Konten dari Pengguna

Perempuan, Dirimu Sudah Cukup dan Itu Indah

M Wildan Dzil azmi

M Wildan Dzil azmi

Salam kenal! Saya M Wildan Dzil Azmi, mahasiswa IAINU Tuban dan staf pengajar di Pesantren Khairunnas Tuban. Blog ini saya buat untuk berbagi pengetahuan dan insight seputar dunia keagamaan dan pesantren, semoga bermanfaat untuk Anda.

·waktu baca 3 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Wildan Dzil azmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Pexels / [sunduss07].
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Pexels / [sunduss07].

Era digital membuat akses terhadap informasi dan layanan daring menjadi mudah dan cepat. Media sosial telah menjadi cermin sekaligus kompas baru bagi banyak perempuan. Sayangnya, seringkali cermin ini memantulkan ilusi: standar kecantikan yang sempit, pencapaian yang tidak sepenuhnya nyata (karena telah dipoles), serta menampakkan kehidupan yang sempurna. Tanpa disadari, pengaruh dari media sosial menimbulkan dampak: banyak perempuan mulai menilai dirinya dari jumlah likes, followers, atau filter kamera.

Padahal, Allah telah menciptakan setiap manusia, termasuk perempuan dalam bentuk paling sempurna.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ۝٤

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.(QS. At. Tin: 4).

Namun, mengapa banyak perempuan zaman ini merasa dirinya tidak cukup? Tidak cukup cantik, tidak cukup langsing, tidak cukup menarik, bahkan tidak cukup layak untuk dicintai. Jawabannya, terletak pada kurangnya self-love (Cinta terhadap Diri Sendiri), self-love bukan bentuk egoisme, melainkan penerimaan dan penghargaan terhadap diri sebagai ciptaan Allah.

Self-Love Bukan Kesombongan

Self-love bukan berarti menolak kritik dan merasa paling benar. Sebaliknya, self-love adalah mengenal diri sendiri, menerima kekurangan, dan mensyukuri kelebihan, sembari terus berproses membentuk pribadi yang lebih baik. Seorang perempuan yang benar-benar mencintai dirinya secara sehat, ia tak mudah goyah oleh perbandingan atau pengakuan dari luar.

Dalam kitab Arba'in Nawawi karya Syaikh Abu Zakaria Muhyiddin an-Nawawi, terdokumentasi hadis Rasulullah:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah satu dari kalian tidak (disebut) beriman (secara sempurna), hingga mencintai untuk saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa mencintai diri sendiri merupakan langkah awal sebelum mencintai orang lain.

Tantangan Media Sosial

Instagram dan TikTok adalah dua platform media sosial populer yang tak jarang menampilkan "kehidupan impian", namun jarang menunjukkan air mata, perjuangan, atau luka batin. Maka, perempuan hendaknya cerdas dalam menyaring informasi dan sadar bahwa validasi sesungguhnya bukan berasal dari komentar netizen.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ

Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain”. (QS. An-Nisa: 32).

Ayat di atas mengajarkan bahwa setiap individu, termasuk perempuan mempunyai keindahannya masing-masing; fisik, akhlak, ilmu, atau bahkan pengaruh. Fokus membandingkan hanya akan membuat diri semakin lelah dan menghilangkan rasa syukur.

Membangun Self-Love yang Sehat

  1. Mulai dengan syukur: Sadari bahwa tubuh, pikiran, dan waktumu adalah nikmat yang luar biasa.

  2. Berhenti membandingkan: Tidak ada kehidupan yang sempurna. Bahkan perempuan yang terlihat "ideal" di media sosial pun pasti punya luka dan perjuangan.

  3. Jaga hubungan dengan Allah: Bentuk self-love tertinggi adalah keyakinan bahwa kita dicintai oleh pencipta kita.

  4. Menempatkan diri pada lingkungan yang positif: Teman yang menguatkan, bukan menjatuhkan, akan menumbuhkan rasa percaya diri.

Penutup

Self-love bukan sekadar tren, melainkan bagian penting dalam merawat jiwa. Di tengah bisingnya kehidupan digital yang menyamarkan makna cantik dan berharga, perempuan harus kembali pada jati dirinya sebagai hamba Allah yang mulia dan dimuliakan. Sebab, kecantikan sejati terpancar dari hati yang tenang, penuh syukur, dan dipenuhi iman.

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّلِحَةُ

"Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling indah adalah wanita shalihah." (HR. Muslim).

Tulisan ini adalah upaya kecil penulis dalam menyuarakan ide: bahwa setiap perempuan berhak mencintai dirinya sendiri dengan cara yang sehat. Sebagai penulis yang masih belajar, saya sangat terbuka terhadap saran dan masukan agar ke depan tulisan ini bisa lebih baik dan bermakna. Terima kasih sudah membaca.