Konten dari Pengguna

PKMB FPIK UB Kenalkan Inovasi Patty Ikan Nila kepada Ibu-Ibu PKK Desa Senggreng

windaa sagala

windaa sagala

Mahasiswi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari windaa sagala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

credit : foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
credit : foto pribadi

Malang, 25 Juli 2026 - Ikan nila menjadi salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan masyarakat Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Namun, pemanfaatannya masih didominasi penjualan dalam kondisi segar dan olahan sederhana untuk konsumsi rumah tangga. Mahasiswa PKM-B FPIK UB Kelompok 21 mengembangkan olahan ikan nila menjadi patty sebagai salah satu inovasi produk olahan bernilai tambah sekaligus mengenalkan branding dan pengemasan agar produk warga lebih siap dipasarkan.

Kegiatan bertema Pelatihan dan Branding Olahan Produk Ikan Nila tersebut dilaksanakan selama dua hari, 24–25 Juli 2026, di Balai Desa Senggreng dengan melibatkan ibu-ibu PKK Desa Senggreng. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan warga dalam mengolah ikan nila menjadi produk olahan yang lebih beragam serta mengenalkan strategi branding dan pemasaran produk.

Ikan nila dipilih karena mudah ditemukan dan banyak dibudidayakan oleh warga setempat. Selama ini, pemanfaatannya masih didominasi penjualan ikan segar dan olahan sederhana untuk konsumsi rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang untuk mengembangkan ikan nila menjadi produk olahan dengan bentuk dan nilai jual yang lebih beragam.

Kepala Desa Senggreng, Rendyta Witrayani, mengungkapkan bahwa masyarakat sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam mengolah berbagai produk berbahan dasar ikan. Hal tersebut terlihat dari kegiatan lomba 1.000 olahan ikan yang pernah diselenggarakan di Desa Senggreng. Namun, hasil olahan tersebut masih menghadapi kendala dalam pemasaran.

“Di Desa Senggreng pernah diadakan lomba 1.000 olahan ikan yang diikuti seluruh masyarakat. Namun, hasil olahan tersebut masih menghadapi kendala dalam pemasaran. Selama ini, sebagian besar ikan masih diolah untuk konsumsi sendiri atau dijual langsung oleh pembudidaya,” ujar Rendyta.

Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa PKM-B FPIK UB Kelompok 21 mengenalkan pengolahan ikan nila menjadi patty, produk berbentuk pipih yang dapat digunakan sebagai isian burger. Inovasi ini menjadi salah satu alternatif pemanfaatan ikan nila menjadi produk olahan yang lebih praktis dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha.

Pada Kamis, 24 Juli 2026, kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai kandungan dan potensi ikan nila. Peserta kemudian mengikuti demonstrasi dan praktik langsung pembuatan patty, mulai dari pemilihan daging ikan, pencampuran bumbu, hingga proses pencetakan. Sepanjang kegiatan, ibu-ibu PKK terlihat antusias mengikuti setiap tahapan dengan bimbingan mahasiswa pendamping di masing-masing kelompok.

Pemahaman peserta juga diukur melalui pre-test dan post-test untuk melihat tingkat pengetahuan setelah mengikuti kegiatan. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi dan praktik pengolahan ikan nila.

Jumat, 25 Juli 2026 kegiatan berfokus pada branding produk sebagai kelanjutan dari pelatihan pengolahan. Peserta dikenalkan pada pentingnya identitas produk, label, dan kemasan sebagai bagian dari upaya membuat produk olahan ikan nila lebih mudah dikenali dan siap dipasarkan.

credit : foto pribadi

Tidak hanya mendapatkan materi, peserta juga mempraktikkan langsung proses vacuum sealing dan pemberian label pada kemasan produk. Praktik tersebut memberikan pengalaman kepada peserta dalam menerapkan pengemasan dan pelabelan sebagai bagian dari persiapan produk sebelum dipasarkan.

Melalui rangkaian tersebut, mahasiswa PKM-B FPIK UB Kelompok 21 berupaya membekali ibu-ibu PKK Desa Senggreng dengan keterampilan mengolah ikan nila dari hulu ke hilir mulai dari produksi, pengemasan, branding, hingga pemasaran. Langkah ini diharapkan menjadi titik awal berkembangnya produk olahan ikan nila Senggreng yang lebih inovatif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.