Konten dari Pengguna

Gerak Cepat Indonesia Kirimkan Bantuan Obat-obatan ke Sri Lanka

wiryawan utomo

wiryawan utomo

Pegawai Kementerian Luar Negeri, merangkap gamers & model kit hoarder

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari wiryawan utomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Krisis ekonomi di Sri Lanka telah mengakibatkan negara tersebut mengalami kesulitan mengimpor kebutuhan pokok seperti bahan bakar, makanan hingga obat-obatan penting. Menyanggupi permohonan bantuan kebutuhan obat-obatan dari Sri Lanka, Indonesia telah mengirimkan 3,1 ton obat-obatan senilai USD 1,6 juta.

Serahterima simbolis bantuan obat-obatan dari Indonesia kepada Sri Lanka, 28 April 2022. (dok. KBRI Colombo)
zoom-in-whitePerbesar
Serahterima simbolis bantuan obat-obatan dari Indonesia kepada Sri Lanka, 28 April 2022. (dok. KBRI Colombo)

Sri Lanka, negara pulau di penghujung selatan India tersebut, sedang mengalami masa-masa tersulitnya sejak negara tersebut merdeka di tahun 1948. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu penyebab menipisnya penerimaan dollar Amerika (USD) ke perbendaharaan negara. Pada bulan Mei 2022, Sri Lanka hanya memiliki sebesar USD 50 juta dollar dari USD 7,5 milyar di akhir tahun 2019.

Keterbatasan mata uang asing tersebut membuat Sri Lanka kesulitan mengimpor kebutuhan pokok, termasuk bahan bakar dan obat-obatan. Antrian panjang masyarakat Sri Lanka kerap terlihat di stasiun pengisian bahan bakar dan pembelian gas tabung untuk memasak. Obat-obatan penting untuk terapi kanker, penyakit jantung, dan lainnya juga mulai sulit ditemui. Kelangkaan obat-obatan ini dirasakan oleh Mallika, seorang karyawati di ibukota Colombo :

“Bahkan (obat seperti) Panadol tidak tersedia di Apotek”

Menurut Mallika, obat-obatan yang masih tersedia di Sri Lanka juga mengalami kenaikan harga. Hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan farmasi setempat harus merogoh kantong lebih dalam lagi akibat kenaikan nilai tukar Dollar Amerika terhadap Rupee Sri Lanka (LKR) yang cukup tinggi.

“ ..Perusahaan-perusahaan farmasi mengajukan kenaikan harga obat karena (kenaikan) nilai tukar dollar. Kalau nilai tukar dollar stabil, importir obat akan lebih mudah mendatangkan obat..”

Sri Lanka dilaporkan mengimpor sekitar 85% dari kebutuhan obat-obatannya. Dengan menipisnya cadangan dollar Amerika, semakin sulit untuk mengimpor kebutuhan obat-obatan penting penyambung nyawa. Terdorong oleh situasi gawat tersebut, Kementerian Kesehatan Sri Lanka telah menyerukan permohonan bantuan obat-obatan melalui World Health Organization (WHO) ke seluruh dunia.

Rasyid Mahmudin, pelaksana fungsi ekonomi KBRI Colombo (dok. KBRI Colombo)

Menjawab permohonan bantuan tersebut, Kementerian Kesehatan RI berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di dalam dan luar negeri bersama 9 perusahaan farmasi Indonesia, telah mengumpulkan donasi yang terdiri dari 10 jenis obat sitostatika, 1 jenis suplemen untuk penderita kanker, dan 8 jenis alat kesehatan seperti Pre-cut Silk & T-Silk Non Absorbable Suture sesuai permintaan Pemerintah Sri Lanka melalui program CSR perusahaan-perusahaan farmasi Indonesia dimaksud. Bantuan obat-obatan seberat 3,1 ton tersebut telah dikirimkan dengan bantuan maskapai Sri Lankan Airlines dalam 2 gelombang pada tanggal 28 April dan 8 Mei 2022, dan diterima oleh pihak Sri Lanka.

