Konten dari Pengguna

"Ngawiti: Warisan Leluhur yang Masih Hidup di Jantung Desa Haregoretno"

M Wildan Dzil azmi

M Wildan Dzil azmi

Salam kenal! Saya M Wildan Dzil Azmi, mahasiswa IAINU Tuban dan staf pengajar di Pesantren Khairunnas Tuban. Blog ini saya buat untuk berbagi pengetahuan dan insight seputar dunia keagamaan dan pesantren, semoga bermanfaat untuk Anda.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Wildan Dzil azmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Sandingan tradisi Ngawiti. (sumber: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Sandingan tradisi Ngawiti. (sumber: dokumentasi pribadi)

TUBAN — Tradisi Ngawiti, salah satu kearifan lokal masyarakat Jawa, kembali dihidupkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAINU Tuban Kelompok 5. Bertempat di area kolam renang Desa Haregoretno, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, prosesi Ngawiti digelar pada Sabtu (19/7) sebagai simbol doa dan harapan sebelum memulai program kerja KKN.

Dalam bahasa Jawa, Ngawiti berarti “memulai”. Bagi masyarakat Haregoretno, Ngawiti merupakan tradisi spiritual untuk mengawali setiap kegiatan besar dengan permohonan kepada Sang Maha Kuasa agar diberi keselamatan, kelancaran, dan keberkahan. Tradisi ini mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, serta wujud penghormatan terhadap warisan leluhur yang masih dijaga hingga kini.

Koordinator KKN Kelompok 5, M. Asyroful Anam, menjelaskan bahwa pelaksanaan Ngawiti menjadi cara mereka menunjukkan respek terhadap budaya masyarakat setempat.

“Kami ingin memulai KKN ini dengan baik, menghargai tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Ngawiti menjadi simbol doa kami agar semua program berjalan lancar, bermanfaat, dan mendapat restu dari masyarakat serta Tuhan,” jelasnya.

Kegiatan tersebut juga mendapat sambutan hangat dari tokoh masyarakat setempat. Sesepuh desa, Mbah Kasbon, menyampaikan apresiasi atas inisiatif para mahasiswa yang telah menghidupkan kembali tradisi lokal.

“Ini bukan sekadar acara simbolis, tapi pengingat bahwa adat dan tradisi leluhur masih relevan dan patut dihormati,” ujar Mbah Kasbon.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN IAINU Tuban tidak hanya melaksanakan pengabdian masyarakat, tetapi juga turut melestarikan budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.