Bali, Inspirasi Pionir Bayar Rumah Rakyat dari Sampah

Bankir profesional, pengalaman lebih dari 28 tahun di di industri perbankan. Memiliki keahlian mendalam dalam bidang Governance, Risk, and Compliance (GRC) serta Manajemen Transformasi. Aktif mendorong implementasi ESG, khususnya rumah rendah emisi
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Wilson Arafat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Krisis iklim bukan lagi bayangan jauh, tetapi kenyataan sehari-hari yang dirasakan di Bali. Ombak menggerus pesisir Jembrana, garis pantai menyusut lebih dari satu meter setiap tahun, dan TPA Suwung kian sesak menampung sekitar seribu ton sampah per hari. Di tengah tumpukan masalah lingkungan itu, harga tanah dan rumah di Bali terus meroket, memaksa ribuan pekerja pariwisata, yang menjaga denyut nadi Pulau Dewata, hidup di kontrakan.
Data BPS (2023) menunjukkan backlog perumahan Bali melampaui 146 ribu rumah tangga, sebuah angka yang menegaskan krisis hunian layak semakin nyata. Dua persoalan besar ini -sampah dan perumahan- seolah berjalan sendiri-sendiri. Padahal, keduanya bisa dijembatani oleh satu gagasan berani: mengubah sampah menjadi tabungan, tabungan menjadi cicilan rumah, dan krisis menjadi harapan.
Menabung Lewat Sampah
Gagasan green saving melalui bank sampah sudah berkembang di sejumlah kota. Warga bisa menukar plastik, kardus, atau minyak jelantah untuk saldo yang dapat digunakan membayar listrik, pulsa, atau kebutuhan sehari-hari. Namun, langkah inovasi berikutnya adalah menjadikan saldo sampah itu sebagai bagian dari pembayaran cicilan rumah subsidi.
Bayangkan seorang pedagang canang di pasar tradisional Denpasar menyetor tiga kilogram plastik bekas belanja setiap minggu. Setoran itu dicatat otomatis dalam aplikasi bank sampah digital, lalu dikonversi menjadi saldo pemotongan cicilan KPR subsidi. Sampah yang tadinya dianggap beban lingkungan berubah menjadi modal masa depan keluarga. Gagasan sederhana ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka akses perumahan yang lebih inklusif.
Ekonomi Sirkular dan Kearifan Lokal
Bali memiliki modal budaya yang kuat untuk mendukung gagasan ini. Konsep Tri Hita Karana menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Melalui kerangka itu, sampah seharusnya tidak dipandang sebagai residu, tetapi bagian dari siklus yang bisa dikembalikan ke alam atau diolah ulang.
Ekonomi sirkular mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar nilainya terus berputar. Sampah berupa plastik dan anorganik bernilai ekonomis, peluang konversinya menjadi tabungan sangat nyata. Desa adat, subak, hingga sekaa teruna dapat menjadi penggerak. Dengan awig-awig sebagai instrumen pengikat, desa bisa mewajibkan warga memilah sampah untuk dimasukkan ke skema tabungan rumah. Konsep gotong royong atau menyama braya yang hidup di Bali adalah fondasi sosial ideal bagi program ini.
Perbankan Hijau dan Teknologi Digital
Kunci implementasi gagasan ini ada pada teknologi digital dan kemauan lembaga keuangan berinovasi. Melalui QR Code, setiap setoran sampah bisa tercatat di aplikasi. Saldo tersebut lalu dihubungkan dengan rekening debitur KPR rumah rakyat. Agar transparan, sistem ini bisa diperkuat dengan blockchain sehingga setiap transaksi dapat diaudit publik.
Bank penyalur KPR subsidi seperti Bank BTN dapat memainkan peran sentral. Produk keuangan hijau bisa dirancang untuk mengintegrasikan tabungan sampah ke dalam cicilan rumah. Skema ini bukan hanya mendukung pembiayaan perumahan rakyat, tetapi juga memperkuat citra perbankan sebagai mitra pembangunan berkelanjutan.
Empat Langkah Strategis untuk Bali
Untuk menjadikan Bali sebagai pionir, ada empat langkah strategis yang perlu ditempuh. Pertama, pemerintah daerah menetapkan program Bayar Cicilan Rumah dengan Sampah sebagai proyek percontohan nasional, lengkap dengan regulasi pendukung serta insentif fiskal bagi bank sampah digital.
Kedua, perbankan nasional, seperti Bank BTN, menyusun skema KPR hijau yang fleksibel, memfasilitasi konversi sampah menjadi tabungan cicilan rumah.
Ketiga, kampus-kampus di Bali seperti Universitas Udayana, Warmadewa, dan Undiknas dapat berperan sebagai mitra riset dan teknologi, mengembangkan aplikasi yang aman, terukur, dan akuntabel.
Keempat, masyarakat sipil harus dilibatkan sejak awal. Desa adat, kelompok perempuan, komunitas pecalang, dan organisasi pemuda bisa menjadi tulang punggung implementasi. Tanpa keterlibatan masyarakat, program ini hanya akan segera terhenti.
Dari Bali untuk Indonesia
Bali selama ini dikenal sebagai Pulau Dewata, destinasi wisata kelas dunia, dan pusat kebudayaan. Namun di tengah tekanan sampah pariwisata dan krisis perumahan, Bali juga bisa tampil sebagai laboratorium inovasi hijau. Jika program Bayar Cicilan Rumah dengan Sampah berhasil diterapkan di Bali, ini berpotensi direplikasi di kota-kota lain di Indonesia.
Dari Denpasar hingga Gianyar, dari Badung hingga Karangasem, Bali bisa membuktikan bahwa sampah bukan sekadar masalah, melainkan sumber daya untuk mewujudkan rumah layak bagi rakyat. Dari kotoran plastik lahir harapan baru bagi pekerja pariwisata. Dari tabungan kecil berbasis sampah, lahir rumah bagi keluarga muda.
Sejarah membuktikan, perubahan besar selalu dimulai dari langkah sederhana. Jika Bali berani melangkah, ini bukan hanya menjaga harmoni dengan alam, tetapi juga memberi inspirasi nyata bagi Nusantara. Dari sampah menjadi tabungan, dari tabungan menjadi rumah, dari krisis menjadi harapan.
-------------
Tulisan ini adalah pendapat pribadi.
