Bangkit Bersama JNE (Jitu Naikin Ekonomi) Indonesia

windiseptia
Womanpreneur
Konten dari Pengguna
28 Maret 2023 13:40 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari windiseptia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pekerja menyortir paket untuk dikirim ke alamat tujuan di JNE Tegal, Jawa Tengah, Kamis (15/4/2021). Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja menyortir paket untuk dikirim ke alamat tujuan di JNE Tegal, Jawa Tengah, Kamis (15/4/2021). Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Sering kita mendengar sebuah lagu yang berkisah tentang, “ dunia adalah panggung sandiwara karena ceritanya yang mudah berubah…” Senang dan sedih, tawa dan air mata silih berganti saling melengkapi. Sama seperti hal nya roda yang berputar kadang berada di atas dan kemudian berganti ke bawah. Biasanya hal tersebut dirasakan berganti-gantian, beberapa orang, beberapa kelompok, atau mungkin beberapa negara.
ADVERTISEMENT
Namun lain halnya dengan yang satu ini, sesuatu hal kecil ternyata mampu mengubah seluruh Dunia. Sepertinya hal ini takkan pernah terhapus dari ingatan banyak orang, pada akhir bulan Desember tahun 2019, dunia digemparkan dengan kehadiran Virus kecil yang ternyata berdampak dahsyat. Bukan hanya untuk beberapa orang, kelompok, atau negara. Tapi berdampak besar untuk seluruh Dunia. World Health Organization (WHO) menyebutkan Coronavirus Disease telah ditemukan pertama kali di Wuhan, China pada akhir Desember 2019 dengan novel coronavirus 2019(2019-nCoV) yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus- 2 (SARS-CoV-2).
Tak butuh waktu lama, corona virus atau yang lebih akrab disebut Covid-19 menyebar ke beberapa negara termasuk Indonesia. Kasus Corona pertama di Indonesia muncul pada tanggal 2 Maret 2020. Sejak saat itu penambahan kasus harian di Indonesia mengalami pasang-surut selama hampir 3 tahun.
ADVERTISEMENT
Virus kecil nakal ini bukan hanya menyerang pertahanan kesehatan dunia, tetapi juga mempengaruhi kondisi pendidikan, kehidupan sosial, bahkan juga menyebabkan perekonomian dunia khususnya Indonesia merosot jauh. Dampak yang sangat terasa dan mudah sekali dilihat adalah melemahnya konsumsi rumah tangga atau melemahnya daya beli masyarakat secara luas. Masyarakat mengalami penurunan daya beli yang sangat signifikan.
Satu persatu industri besar tumbang dan mengakibatkan pengangguran bertambah disebabkan banyaknya perusahaan yang membuat berbagai kebijakan untuk dapat mempertahankan keberlangsungan bisnisnya, salah satu cara adalah terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di era pandemi. Dikutip dari data Kemenakertrans RI tercatat hingga 2.8 juta korban PHK di era pandemik Covid-19. Bahkan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyatakan ada 5 juta lebih pekerja diPHK. Data dari Kamar Dagang Indonesia (Kadin) lebih besar lagi yakni 15 juta orang yang di-PHK di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kesedihan mendalam karena kehilangan, kekhawatiran akan masa depan, dan ketakutan menghadapi hari esok pun tak dapat dihindari dari benak masyarakat. Berbagai macam peraturan protokol kesehatan dan kebiasaan baru pun dibentuk sebagai cara untuk melindungi diri dari serangan virus mematikan.
Ditengah sesak banyaknya perusahaan besar maupun perusahaan kecil yang gugur di medan perang pandemi Covid-19. Pemerintah gencar menyemangati para pelaku usaha agar terus optimis di masa sulit untuk tetap berusaha bangkit. Terutama para pelaku usaha mikro, karena pemerintah sepakat bahwasanya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dapat dijadikan sebagai mesin pertumbuhan pada masa pandemi. Hal ini karena UMKM merupakan contoh produsen yang mampu menghasilkan barang dan jasa, yang artinya semakin banyak barang dan jasa yang diproduksi oleh UMKM maka pertumbuhan ekonomi bisa terjadi.
