamaan. Tindakan sederhana seperti menemani keluarga, mengunjungi kerabat, atau berbagi dengan sesama dapat memberikan makna yang lebih mendalam daripada sekadar unggahan yang memperoleh banyak perhatian.
Selain itu, kita perlu menyadari bahwa kehidupan yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan kenyataan. Karena itu, kita tidak perlu membandingkan perayaan sendiri dengan unggahan orang lain. Setiap keluarga memiliki keadaan dan cara merayakan Natal yang berbeda, dan kesederhanaan bukan alasan untuk merasa kurang bahagia.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah sarana, sedangkan makna Natal terletak pada kasih dan ketulusan yang kita tunjukkan. Mari menjadikan Natal bukan sekadar momen untuk tampil menarik di dunia digital, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Sebab, Natal yang bermakna tidak diukur dari seberapa banyak orang melihat unggahan kita, tetapi dari seberapa nyata kasih yang kita berikan.
