Konten dari Pengguna

ESG Risk Awareness

Wilson Arafat

Wilson Arafat

Bankir profesional, pengalaman lebih dari 28 tahun di di industri perbankan. Memiliki keahlian mendalam dalam bidang Governance, Risk, and Compliance (GRC) serta Manajemen Transformasi. Aktif mendorong implementasi ESG, khususnya rumah rendah emisi

ยทwaktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wilson Arafat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fondasi Bisnis Tahan Krisis dan Berkelanjutan

Foto/Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto/Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan lagi wacana futuristik. Penerapannya sudah menjadi garis demarkasi antara perusahaan yang bertahan dan yang tertinggal. Dunia bisnis kini dituntut tak hanya efisien dan menguntungkan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola. Sayangnya, banyak perusahaan masih menganggap ESG sebagai formalitas -sekadar laporan untuk memenuhi kewajiban- bukan sebagai sistem mitigasi risiko dan sumber keunggulan kompetitif.

Di tengah perubahan iklim yang ekstrem, tekanan dari investor, dan ekspektasi publik yang makin tinggi, kesadaran terhadap risiko ESG (ESG risk awareness) harus menjadi bagian dari DNA organisasi. Bukan hanya di level direksi, tapi menembus seluruh lini kerja. Inilah saatnya membumikan ESG, menjadikannya bagian dari budaya kerja dan pengambilan keputusan sehari-hari karena bisnis yang tidak peduli ESG hari ini, bisa kehilangan relevansi esok hari.

Mengapa ESG Penting?

Di tengah krisis iklim yang semakin parah, ketidakpastian sosial, dan tuntutan tata kelola yang lebih transparan, risiko ESG menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam pengambilan keputusan bisnis. Risiko lingkungan, seperti polusi dan perubahan iklim, bisa berdampak langsung pada operasional disuatu perusahaan. Sementara itu, ketidakpatuhan terhadap hak asasi manusia atau ketimpangan sosial dalam rantai pasokan dapat merusak reputasi dan hubungan dengan konsumen, investor serta regulator.

World Economic Forum (2022) memaparkan fakta empiris yang menunjukkan bahwa perusahaan yang gagal mengelola risiko ESG dengan baik mengalami penurunan nilai pasar yang sungguh signifikan. Oleh karena itu, membumikan kesadaran risiko ESG di suatu perusahaan bukan hanya menjadi kewajiban, namun juga bagian dari strategi untuk menciptakan keunggulan kompetitif di pasar global yang semakin peduli terhadap bisnis yang keberlanjutan.

Inisiatif Strategis

Untuk membumikan ESG risk awareness, perusahaan perlu melakukan beberapa inisiatif konkret yang tidak hanya menyentuh aspek teori, namun lebih dari itu semua, juga membumi ke dalam implementasi praktis di seluruh lapisan dan jenjang organisasi. Beberapa inisiatif strategis ini akan membantu membangun budaya keberlanjutan yang mendalam.

