Bertahan di Tengah Prahara: Kisah Perantau Indonesia di Sri Lanka

Pegawai Kementerian Luar Negeri, merangkap gamers & model kit hoarder
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari wiryawan utomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bertahan hidup di tengah badai pandemi COVID-19 pasti sangat sulit. Tapi apa jadinya kalau harus bertahan hidup saat pandemi di negara orang? Apalagi negara yang jadi “tumpangan hidup” saat ini sedang bergejolak mengalami krisis ekonomi akibat pandemi. Simaklah pengalaman unik Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini merantau di Sri Lanka.

Mati Lampu 13 jam sehari
Zakat, sebagaimana ia biasa dipanggil teman-temannya, adalah seorang anak muda yang memutuskan untuk merantau ke negara yang pernah disebut Ceylon itu. Zakat saat ini bekerja sebagai staf lokal yang menangani administrasi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Colombo, Sri Lanka, sejak tahun 2015.
Bujangan kelahiran tahun 1991 tersebut mengeluhkan situasi Sri Lanka yang sedang mengalami krisis ekonomi sebagai imbas dari pandemi COVID-19.
“sekarang mati lampu sampai 13 jam sehari. Antre bensin di mana-mana, dan gas nggak ada."
Begitu cerita Zakat saat ditanya mengenai krisis ekonomi yang tengah menghantam Sri Lanka. Akibat krisis ekonomi dan krisis cadangan devisa Sri Lanka mengalami kesulitan untuk mengimpor bahan-bahan kebutuhan pokok, termasuk Bahan Bakar Minyak yang dibutuhkan untuk menjalankan pembangkit listrik. Negara itu juga mengalami kelangkaan persediaan obat-obatan sebagai dampak renteng krisis ekonomi.
Pandemi COVID-19 sejak tahun 2020 telah memukul perekonomian Sri Lanka, terutama sektor pariwisata, yang menjadi salah satu tumpuan penerimaan devisa negara tersebut. Turunnya remitansi yang dikirimkan pekerja migran Sri Lanka di luar negeri ikut membuat limbung cadangan devisa.
Sehingga negara tersebut mengalami kekurangan cadangan dolar Amerika yang menurut catatan Bank Sentral Sri Lanka berjumlah USD 2,3 miliar saja di akhir bulan Februari 2022. Hingga tulisan ini dibuat (30 April 2022), gelombang demonstrasi atas keadaan ekonomi yang memburuk masih marak berlangsung di Sri Lanka.
Saat pandemi terjadi di tahun 2020 dan 2021, Zakat merasa beruntung karena statusnya sebagai pegawai KBRI Colombo memungkinkan dirinya lebih mudah memperoleh akses untuk pulang-pergi bekerja ke kantor di KBRI saat Colombo (ibukota Sri Lanka) mengalami lockdown. Polisi dan tentara tak segan untuk menegur siapa pun yang melanggar jam malam (curfew) dan lockdown. Waktu istirahat di kantor yang berharga dimanfaatkan Zakat untuk bersosialisasi dengan rekan kerja sesama WNI.
Tantangan lain yang dihadapi adalah kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok, yang membuat Zakat harus mengencangkan ikat pinggang.
“Saat ini inflasi di Sri Lanka sangat tinggi, seperti produk susu, keju dan buah-buah import naik (harga) karena pajak juga ikut naik. Karena harga naik, kami tidak beli barang – barang itu lagi,” ujarnya.
Krisis ekonomi terberat
Sulitnya situasi ekonomi di Sri Lanka tersebut juga dialami oleh Budiman. Lelaki yang biasa dipanggil pak Budiman oleh rekan kerjanya di KBRI Colombo tersebut menegaskan apa yang dikeluhkan Zakat sebelumnya :
“Selama pandemi, ekonomi di Sri Lanka semakin sulit dan menurun. Apalagi saat ini, mencari gas dan bensin sangat sulit. Harus antre panjang dan persediaan gas (untuk memasak) juga sering tidak tersedia.”
Pak Budiman adalah pegawai senior KBRI Colombo yang telah tinggal di Sri Lanka sejak tahun 1995. Dirinya sempat mencicipi masa-masa sulit saat Sri Lanka masih dicekam perang saudara yang baru berakhir pada tahun 2009. Sri Lanka pada tahun 1990-an hingga tahun 2009 masih berada dalam konflik bersenjata antara pemerintah Sri Lanka melawan kelompok Macan Tamil yang menelan banyak korban jiwa. Konflik tersebut berakhir pada tahun 2009 dengan kemenangan pemerintah.
