Bagaimana Guru Honorer Mempertahankan Pendidikan di Tengah Ketimpangan Sosial?

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Prodi Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Windi Az-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, melainkan juga cermin dari dinamika sosial di sekitar kita. Menurut para ahli sosiologi pendidikan, lembaga sekolah berfungsi sebagai arena sosialisasi sekaligus tempat menanamkan nilai-nilai sosial penting. Teori dari Talcott Parsons menegaskan bahwa sekolah berperan untuk mengajarkan anak-anak hidup harmonis di masyarakat dan membuka peluang setara bagi semua untuk berprestasi.
Namun, dibalik idealisme ini, masih ada fakta menyedihkan: ketimpangan sosial yang nyata dalam dunia pendidikan, terutama terlihat pada kesejahteraan guru honorer yang sejatinya pejuang pendidikan tanpa banyak sorotan.
Mereka yang mengemban peran vital dalam mempertahankan mutu pembelajaran ini kerap berjuang dengan kondisi yang tidak sepadan, jauh dari keadilan dan kesejahteraan. Lalu, bagaimana kontribusi guru honorer dalam menjaga kualitas pendidikan Indonesia? Apa pentingnya pendekatan sosiologis untuk melihat posisi guru dalam struktur sosial pendidikan yang lebih besar?
Tantangan Guru Honorer di Indonesia
Guru honorer memikul beban kerja yang hampir sama berat dengan guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) namun kesejahteraannya jauh dari kata memadai. Mereka menghadapi gaji yang sering kali di bawah upah minimum, tanpa jaminan pensiun dan tunjangan layak. Realita ini menunjukkan adanya ketimpangan sosial yang nyata dalam sistem pendidikan.
Ketimpangan ini tidak hanya soal materi, tetapi juga kesempatan pengembangan karier dan pelatihan profesional. Banyak guru honorer yang sulit mengakses pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensinya karena keterbatasan waktu dan biaya.
Peran Strategis Guru Honorer dalam Pendidikan
Meskipun kondisinya sulit, guru honorer tetap menjadi tulang punggung pendidikan di banyak daerah, terutama di wilayah terpencil dan sekolah swasta. Mereka menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar, memberi motivasi, dan membentuk karakter siswa. Dedikasi mereka berperan sangat penting dalam mempertahankan kualitas pendidikan nasional. Tanpa dukungan layak, kualitas pendidikan berisiko menurun.
Upaya Pemerintah dan Harapan Perbaikan
Berdasarkan data Kemendikbud 2024-2025, jumlah guru honorer di Indonesia masih sangat besar, mencapai sekitar 704.503 orang, dengan distribusi tidak merata antara daerah perkotaan dan terpencil. Guru honorer banyak ditempatkan di daerah-daerah dengan kekurangan guru PNS sehingga mereka sangat krusial dalam menjaga kelangsungan pendidikan.
Untuk meningkatkan kesejahteraan dan status guru honorer, pemerintah menjalankan program seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Pada tahun 2025, sudah ada lebih dari 544.000 guru honorer yang lolos seleksi PPPK, mendapatkan jaminan status yang lebih jelas, dan kesejahteraan yang baik.
Pemerintah juga meluncurkan program pelatihan guru, peningkatan kapasitas, serta intensif khusus untuk guru honorer dan PPPK agar mutu pembelajaran di sekolah negeri di seluruh Indonesia dapat meningkat seiring waktu.
Namun, tantangan seperti ketimpangan distribusi guru antardaerah, keterbatasan akses pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru honorer, serta perbedaan status yang masih terasa antara guru PNS dan honorer masih menjadi pekerjaan rumah besar untuk pemerintah dan stakeholder pendidikan.
Guru honorer merupakan tulang punggung pendidikan Indonesia, terutama di wilayah yang kekurangan tenaga pengajar tetap. Mereka berperan penting dalam menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar meskipun sering kali menghadapi ketidakpastian status dan kesejahteraan yang jauh dari ideal. Upaya pemerintah melalui program PPPK dan berbagai insentif menjadi langkah awal yang penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan status mereka.
Namun, perbaikan kualitas pendidikan tidak boleh berhenti begitu saja. Diperlukan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperjuangkan keadilan, pelatihan berkala, dan distribusi guru yang merata.
Dengan menghargai pengabdian guru honorer secara layak, masa depan pendidikan Indonesia akan lebih cerah dan generasi penerus dapat tumbuh dengan kualitas pendidikan yang lebih tangguh serta bermutu.
