Konten dari Pengguna

Metode Penugasan: Trik Simpel Biar Kerja di Dapur Kafe Nggak Muter-Muter

William Susanto

William Susanto

Saya merupakan mahasiswa S1 di universitas pamulang.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari William Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi: Seorang barista fokus meracik espresso di balik mesin kopi. Saat orang ditempatkan di posisi yang paling ia kuasai, kerja jadi lebih cepat dan hasilnya lebih rapi. (sumber: Pexels/Mizuno K)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi: Seorang barista fokus meracik espresso di balik mesin kopi. Saat orang ditempatkan di posisi yang paling ia kuasai, kerja jadi lebih cepat dan hasilnya lebih rapi. (sumber: Pexels/Mizuno K)

Waktu pertama kali denger mata kuliah Riset Operasi, jujur saya sempat mikir, “ini pelajaran buat apaan sih di dunia nyata?” Penuh matriks, penuh angka, kayaknya cuma relevan buat yang suka hitung-hitungan doang. Tapi makin ke sini, saya sadar satu topik di dalamnya ternyata related banget sama kehidupan sehari-hari, bahkan sama tempat sesederhana kafe langganan kita: metode penugasan, atau orang sering nyebutnya assignment problem. Intinya sih sederhana. Metode ini soal gimana caranya menempatkan orang ke posisi yang paling cocok, biar hasil kerjanya paling efisien. Nggak perlu nambah orang, nggak perlu nambah modal, cukup nata ulang siapa ngerjain apa.

Coba bayangin dapur sebuah kafe kecil. Ada yang jago banget di bagian wok, ada yang tangannya cekatan di meja plating, ada juga yang jagoan menggoreng. Masalahnya, penempatan kerja sehari-hari biasanya cuma ngikutin kebiasaan: siapa yang pertama datang, dia yang pegang stasiun itu. Padahal belum tentu dia yang paling cepat di situ. Begitu posisi ditukar sesuai kekuatan masing-masing orang, antrean pesanan bisa jauh lebih cepat selesai, padahal jumlah karyawannya sama persis, nggak nambah satu pun. Rahasianya cuma satu: menempatkan orang di tempat yang memang paling ia kuasai.

Banyak yang mikir ilmu kayak gini cuma dipakai di industri besar atau pabrik. Padahal aslinya, logikanya kepake di mana-mana. Contoh paling gampang: pas lagi kerja kelompok kuliah. Pernah nggak ngerasa satu kelompok sama-sama sibuk, tapi hasilnya tetap lelet? Biasanya itu bukan karena timnya males, tapi karena pembagian tugasnya nggak pas. Yang jago nulis malah disuruh cari data, yang jago desain malah disuruh ngedit naskah. Di dunia bisnis juga sama. Sebuah usaha, besar maupun kecil, sering banget ngerasa kekurangan orang. Padahal kadang masalahnya bukan jumlah orangnya, tapi penempatannya yang kurang pas. Begitu ditata ulang pakai logika penugasan yang tepat, waktu kerja bisa lebih singkat dan hasilnya lebih maksimal, tanpa keluar biaya tambahan sepeser pun.

Yang menurut saya paling berharga dari belajar metode penugasan bukan rumusnya yang ribet, tapi cara mikirnya. Kita dilatih buat nggak buru-buru nyalahin “kurang sumber daya” tiap kali ada masalah. Sebelum nambah orang, nambah modal, atau nambah waktu kerja, coba dicek dulu, kira-kira udah pas belum penempatan yang ada sekarang? Kebiasaan mikir kayak gini, kalau dipraktikin terus, bisa kepake di banyak hal. Ngatur jadwal piket rumah, bagi tugas organisasi kampus, sampai ngatur worklist pribadi biar nggak keteteran.

Oleh: William Susanto, Agung Gilang Permana, Amanda Abdillah - Universitas Pamulang