Konten dari Pengguna

Labubu dan Budaya Tren: Mengapa Boneka Kecil Ini Bisa Jadi Simbol Gengsi Baru

William Situmorang

William Situmorang

Siswa Penabur Junior College Kelapa Gading

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari William Situmorang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Labubu dengan model yang mirip, tetapi memiliki ukuran kecil. Foto dari penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Labubu dengan model yang mirip, tetapi memiliki ukuran kecil. Foto dari penulis.

Saya sebagai remaja yang sering aktif di TikTok, Instagram, atau bahkan marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, saya sudah tidak asing lagi dengan sosok kecil bermuka lucu tapi sedikit menyeramkan ini yaitu Labubu. Dari video “unboxing” yang memenuhi FYP saya, sampai dengan momen orang rela antri berjam-jam demi satu figur, rasanya fenomena Labubu sedang ada di puncak popularitasnya. Namun, yang menarik bukan hanya bentuk bonekanya yang unik, tapi juga bagaimana Labubu berubah jadi simbol tren baru, menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar mainan. Labubu sudah menjadi bagian dari budaya pop dan bahkan, bagi sebagian orang, menjadi simbol status dan gaya hidup.

Di antara gelombang tren digital, Labubu hadir di titik pertemuan antara hobi, gaya hidup, dan pencarian identitas. Banyak orang yang mungkin awalnya tidak tahu apa itu Pop Mart, kini jadi hafal istilah seperti blind box, rare edition, dan limited series. Fenomena ini bukan sekadar soal boneka kecil yang lucu, tapi tentang bagaimana anak muda Indonesia ikut terhisap dalam arus budaya koleksi global di mana “punya yang langka” terasa lebih berharga daripada sekadar “punya yang bagus”.

Dari Rak Koleksi ke Timeline Media Sosial

Asal mula Labubu sendiri datang dari karya seniman Hong Kong bernama Kasing Lung. Ia menciptakan karakter dengan ekspresi khas, yaitu gigi mencuat, mata bulat, dan senyum nakal yang kemudian diadaptasi oleh Pop Mart, sebuah brand mainan yang dikenal dengan sistem blind box-nya. Di sinilah awal tren bermula, dimana setiap pembeli tidak tahu figur mana yang akan mereka dapat sampai kotak dibuka. Konsep ini membuat sensasi “unboxing” menjadi bagian penting dari keseruan.

Di Indonesia, popularitas Labubu meningkat pesat dalam waktu singkat. Awalnya hanya dikenal di kalangan kolektor mainan, tapi berkat media sosial, kini semua orang tahu tentangnya. Video orang membuka kotak Labubu, bereaksi saat mendapatkan versi langka, atau menata koleksinya di rak, dengan cepat menyebar di TikTok. Dalam dunia yang haus akan tren dan validasi digital, Labubu pun berubah menjadi objek visual yang unik, lucu, dan ‘pamer-able’.

Eksklusivitas dan Gengsi di Balik Koleksi

Salah satu alasan kenapa Labubu begitu menarik adalah faktor kelangkaannya. Beberapa edisi hanya diproduksi dalam jumlah terbatas, bahkan ada yang hanya muncul sekali dalam satu seri. Efeknya? Harga Labubu tertentu bisa melonjak hingga jutaan rupiah di pasar reseller. Di titik inilah, Labubu berubah dari sekadar koleksi menjadi simbol gengsi.

Sama seperti sepatu edisi terbatas atau tas desainer, memiliki Labubu langka memberi rasa “berbeda”. Ada kebanggaan tersendiri saat seseorang bisa memamerkan versi yang jarang dimiliki orang lain. Di kalangan pelajar dan mahasiswa, hal ini bahkan mulai menjadi semacam status simbol baru, sesuatu yang membuat mereka terlihat “up to date” dan punya selera tinggi.

Namun di balik rasa senang itu, tersimpan sisi lain, yaitu tekanan sosial. Banyak yang akhirnya membeli bukan karena benar-benar suka, tapi karena takut ketinggalan tren. FOMO (Fear of Missing Out) membuat orang terdorong untuk ikut-ikutan. Mereka mungkin tidak tahu asal-usul Labubu, tapi ikut antre karena semua teman mereka juga melakukannya. Dan disinilah terlihat bagaimana tren konsumtif bisa tumbuh hanya karena dorongan ingin diakui.

Media sosial dan Budaya Pamer yang Meningkat

Hal yang membedakan tren seperti Labubu dengan budaya flexing yang lebih terang-terangan adalah bentuknya yang lebih halus dan tersamar. Tidak ada caption “mahal” atau “limited edition”, tapi cukup dengan foto Labubu berpose di meja belajar atau rak kamar, pesan itu sudah tersampaikan: “Aku bagian dari tren ini.” Budaya pamer yang meningkat ini berjalan di bawah kesadaran kita, dan sering kali terlihat wajar. Namun, di balik keindahan estetiknya, media sosial memperkuat rasa ingin diakui dan itulah yang membuat tren ini terus hidup.

Labubu digantung di tas "nike elite" yang lagi trending saat ini juga.Foto dari penulis.

Setiap kali seseorang mengunggah video “unboxing” dan mendapat ribuan likes, muncul kepuasan instan yang mirip dengan efek validasi. Dan semakin banyak perhatian yang didapat, semakin kuat keinginan untuk menambah koleksi. Ini adalah siklus yang tidak selalu disadari, tapi sangat nyata di era digital saat ini. Menariknya, banyak yang menganggap Labubu bukan sekadar mainan, tapi manifestasi kecil dari diri mereka sendiri yang lucu, aneh, dan kadang menyeramkan, tapi tetap disukai banyak orang. Hal ini pun mengakibatkan permintaan untuk figur labubu banyak meningkat dimana-mana.

Lebih dari Sekedar Mainan

Meski begitu, kita tidak bisa menutup mata bahwa Labubu juga punya sisi positif. Di tengah tren konsumtif yang sering dikritik, bagi sebagian orang, terutama bagi pelajar seperti saya Labubu justru jadi bentuk ekspresi diri yang sederhana. Banyak teman saya yang menggantung Labubu kecil di tas sekolah atau tas olahraga, bukan hanya untuk bergaya, tapi karena bentuknya unik dan lucu. Ada kesenangan tersendiri saat melihat gantungan itu berayun di sisi ransel, seolah jadi simbol kecil dari kepribadian pemiliknya.

Selain itu, fenomena ini juga mengajarkan saya untuk melihat tren dari sudut pandang yang lebih positif. Kadang, memiliki sesuatu bukan selalu untuk pamer, tapi tentang menghargai keunikan dan kreativitas di baliknya. Labubu, bagi saya, bukan hanya benda koleksi, tetapi aksesoris yang membuat keseharian terasa lebih menarik. Jadi, tidak masalah mengikuti tren, selama kita tahu alasannya dan tidak menjadikannya alat pembuktian sosial. Karena pada akhirnya, hal yang paling penting bukan seberapa mahal barang yang kita punya, tapi bagaimana kita menikmatinya dengan cara kita sendiri.

Contoh kolaborasi figur labubu dengan perusahaan coca cola. Foto dari penulis.

Pada akhirnya, Labubu bukan sekadar boneka kecil. Labubu adalah simbol bagaimana budaya pop, media sosial, dan tren manusia saling bertemu. Tren datang dan pergi, tapi nilai dari setiap hal yang kita sukai tetap bergantung pada niat di baliknya. Mungkin sudah saatnya kita menikmati sesuatu bukan karena ingin dilihat punya, tapi karena benar-benar menyukainya.