Konten dari Pengguna

PKM-B FPIK UB Olah Daun Pepaya Jadi Pakan Ikan Nila untuk Warga Desa Senggreng

windaa sagala

windaa sagala

Mahasiswi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari windaa sagala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

credit : foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
credit : foto pribadi

Malang, 8 Agustus 2026 — Mahalnya harga pakan pabrikan selama ini menjadi tantangan bagi para pembudidaya ikan nila di Desa Senggreng, Kabupaten Malang. Menjawab persoalan itu, mahasiswa Kelompok 21 Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Bahari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya memperkenalkan formula pakan ikan alternatif berbahan dasar daun pepaya, tanaman yang selama ini banyak tumbuh liar di sekitar desa, tetapi jarang dimanfaatkan.

Mahasiswa PKM-B FPIK UB menggelar sosialisasi dan pelatihan pembuatan formulasi pakan alternatif berbahan daun pepaya di Balai Desa Senggreng. Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari Kepala Dusun Kecopokan, Suyanto yang hadir mewakili Kepala Desa Senggreng, serta kelompok pembudidaya ikan setempat.

Bagi pembudidaya ikan nila, biaya pakan selalu jadi pos pengeluaran paling menguras kantong. Persoalan inilah yang menjadi dasar para mahasiswa FPIK UB meracik formulasi alternatif yang lebih murah tanpa mengorbankan kualitas.

"Pakan itu salah satu biaya terbesar dalam budidaya. Kami berharap warga bisa membuat pakan yang lebih murah, tetapi tetap bagus untuk pertumbuhan ikan" ujar Faza selaku wakil koordinator Kelompok 21 PKM-B FPIK UB dalam sambutannya.

Daun pepaya dipilih sebagai bahan utama karena mudah di dapat, murah, dan melimpah di lingkungan sekitar desa. Selain hemat biaya, pakan ini dirancang agar mengapung di permukaan air sehingga lebih mudah dikonsumsi ikan, sekaligus kaya akan protein yang mendukung pertumbuhan. Tantangannya, rasa pahit alami pada daun pepaya harus diatasi lebih dulu melalui proses perebusan dan fermentasi agar pakan lebih mudah diterima dan dicerna oleh ikan nila.

Dalam sesi penyampaian materi "Pembuatan Pakan Ikan Nila" warga mendapat pengetahuan tentang kandungan gizi daun pepaya, komposisi bahan, serta tahapan pembuatan pakan dari pencampuran hingga pengeringan. Tak hanya itu, warga juga dibekali cara menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) sebagai acuan untuk mengetahui besaran biaya yang dibutuhkan dalam membuat pakan sendiri.

credit : foto pribadi

Pelatihan tak berhenti di teori, tetapi warga juga menyaksikan langsung demonstrasi pembuatan pakan dari tahap awal hingga tahap akhir, dan antusiasme itu terasa jelas.

"Selama ini kami cuma bergantung pada pakan pabrikan yang harganya lumayan mahal. Setelah ikut pelatihan ini, kami dapat pengetahuan baru yang sangat bermanfaat" ungkap salah satu pembudidaya lokal yang mengikuti pelatihan.

Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme warga tampak begitu besar, terutama saat memasuki sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta dengan aktif melontarkan berbagai pertanyaan, mulai dari peluang pemanfaatan bahan alternatif lain di luar daun pepaya hingga strategi jitu untuk menjaga agar biaya produksi pakan tetap ekonomis dalam jangka panjang.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa Kelompok 21 PKM-B FPIK UB berharap warga Desa Senggreng dapat memproduksi pakan ikan nila secara mandiri, ekonomis, dan efisien. Dengan begitu, biaya budidaya dapat ditekan sekaligus produktivitas usaha perikanan di desa tersebut dapat terus meningkat.