Konten dari Pengguna

Sejarah Perkembangan Aksara Hangeul Korea dan Keunikannya

Wildan Subekti

Wildan Subekti

Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wildan Subekti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: https://unsplash.com/photos/WD6BHszDPzE
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: https://unsplash.com/photos/WD6BHszDPzE

Korea Selatan dan Korea Utara merupakan dua negara yang terletak di Semenanjung Korea tepatnya berada di wilayah kawasan Asia Timur. Secara geografis kedua negara ini sangat penting karena Semenanjung Korea terletak di antara tiga negara besar yakni Cina, Jepang, dan Rusia. Sebagian besar wilayahnya merupakan pegunungan yang menjulang tinggi akan tetapi hasil hutan yang dihasilkan sangat kecil dan miskin akan sumber daya alam. Saat ini Korea Selatan sebagai salah satu negara maju, sedang tumbuh dan berkembang memasuki pasar dunia melalui industri musik hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat masyarakat dunia khususnya Indonesia yang ingin mengunjungi Korea Selatan untuk berlibur, melanjutkan studi, bekerja, dan kegiatan lainnya.

Namun jika kamu ingin mengunjungi negara ini setidaknya kamu harus menguasai Bahasa Korea yaitu Hangeul. Berbicara mengenai Bahasa Korea, tahukah kamu bagaimana bahasa ini terbentuk? Siapa pembuat aksara Hangeul? Untuk itu artikel ini akan mengupas bagaimana munculnya aksara Hangeul sebagai Bahasa Korea hingga saat ini.

Awal Mula

Hangeul (한글; dibaca Hangul) atau Joseon-geul di Korea Utara merupakan alfabet Korea yang diciptakan oleh Raja Sejong Yang Agung (1397-1450) pada tahun 1443. Dia merupakan raja keempat dari Dinasti Joseon yang memerintah pada masa tersebut. Pada mulanya sebelum Hangeul diciptakan, masyarakat Korea pada masa itu menggunakan huruf karakter Cina dalam kehidupan sehari-hari. Huruf karakter tersebut memiliki jumlah yang sangat banyak, rumit dan sulit untuk dipelajari oleh masyarakat Korea. Berangkat dari hal tersebut Raja Sejong dan beberapa ilmuwan akhirnya membuat Sistem Alfabet Korea yang kini disebut dengan Hangeul atau Hangul.

Patung Raja Sejong. Sumber foto: https://unsplash.com/photos/KMJbSDVWNZY

Sistem Alfabet Hangeul terdiri atas bunyi konsonan dan vokal. Pada saat pertama kali dibuat, Hangeul mempunyai 17 bunyi konsonan dan 11 bunyi vokal. Penggunaan sistem alfabet di masa itu dapat langsung dipelajari oleh semua golongan manapun. Sampai saat ini Hangeul modern memiliki 19 bunyi konsonan dan 21 bunyi vokal.

Bentuk Aksara Hangeul

Dalam sistem Hangeul Korea, bunyi vokal terdiri dari vokal dasar dan vokal perluasan. Bunyi vokal dasar memiliki 10 bunyi antara lain (a),ㅑ (ya),ㅓ (eo),ㅕ (yeo), ㅗ (o),ㅛ (yo), ㅜ (u), ㅠ (yu), ㅡ (eu) danㅣ (i). Kemudian bunyi vokal perluasan memiliki 11 bunyi yaitu (ae), ㅒ(yae), ㅔ (e), ㅖ (ye), ㅘ (wa) dan ㅙ (wae), (oe), ㅝ (wo), ㅞ (we), ㅟ (wi) dan ㅢ (eui).

Kemudian untuk bunyi konsonan memiliki 14 konsonan dasar dan 5 konsonan ganda. Untuk konsonan dasar meliputi (g/k), ㄴ (n), ㄷ (d), ㄹ (r/l), ㅁ (m), ㅂ (b/p) dan ㅅ (s), ㅈ (j/c), ㅊ (ch),ㅋ (kh), ㅌ (th), ㅍ (ph), ㅎ (h) danㅇ (ŋ/ng). Sedangkan untuk konsonan ganda antara lain yaituㄲ (kk), ㄸ (tt).ㅃ (pp), ㅆ (ss) dan ㅉ (jj).

Keunikan Sistem Alfabet Hangeul

Keistimewaan Hangeul terletak pada humanitarianisme yang tercermin dalam alfabetnya, hal tersebut menjadikan Hangeul sebagai pencapaian penemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Humanisme yang tercermin dalam Hangeul diinterpretasikan saat Raja Sejong mendidik rakyatnya tanpa memandang jenis kelamin dan kelas.

Selain itu sistem alfabet Hangeul diperingati setiap 9 Oktober sebagai “Hangeul Day”. Hangeul Day menjadi hari libur nasional Korea yang dirayakan setiap tahunnya. Sejarah tentang Hangeul Day juga dapat dilihat dari jurnal riset yang diterbitkan oleh Joseon Language Society pada tahun 1927.