Penulis akan menguraikan lima langkah utama yang dapat diambil oleh suatu perusahaan untuk memastikan bahwa kesadaran risiko ESG menjadi bagian integral dari setiap keputusan dan tindakan yang diambil: (1) Kepemimpinan Menjadi Teladan (Role Model): Upaya integrasi ESG tidak akan berhasil tanpa keteladanan dari pimpinan dalam menerapkan ESG tanpa role model dari leaders. Komitmen dari pimpinan perusahaan adalah kunci utama. Pimpinan yang menunjukkan keseriusan sebagai role model dalam menerapkan ESG risk awareness akan mempengaruhi seluruh organisasi untuk mengikutinya. Komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan mengenai pentingnya ESG akan menciptakan kesadaran di seluruh lapisan organisasi. Fakta empiris menunjukkan bahwa perusahaan yang telah berhasil mengintegrasikan ESG ke dalam strategi mereka, dapat dipastikan pimpinan perusahaan menunjukkan komitmen pribadi terhadap keberlanjutan. Pimpinan mereka tidak hanya memimpin melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata, yang pada gilirannya mendorong karyawan untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan ESG perusahaan; (2) Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan: Bukan sekadar membalikkan telapak tangan, membangun kesadaran risiko ESG membutuhkan pemahaman yang mendalam dari seluruh karyawan. Oleh karena itu, perusahaan harus mengadakan program pendidikan dan pelatihan untuk menyosialisasikan pentingnya ESG. Melalui pelatihan ini, karyawan akan memahami bagaimana ESG berhubungan dengan pekerjaan mereka sehari-hari dan dampaknya terhadap keberlanjutan perusahaan. Dengan ungkapan lain dapat dikatakan bahwa penting bagi perusahaan untuk membekali karyawan dengan keterampilan untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola risiko ESG. Pelatihan dilakukan secara berkelanjutan dengan memperbarui materi pelatihan seiring perkembangan tren ESG; (3) Integrasi ESG dalam Pengambilan Keputusan: Harap dicamkaan benar bahwa cara terbaik untuk membumikan ESG risk awareness adalah dengan mengintegrasikan prinsip ESG dalam proses pengambilan keputusan perusahaan. Setiap keputusan, baik itu terkait investasi, pengembangan produk, atau kemitraan, harus mempertimbangkan potensi dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola. Tegasnya adalah suatu perusahaan harus membuat panduan keputusan berbasis ESG, di mana setiap langkah strategis harus mengedepankan prinsip keberlanjutan. Selain itu, perusahaan juga harus mengadaptasi key performance indicators (KPIs) berbasis ESG dalam setiap departemen, untuk memastikan bahwa kesadaran ESG tidak hanya terhenti pada diskusi internal, tetapi juga berbuah kepada tindakan nyata; (4) Pemantauan dan Pelaporan yang Transparan: Penerapan transparansi dalam pemantauan risiko ESG adalah bagian integral dari pembumian ESG di perusahaan. Perusahaan harus memiliki sistem yang dapat memantau dan mengukur risiko ESG secara terus-menerus. Develop ESG Dasboard is a must. Dengan sistem transparan, perusahaan dapat lebih cepat mengidentifikasi potensi masalah dan meresponsnya dengan tepat. Laporan ESG yang akurat dan transparan juga menjadi salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan kepada para investor dan pemangku kepentingan. Beberapa perusahaan, seperti Bank BTN, telah menerapkan sistem pelaporan ESG dengan support dari aplikasi ESG Dasboard dalam rangka untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan. Pelaporan ini membantu membangun kepercayaan dan menunjukkan bahwa perusahaan benar-benar mengelola dampak sosial dan lingkungan mereka; (5) Meningkatkan Kolaborasi dengan Pihak Eksternal: Membangun kesadaran ESG bukanlah tugas yang bisa dilakukan sendiri oleh suatu perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk berkolaborasi dengan lembaga eksternal, seperti organisasi non-pemerintah, regulator, dan pihak akademis, untuk mengembangkan kebijakan dan praktik ESG yang lebih baik. Kolaborasi ini juga dapat membuka akses perusahaan terhadap teknologi dan solusi terbaru untuk memitigasi risiko ESG. Jadi, suatu perusahaan yang berkolaborasi dengan lembaga riset atau lembaga ESG rating akan memiliki panduan tentang menilai dan mengelola risiko ESG yang ada di seluruh rantai pasokan (value chain) mereka.

Katalis Keberlanjutan

Tantangan utama dalam membumikan ESG risk awareness adalah kurangnya standar yang seragam dalam pengukuran dan pelaporan risiko ESG. Meski sudah ada beberapa lembaga pemeringkat ESG yang terpercaya, seperti MSCI dan Sustainalytics, namun metodologi yang digunakan sering kali berbeda-beda antar lembaga, yang bisa membingungkan perusahaan dan investor. Namun, tantangan ini juga dapat menjadi peluang bagi perusahaan untuk memimpin dalam hal penerapan standar ESG yang lebih transparan dan konsisten. Perusahaan yang mampu mengembangkan pendekatan ESG yang lebih inovatif dan jelas akan mendapatkan kepercayaan lebih dari para konsumen dan investor yang semakin sadar akan pentingnya keberlanjutan.

Membumikan ESG risk awareness berarti menjadikannya nyata, terukur, operasional, dan dipahami hingga ke lini terbawah organisasi. Ini bukan sekadar narasi korporat, tapi fondasi dalam menghadapi risiko yang semakin kompleks dan multidimensional.

Perusahaan yang hanya berhenti pada kepatuhan tidak akan cukup tangguh menghadapi tekanan investor, regulator, maupun masyarakat. ESG harus hidup dalam budaya kerja, tertanam dalam sistem pengambilan keputusan, dan menjadi bagian dari strategi pertumbuhan.

Inilah saatnya ESG tidak hanya dibahas di ruang rapat, tapi hadir di lapangan, dijalankan, dipantau, dan terus dikembangkan. Karena kesadaran risiko ESG yang membumi bukan hanya menyelamatkan perusahaan dari krisis, tapi juga membuka jalan menuju bisnis yang bertanggung jawab, kompetitif, dan berkelanjutan.