Menurutnya, pandemi dan krisis ekonomi Sri Lanka saat ini lebih berat dibandingkan dengan masa-masa konflik di tahun 1990-an karena saat itu kebutuhan sehari-hari masih mudah didapatkan walaupun risiko baku tembak atau serangan bom juga cukup tinggi. Dirinya mengenang bagaimana sulitnya beradaptasi dengan keadaan lockdown di awal pandemi, karena terbatasnya persediaan makanan
“Satu dua bulan saat awal pandemi adalah saat yang berat. Karena saat itu saya dan teman-teman belum siap mental untuk dikarantina berhari-hari, dan stok makanan tidak tersedia banyak.”
Namun demikian, Lelaki penggemar paratha dan chicken curry Sri Lanka ini menuturkan kiat-kiatnya untuk tetap optimis dan produktif di tengah-tengah pandemi, yaitu: selalu bersyukur dan mengikuti protokol kesehatan. Hingga saat ini dirinya masih tetap sehat dan tetap bersemangat dalam pekerjaan sehari-hari.
Tetangga kompak
Rasa kangen terhadap tanah air kadang ikut menghantui perantau Indonesia yang tinggal di Sri Lanka selama pandemi dan lockdown. Misalnya Tiurma Nataliza, ibu rumah tangga yang telah tinggal di Sri Lanka sejak tahun 2010, mengaku kangen dengan hidangan gudeg, kupat tahu, dan bubur ayam.
Bu Tiur, sebagaimana ia biasa dipanggil teman-temannya, datang ke Sri Lanka mendampingi suami bekerja pada suatu badan pemerintah Austria yang mengerjakan berbagai proyek di Sri Lanka.
Sepanjang pandemi di tahun 2020 dan 2021, Tiur menghitung setidaknya terjadi 2 hingga 3 kali lockdown di Colombo. Tentunya selama lockdown penduduk tidak diizinkan keluar rumah terkecuali untuk keperluan mendesak. Kebutuhan untuk berobat ke Rumah Sakit juga tidak mudah, karena relatif tingginya risiko penularan COVID-19 saat itu.
“Ya tidak bisa ke gereja, Pak. Terus tidak bisa berkumpul dengan teman. Itu berat juga, lho. Oh ya, kita juga di awal (pandemi) takut pergi ke rumah sakit.”
Untuk mengatasi kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok selama lockdown, kekompakan antar tetangga di apartemen menjadi andalan. Tetangga di apartemen yang terdiri dari warga Sri Lanka dan beberapa warga negara asing, akan saling menginformasikan apabila ada pedagang kebutuhan pokok keliling yang sedang beroperasi di sekitar apartemen dan saling titip kebutuhan pokok saat ada tetangga yang berbelanja secara daring. Keramahan warga lokal Sri Lanka membuat Bu Tiur merasa betah tinggal di Sri Lanka.
“Saya banyak belajar tentang kehidupan di Sri Lanka ini. Yang berkesan (adalah) orang-orang Sri Lanka yang saya temui ramah, tidak arogan dan sederhana.”
Menyikapi situasi Sri Lanka saat ini, Bu Tiur menyampaikan keprihatinannya dengan kelangkaan bahan bakar minyak dan gas, dan seringnya pemadaman listrik dalam waktu lama. Sekalipun saat ini terjadi demonstrasi setiap hari, menurut Bu Tiur aksi demonstrasi berjalan relatif tertib sehingga situasi keamanan Sri Lanka masih tetap kondusif. Dirinya berharap situasi di Sri Lanka segera pulih seperti sediakala.
Selama masa-masa sulit pandemi COVID-19 di Sri Lanka, Bu Tiur bersama teman-teman perantauan Indonesia di Sri Lanka juga ikut aktif melakukan kegiatan sosial. Dalam catatan KBRI Colombo, terdapat lebih dari 200 Warga Negara Indonesia yang berada di Sri Lanka pada tahun 2022.
Pada tahun 2021 yang lalu sebagian warga Indonesia dan Dharma Wanita KBRI Colombo memberikan bantuan sosial ke salah satu Panti Wreda di Colombo untuk meringankan beban warga yang terdampak pandemi. Kegiatan sosial tersebut diharapkan dapat ikut membantu mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan masyarakat Sri Lanka di saat-saat sulit seperti pandemi.
Baru-baru ini Indonesia telah mengirimkan 3,1 ton bantuan obat-obatan ke Sri Lanka yang diberangkatkan dalam 2 kloter. Kloter pertama bantuan obat-obatan tersebut telah diterima Sri Lanka pada hari Kamis (28/4/2022). Tentunya bantuan ini akan menjadi kado manis ulang tahun ke-70 persahabatan Indonesia-Sri Lanka di tahun 2022 ini. A friend in need is a friend indeed!
Wiryawan Prah Utomo
Pegawai Kementerian Luar Negeri RI
pernah tinggal di Sri Lanka tahun 2017-2020