ADVERTISEMENT
Dibalik masalah pasti ada solusi, dibalik musibah pasti ada hikmah. Keterbatasan gerak sebagai dampak wabah, ternyata menjadikan masyarakat Indonesia lebih melek digital. Bukan hanya di beberapa kalangan, mau tidak mau hampir seluruh lapisan masyarakat akhirnya lebih akrab dan mulai terbiasa dengan digitalisasi selama masa pandemi. Aktivitas yang dulunya dilakukan dengan tatap muka atau offline seperti berbelanja, belajar, bermain, bersilaturahmi, kini semua dilakukan secara daring atau online.
Semenjak pandemi, banyak seminar-seminar dengan narasumber keren dan berkompeten yang dulunya sulit dijangkau akhirnya bisa didapatkan dengan lebih mudah dan murah, bahkan GRATIS. Tidak tanggung-tanggung, sebagai bentuk dukungan dan kepedulian terhadap Indonesia, JNE yang dikenal sebagai salah satu perusahaan ekspedisi barang terbesar di Indonesia ikut memberikan dukungan terhadap UMKM dengan memberikan pelatihan UMKM bertajuk "10 X Digital Scale Up" dengan pembicara sekaligus praktisi bisnis, kang Dewa Eka Prayoga. Biasanya untuk mengikuti kelas seminar atau pelatihan bisnis oleh kang Dewa, peserta harus merogoh kocek jutaan bahkan puluhan juta. Tapi kali ini, para pelaku UMKM bisa mengikutinya tanpa membayar sepeserpun alias gratis.
ADVERTISEMENT
Alhasil banyak UMKM yang terbantu bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi. Ide-ide kreatif bermunculan, kolaborasi pun gencar dilakukan. Sebagai contoh, pebisnis baju akhirnya mulai memproduksi masker, pebisnis kosmetik akhirnya mulai memproduksi cairan pencuci tangan atau hand sanitizer. Dan masih banyak contoh lainnya.
Salah satu UMKM yang berhasil menerapkan ilmu yang didapat dari seminar JNE adalah Teri Bajak Medan. Usaha kuliner oleh-oleh dari Medan ini sempat terpuruk di awal pandemi. Bagaimana tidak, target pasar yaitu wisatawan terpaksa terhenti total dikarenakan penerbangan domestik dan internasional mengalami penurunan drastis. Hal ini disebabkan virus Covid-19 yang memaksa berbagai negara melakukan penguncian (lockdown).
Hingga akhirnya, berbekal ilmu dari pelatihan online yang diadakan oleh JNE. Teri Bajak menciptakan strategi pemasaran baru untuk meningkatkan penjualan dengan menyediakan paket Hampers kesehatan, yang di dalamnya terdapat produk Teri Bajak, masker, hand sanitizer, serta kartu ucapan.
Hampers kesehatan#lawancovid-19 teri bajak. sumber : foto pribadi
Dan benar saja cara ini mampu menaikkan penjualan yang sempat merosot, juga membantu banyak orang yang ingin memberikan semangat kepada orang-orang tersayang yang sedang terpapar virus covid-19 untuk terus semangat dan optimis. Selain itu, Teri Bajak juga berhasil menerapkan ilmu kolaborasi. Disaat kasus penyebaran Covid-19 mulai menurun, dan penerbangan perlahan mulai aktif kembali. Teri Bajak berkolaborasi dengan Medan Par-Par salah satu oleh-oleh bolu khas Medan. Dua produk berbeda jenis namun dengan target market yang sama ini pun akhirnya bergabung dan membuka toko offline di tengah kota Medan. Hal ini pun berdampak positif terhadap penjualan kedua produk tersebut.
ADVERTISEMENT
Program JNE tersebut benar-benar memberikan dampak yang luar biasa terhadap banyak UMKM, dan sekaligus terbukti membantu menaikkan perekonomian Indonesia yang sempat merosot.
Perlahan tapi pasti, akhirnya saat ini Indonesia dan dunia sudah terlepas dari belenggu wabah covid-19. Panggung sandiwara sudah memasuki episode kebangkitan, roda mulai berputar naik keatas. Selanjutnya, apapun yang terjadi nanti didepan, teruslah optimis, lakukan hal positif walau hanya sebuah langkah kecil. Seperti halnya langkah kecil JNE dalam memberikan dukungan kepada UMKM berupa seminar dan pelatihan yang ternyata terbukti "Jitu Naikin Ekonomi (JNE)" Indonesia.