Luka Cinta Tak Selalu Sembuh Sendiri: Mengenal Trauma Percintaan

Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala program studi digital business management
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari William Kasno Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Zahrah, Alifah & Badriyah dalam jurnal Mengatasi Trauma Percintaan: Proses Penyembuhan untuk Kesehatan Mental (Jurnal Afeksi, 2024), trauma percintaan adalah salah satu bentuk luka psikologis yang paling sering diabaikan. Banyak orang mengira “move on” cukup dengan waktu, padahal penyembuhan hati jauh lebih kompleks daripada sekadar melupakan seseorang.
Trauma percintaan muncul ketika hubungan romantis meninggalkan bekas emosional yang dalam — bisa karena pengkhianatan, kekerasan verbal, manipulasi, atau penolakan berat. Akibatnya, seseorang bisa mengalami ketakutan untuk membuka diri lagi, cemas berlebihan, atau bahkan merasa tidak layak dicintai.
Penelitian ini mengungkap beberapa tahapan penyembuhan yang efektif:
Mengenali dan menerima luka — bukan menyangkal atau pura-pura kuat.
Mengembalikan harga diri — berhenti menyalahkan diri atas kegagalan cinta.
Menetapkan batas (boundaries) — tahu kapan harus berhenti dan menjaga diri.
Mencari dukungan sosial atau terapi profesional — karena tidak semua luka bisa disembuhkan sendiri.
Banyak orang berpikir luka hati hanya soal emosi, padahal dampaknya bisa menjalar ke fisik: sulit tidur, kehilangan semangat, hingga menurunnya fokus belajar atau kerja. Di sinilah pentingnya memandang cinta tidak sekadar urusan hati, tapi juga kesehatan mental.
Cinta yang gagal bukan akhir, melainkan proses untuk belajar mencintai diri sendiri lebih dulu. Karena saat kamu sembuh, kamu tak lagi mencari cinta untuk mengisi kekosongan — tapi untuk berbagi kebahagiaan yang sudah kamu miliki.
