Kritik Tidak Menjamin Solusi?

Mahasiswa S1 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
Tulisan dari Faiz Wildan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini tengah terjadi fenomena konten kreator muda yang memberikan kritik kepada daerah lampung namun malah mendapatkan ancaman dan bahkan tuntutan oleh pemerintah daerah tersebut untuk men-take down video kritikan yang telah dia lontarkan. Kasus ini dimulai dari unggahan video di kanal sosial media kemudian unggahan konten kreator tersebut mulai viral dan diberitakan serta diperjelas kronologinya pada laman unggahan akun twitter @JS_Khairen, @eradotid, dan banyak akun-akun lainnya. Dalam video tersebut memberikan kritik tersirat kepada pemerintah daerah mengenai kondisi yang sebenarnya terjadi dan masyarakat pun juga mulai bertanya-tanya “kemanakah anggaran daerah dialirkan?”.
Apakah pemerintah anti kritik? Kita pernah mendengar bahwa kritik memiliki tujuan untuk menilai, mengevaluasi, meningkatkan, dan memperbaiki sesuatu yang dianggap kurang. Kritik sendiri sebenarnya juga tidak asal dilontarkan dari satu dua mulut tetapi juga memberikan tujuan yang baik dan dapat membangun pula. Realitanya tidak semudah definisi, kebanyakan kritik-kritik yang dilontarkan malah tidak ditanggapi dengan baik oleh pemerintah seakan-akan pemerintah tidak memberikan kesempatan pada masyarakat untuk berpendapat terhadap hasil/Tindakan yang telah dijalankan dan mereka berusaha untuk membuat kita bungkam merenung diam tidak berkutik sama sekali atas semua tindakan/kebijakan yang telah dijalankan. Sebenarnya kasus serupa juga sangat banyak, baik terhadap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat misalnya seperti pengesahan UU ciptaker tempo hari lalu yang menyulut api kritikan dari masyarakat karena dianggap memberatkan dan hanya menguntungkan sebelah pihak.
Sejatinya dengan viralnya kasus kritik terhadap daerah Lampung kemarin, memberikan angin segar bagi warga lampung seperti mulai banyaknya perbaikan-perbaikan jalan yang rusak parah. Pemerintah seperti langsung melakukan tindakan setelah diviralkan tentang kondisi daerah yang cukup mengenaskan. Namun, dengan viralnya kasus ini memberikan efek pisau bermata dua kepada konten kreator yang telah mengunggah video kritik tersebut, dia mendapatkan ancaman hingga tuntutan hukum untuk bertanggung jawab atas kritikan membangun yang telah dia buat. Dengan adanya kasus ini seakan-akan membuat kita berpikir bahwa “Kritik bukanlah hal yang tepat dan viral adalah jalan yang benar pada kondisi saat ini”.
Pada akhirnya kasus ini tetap berjalan dan belum memiliki hasil. Seharusnya pemerintah membuka mata terhadap kritikan-kritikan seperti ini dan mulai melakukan evaluasi untuk memecahkan masalah bukannya untuk lepas tangan tidak ingin memegang tanggungan dan tidak ingin disalahkan.
