Esensi Ibadah Kurban di Masa Pandemi

Alumni Program Doktor Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan IPB Bogor. Saat ini bekerja di Kementerian Perindustrian
Tulisan dari Winardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari raya Idul Adha tidak bisa dilepaskan dengan pelaksanaan ibadah Kurban. Kurban yang dilaksanakan setiap tanggal 10-13 bulan Zulhijah merupakan ibadah yang mengajarkan berbagai nilai spiritual dan nilai sosial yang akan mengantarkan manusia menjadi individu yang lebih baik dalam hal sikap taqwa, syukur, ikhlas, sabar, dan kepedulian dengan sesama. Ibadah kurban tahun ini mempunyai jangkauan makna yang lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mengingat kondisi perekonomian dunia mengalami goncangan yang sangat dahsyat akibat pandemi Covid-19.
Kondisi suhu perekonomian nasional di era pandemi yang tidak stabil membuat indikator-indikator perekonomian semakin jauh dari target yang telah ditetapkan. Seperti indikator pertumbuhan ekonomi makin terkoreksi turun melewati batas biasanya (Triwulan I 2020 hanya tumbuh 2,97%). Angka kemiskinan makin meroket, berdasarkan data BPS per Maret 2020 tingkat kemiskinan Indonesia sebesar 9,78%. Demikian pula tingkat ketimpangan pendapatan yang makin melebar. Hal ini dipotret pada indeks ratio gini per Maret 2020 sebesar 0,381, meningkat 0,001 dari akhir tahun 2019.
Dinamika perekonomian yang terus mengalami perlambatan tersebut, dibutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, tidak hanya oleh pemerintah tetapi semua unsur elemen masyarakat dapat berkontribusi. Partisipasi dan dukungan individu dan kelompok masyarakat sangat dibutuhkan agar proses penanganan pandemi dan recovery perekonomian bisa lebih cepat dari prediksi. Salah satu peran serta masyarakat selain mematuhi protokol kesehatan adalah meningkatkan solidaritas sosial dengan memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar yang mengalami kesulitan ekonomi. Ini sangat relevan dengan momentum ibadah kurban tahun ini.
Ibadah kurban di masa pandemi merefleksikan sikap syukur atas nikmat Allah yang diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial dengan semangat saling berbagi. Kurban sesungguhnya merupakan modal sosial yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, khususnya Nabi Ibrahim A.S. Oleh karena itu, momentum hari raya Idul Adha ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, tetapi sudah semestinya dimanfaatkan dengan melaksanakan Ibadah Kurban sebagai ladang amal meraih keberkahan atas nikmat Allah SWT.
Adanya kesadaran berkurban di tengah-tengah masyarakat tentu akan memberikan dampak pada penguatan modal sosial. Modal sosial tersebut dalam konteks penanganan pandemi Covid-19 sangat diperlukan saat ini. Proses penanganan pandemi dan recovery ekonomi dibutuhkan semangat kebersamaan, kekompakan dan kerjasama setiap individu dan kelompok masyarakat. Bila semangat ini sudah terbentuk maka kerja pemerintah menjadi lebih mudah dan ringan dalam melakukan implementasi kebijakan penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi nasional.
Salah satu modal sosial yang perlu diperkuat adalah adalah sikap kesabaran di masa sulit seperti ini. Kesabaran yang dimaksud bukan berarti menyerah atau pasrah terhadap kondisi yang ada, tetapi justru sebaliknya memacu diri untuk terus menjadi lebih semangat dan produktif dalam bekerja dan berkontribusi positif bagi lingkungan masing-masing. Perlu disadari bahwa esensi dari kesulitan yang di alami saat ini merupakan ujian Allah sejauh mana kita bersabar dan berkurban serta ikhtiar maksimal dalam menjalaninya.
Ibadah kurban melatih kita untuk membangun kesabaran secara bersama-sama dan meningkatkan solidaritas sosial. Solidaritas sosial yang terakumulasi tentu akan memberikan multiplier efek pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum. Di samping itu, kurban memiliki dampak positif bagi perekonomian. Sebagai contoh di sektor peternakan, permintaan hewan kurban dipastikan meningkat naik menjelang Idul Adha sehingga pendapatan peternak berpotensi mengalami peningkatan. Bukan hanya sektor peternakan yang tumbuh, tetapi sektor lain seperti sektor logistik/transportasi, perdagangan, industri pengolahan kulit, jasa pemotongan hewan juga merasakan limpahan dari kegiatan berkurban.
Dapat ditarik benang merah bahwa ibadah kurban memiliki keistimewaan tersendiri karena terdapat dua dimensi yang tercakup di dalamnya, yaitu dimensi ibadah dan dimensi sosial. Dimensi tersebut akan dirasakan baik oleh individu yang melaksanakan ibadah kurban maupun masyarakat yang kurang mampu. Oleh karena itu, sebagai individu sudah sepatutnya kita berkontribusi pada kegiatan berkurban tahun sesuai kemampuan yang dimiliki sehingga efek berganda dari ibadah kurban dapat dirasakan oleh masyarakat secara merata.
Harapannya semoga Idul Adha tahun ini dapat meningkatkan ketaatan kita kepada Allah sekaligus menguatkan modal sosial dalam menghadapi masa pandemi yang masih terus berlangsung. Semoga bangsa kita diberikan kemampuan untuk lepas dari pandemi dan ekonomi tumbuh kembali pasca pandemi.
