Konten dari Pengguna

Mengapa Makanan di Mall Lebih Mahal? Menurut Teori Lokasi dan Biaya Kesempatan

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari WINDI LASTRIA MEILANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangerang, 8 September 2025

Bagi banyak orang, jalan-jalan ke mall rasanya belum lengkap kalau tidak sambil makan. Tapi ada satu hal yang hampir selalu menimbulkan keluhan seperti harga makanan dan minuman di mall jauh lebih mahal dibandingkan di luar. Sebotol air mineral yang biasanya Rp3.000 di minimarket, bisa melambung menjadi Rp 10.000 sampai Rp. 15.000 bahkan lebih dari itu di food court. Satu porsi ayam goreng tepung dengan nasi bisa mencapai Rp40.000, padahal di warung dekat rumah hanya Rp20.000-an saja.

Lantas, apakah harga tinggi ini sekadar karena pedagang di mall ingin mengambil untung lebih besar? Atau ada penjelasan yang lebih dalam dari pandangan ekonomi?

Jawabannya bisa ditemukan lewat dua konsep ekonomi mikro yaitu teori lokasi dan biaya kesempatan (opportunity cost).

1. Mall dan Teori Lokasi

Dalam teori ekonomi, harga suatu barang atau jasa tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi, tapi juga oleh tempat lokasi nya. Lokasi yang strategis biasanya membuat harga barang dan jasa menjadi lebih tingg,  Contoh nyata nya seperti Mall.

Pedagang di mall harus membayar sewa yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan kios di pinggir jalan. Biaya sewa ini bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan, bergantung pada lokasi dan luasnya. Tentu biaya tersebut tidak mungkin ditanggung sendiri oleh pedagang. Akhirnya, biaya sewa itu ditransfer ke konsumen lewat harga jual.

Selain sewa, mall juga memberikan fasilitas tambahan yang tidak didapat di tempat lain seperti pendingin ruangan, kebersihan, keamanan, area parkir, suasana yang kekinian atau yang biasa disebut “Instagramable” hingga kenyamanan berbelanja. Semua itu menambah nilai pada pengalaman konsumen, dan konsekuensinya, harga pun ikut lebih tinggi.

2. Teori biaya kesempatan

Teori kedua yang menjelaskan ini adalah biaya kesempatan. Dalam ilmu ekonomi, setiap pilihan selalu punya konsekuensi. Jika kita memilih A, maka kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan B.

Konsumen yang berada di mall biasanya tidak datang hanya untuk makan. Mereka datang untuk menonton film, berbelanja, nongkrong bersama teman, atau sekadar berjalan-jalan. Artinya bahwa makan di mall bukan hanya memenuhi kebutuhan perut saja tetapi juga bagian dari pengalaman lebih luas.

Coba sekarang bayangkan jika konsumen memilih keluar mall hanya untuk mencari makanan lebih murah. Mereka harus berjalan lebih jauh, mungkin terkena panas matahari atau hujan, lalu kembali lagi ke mall. Waktu yang terbuang itu juga bernilai itulah yang disebut biaya kesempatan. Dengan kata lain, orang rela membayar lebih mahal demi efisiensi waktu dan kenyamanan.

Bagi pedagang, berjualan di mall juga melibatkan biaya kesempatan. Mereka rela membayar sewa mahal dan mengikuti aturan ketat pengelola mall karena imbalannya adalah akses ke konsumen yang jumlahnya lebih besar dan lebih berdaya beli. Jadi harga tinggi di mall sebenarnya adalah konsekuensi logis dari pertukaran kesempatan itu.

Kesimpulan

Pada akhirnya, ekonomi mengajarkan kita bahwa harga adalah cerminan dari pilihan. Membayar lebih di mall artinya kita membeli kenyamanan, prestise, dan efisiensi waktu. Menolak harga mahal artinya kita memilih alternatif lain dengan konsekuensi tertentu.

https://www.istockphoto.com/id/foto/wanita-senior-asia-berbelanja-di-department-store-gm2205352388-622748157