Konten dari Pengguna

Rini Soemarno : "BUMN bukan punya Rini Soemarno, BUMN punya kita semua."

Winda Dwiastuti

Winda Dwiastuti

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Winda Dwiastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rini Soemarno : "BUMN bukan punya Rini Soemarno, BUMN punya kita semua."
zoom-in-whitePerbesar

Menteri BUMN, Rini Soemarno menutup perbincangan inspiratif pada acara "Kumparan Onboarding Batch 2" hari ini (15/11). Beliau memaparkan sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan olehnya dan tim kepada hadirin yang masih siap siaga hingga malam hari.

Menteri yang bernama lengkap Rini Mariani Soemarno Soewandi ini mengatakan, telah melakukan sejumlah aktivitas dalam rangka inventaris BUMN. Permasalahan yang berkaitan dengan perkebunan yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat, diakuinya sedang dalam masa perbaikan dan prosesnya membutuhkan waktu dan kerja sama dari masyarakat Indonesia.

"Kami harapkan, Inshaa Allah kalo kita kerja baik, maka pada 2019 akan kelihatan hasilnya," ungkapnya di tengah perbincangan. Ada cara tersendiri yang dilakukan oleh Rini untuk mengedukasi para Dirut BUMN agar lebih jelas dalam mengetahui permasalahan yang terjadi di lapangan. Ia mengaku seringkali mengajak para Dirut BUMN terjun ke lapangan.

Sebut saja mengenai salah satu pengalamannya mengajak para Dirut pergi ke daerah-daerah dan kota Banyuwangi untuk akhirnya menaiki Gunung Ijen bersama-sama. Menurutnya, hal tersebut bertujuan agar para Dirut BUMN betul-betul paham dan menyadari bahwa fungsi Dirut BUMN itu bukan hanya sekadar mencari keuntungan semata, melainkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan membuat mereka hidup dengan sejahtera.

Rini Soemarno : "BUMN bukan punya Rini Soemarno, BUMN punya kita semua." (1)
zoom-in-whitePerbesar

"BUMN adalah agen pembangunan," jelas Rini saat menjawab salah satu pertanyaan dari narasumber mengenai peran BUMN di Indonesia. Menjelang akhir pemaparannya, ia mengungkapkan telah dan akan terus mencoba beberapa program yang bertujuan untuk membuat masyarakat yang sejahtera semakin menyeluruh.

Salah satu contoh program yang telah dilakukan adalah kerjasamanya dengan Permodalan Nasional Madani untuk memodali ibu-ibu yang sekiranya tidak bisa masuk ke perbankan, namun ada kemauan untuk menjalankan suatu bisnis atau usaha tertentu. Modal yang diberikan berkisar antara Rp 300.000 - Rp 1.000.000/ibu.

Pada tahun sebelumnya telah ada 1.600 ibu di seluruh Indonesia yang telah menerima bantuan tersebut. Ia menargetkan akan ada 1.800 ibu di 2017 dan sekitar empat juta ibu di tahun selanjutnya.

Rini mengaku telah melakukan sejumlah perubahan yang signifikan di beberapa daerah. Sebut saja pada harga semen di Papua Jaya yang sebelumnya berharga sekitar Rp 2.000.000/sak, kini telah berhasil diturunkan menjadi Rp 500.000/sak.

"Selain itu, harga tepung disana juga mencapai Rp 70.000/kg. Kini, sedang coba dijadikan Rp 10.000/kg. Saya mau kembali ke Papua, saya sudah janji ke mereka tentang itu." ucap Rini kepada kumparan (kumparan.com). Beliau menjelaskan bahwa tidak ada subsidi dari negara untuk melakukan ini, karena BUMN adalah agen pembangunan dan melalui itu juga BUMN tetap bisa mendapatkan keuntungan.

"BUMN bukan milik Rini Soemarno. BUMN punya kita semua. Tapi, saya punya tanggung jawab BUMN ini bisa dijaga dan dikelola agar transparan dan menguntungkan. Pihak Negara adalah pihak yang paling diuntungkan karena adanya pajak dan deviden," jelas Rini kepada hadirin.

"Saya berharap 50 tahun ke depan, BUMN masih ada dan masih berkembang untuk masyarakat. Jika BUMN sehat, maka masyarakatnya sejahtera. Sebut saja contohnya seperti negara Malaysia, Singapura dan China." tambahnya yang sekaligus menutup perbincangan malam hari itu.