Konten dari Pengguna

Kaku di LinkedIn, Receh di TikTok: Wajar Kok Kalau Kamu Punya "Banyak Wajah"

Wina Noer

Wina Noer

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wina Noer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia adalah Aktor yang Berperan Aktif dalam Memilih Media/Sumber: Ilustrasi oleh Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Manusia adalah Aktor yang Berperan Aktif dalam Memilih Media/Sumber: Ilustrasi oleh Penulis

Pernahkah kamu merasa cemas atau overthinking setelah mengunggah video TikTok yang sangat santai, padahal satu jam sebelumnya baru saja membagikan pencapaian profesional yang serius di LinkedIn?

Ada perasaan aneh saat melihat diri sendiri seolah menjadi "dua orang yang berbeda". Di LinkedIn, kamu tampil begitu terukur, kaku, dan penuh pencapaian. Namun, saat membuka TikTok atau Reels, kamu tiba-tiba menjadi pribadi yang penuh tawa, spontan, dan "receh". Muncul pertanyaan di benak, “Apakah aku sedang mengalami krisis identitas? Apakah aku sedang berbohong pada publik atau diriku sendiri?”

Tenang, kamu tidak sendirian. Fenomena "wajah ganda" ini bukan tanda kepalsuan, melainkan bentuk adaptasi yang cerdas di era digital.

Kita Adalah "Aktor" di Panggung yang Berbeda

Dalam psikologi komunikasi, hal ini berkaitan dengan teori Uses and Gratifications. Sederhananya, teori ini menjelaskan bahwa kita adalah aktor aktif yang sengaja memilih platform media sosial untuk memenuhi kebutuhan emosional yang berbeda-beda.

Coba perhatikan polanya:

Saat butuh validasi karier: Kita lari ke LinkedIn karena platform ini dirancang untuk membangun reputasi dan kredibilitas. Wajar jika kita tampil formal di sana.

Saat butuh melepas stres: Kita beralih ke TikTok atau Reels. Algoritmanya justru "menghukum" keformalan dan lebih mengapresiasi konten yang jujur, spontan, dan menghibur.

Setiap platform memiliki "kepribadian" dan algoritma unik yang secara tidak langsung memanggil sisi berbeda dari dirimu. Kamu tidak sedang berbohong; kamu hanya sedang memberikan ruang bagi berbagai sisi dirimu untuk bernapas sesuai tempatnya.

Sebenarnya, ini bukan hal baru dalam hidup kita. Ingat bagaimana caramu berbicara dengan atasan di kantor? Tentu akan jauh berbeda dengan cara tertawa lepas saat bercanda bersama sahabat lama di warung kopi, bukan?

Media sosial hanya mempertegas "panggung-panggung" tersebut menjadi lebih terlihat dan terasa lebih cepat dinilai oleh orang lain. Dulu, pergeseran peran ini terjadi di dunia nyata dan tidak meninggalkan jejak digital. Sekarang, panggung itu lebih transparan, sehingga kita merasa perlu menjaga citra di setiap tempat.

Lalu, bagaimana agar kita tidak lelah menyeimbangkan citra ini?

Pahamilah bahwa beradaptasi di berbagai platform bukanlah sebuah kebohongan, melainkan bentuk kompetensi komunikasi yang krusial di era digital ini. Kemampuan untuk menempatkan diri, tahu kapan harus tampil serius sebagai profesional dan kapan harus menjadi pribadi yang hangat adalah soft skill yang sangat berharga.

Jadi, jangan merasa harus sempurna di semua tempat. Di dunia yang makin bising ini, menjadi diri sendiri yang adaptif adalah bentuk self-love terbaik agar kamu tetap waras dan bahagia. Ingat, meskipun dengan ekspresi yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda pula, kamu tetaplah kamu.