Rasyid Mahmudin, Pelaksana Fungsi Ekonomi di KBRI Colombo, menyampaikan bahwa keseluruhan proses penggalangan dan proses pengiriman bantuan obat-obatan tersebut adalah hasil kolaborasi Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri, WHO, dan 9 perusahaan farmasi Indonesia. Rasyid menambahkan bahwa Indonesia merupakan negara pertama yang merespon cepat permohonan dari Sri Lanka, dalam waktu sekitar 10 hari :

“Penggalangan dan proses pengiriman bantuan obat-obatan tersebut merupakan kolaborasi antara Kemenkes, WHO dan Kemlu RI, bersama dengan perusahaan-perusahaan farmasi Indonesia. Indonesia juga negara pertama yang merespon secara cepat dan mengirim bantuan obat-obatn esensial dan alat kesehatan ke Sri Lanka ”

Serah terima bantuan diwakili oleh Duta Besar Indonesia untuk Sri Lanka, Dewi Gustina Tobing, kepada Menteri Kesehatan Sri Lanka, Prof. Channa Jayasumana, mewakili pemerintah Sri Lanka. Dalam acara tersebut Menteri Jayasumana menyampaikan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada pemerintah dan industri farmasi Indonesia yang telah menanggapi permintaan bantuan tersebut dalam waktu singkat. Bantuan tersebut telah disalurkan beberapa rumah sakit milik pemerintah Sri Lanka dengan koordinasi dari WHO Sri Lanka.

Bagaimana masyarakat Sri Lanka menyikapi bantuan obat-obatan Indonesia tersebut? Hashan Wijesinghe, seorang dosen di universitas Kelaniya, Sri Lanka, menyambut baik dan sangat menghargai datangnya bantuan obat-obatan tersebut.

“(bantuan obat-obatan) tersebut sangat baik, karena kami benar-benar sedang mengalami kekurangan obat-obatan. Kalaupun ada obat-obatan, harganya juga mahal”

Bagi Hashan, bantuan obat-obatan dari Indonesia tersebut juga akan membantu mempererat hubungan kedua negara. Apalagi tahun 2022 ini hubungan kedua negara akan memasuki usia 70 tahun sejak hubungan diplomatik resmi dijalin pada tahun 1952.

Hashan Wijesinghe, dosen universitas Kelaniya, Colombo (dok. sdr. Hashan W.)

Lebih jauh, dosen ilmu Hubungan Internasional Universitas Kelaniya ini mengharapkan hubungan bilateral Indonesia-Sri Lanka di masa depan dapat semakin diperkuat dengan masuknya investasi Indonesia. Sri Lanka menurutnya memiliki potensi di sektor perhotelan, pariwisata dan industri karet yang dapat dijajaki pelaku usaha Indonesia.

Apresiasi terhadap datangnya bantuan obat-obatan dari Indonesia juga diutarakan oleh Mallika. Menurutnya bantuan obat-obatan dari Indonesia tersebut akan membantu meringankan situasi kekurangan obat-obatan yang dihadapi masyarakat Sri Lanka saat ini.

Sahabat lama dalam suka dan duka

Hubungan antara Indonesia dan Sri Lanka sebenarnya telah terjalin sejak masa silam, jauh sebelum negara modern Indonesia dan Sri Lanka terbentuk di abad ke-20. Religi (Buddha) menjadi salah satu unsur pertalian Nusantara dan Sri Lanka. Prasasti Abhayagiriwihara yang ditemukan di kawasan candi Ratu Boko dari tahun 792 Masehi mencatat mengenai pembangunan kawasan wihara oleh Rakai Panangkaran yang kemudian dinamakan Abhayagiriwihara. Pembangunan wihara tersebut agaknya mencontoh bangunan serupa di kota Annuradhapura, Sri Lanka, yang juga memiliki nama serupa : Abhayagirivihara (wihara di atas gunung yang jauh dari bahaya)

Saat masa kolonial Belanda di Sri Lanka dan Indonesia, tali pertautan kedua bangsa tersebut semakin rapi tercatat dengan terjadinya migrasi kecil penduduk Nusantara ke Sri Lanka. Buku B.A Hussainmiya yang berjudul “Orang Rejimen : The Malays of the Ceylon Rifle Regiment” memberikan gambaran yang cukup baik mengenai migrasi tersebut, mulai dari mereka yang diasingkan pemerintah kolonial Belanda hingga mereka yang dikirim untuk menjadi bagian dari resimen tentara Melayu di Ceylon (Sri Lanka). Tercatat salah satu tokoh Nusantara yang menjadi pengasingan di Sri Lanka adalah Amangkurat III dari Kasunanan Kartasura hingga Carol Boni, Raja Kupang.

Sebagai catatan, pemerintah kolonial mengkategorikan masyarakat Nusantara yang tinggal di Ceylon berdasarkan bahasa yang mereka gunakan : bahasa Melayu. Menurut sensus pemerintah Sri Lanka di tahun 2012, terdapat sekitar 40.000 keturunan Melayu di Sri Lanka, yang tersebar di beberapa kota besar seperti Colombo, Galle, Kurunegala, dan Hambantota. Mereka ini yang kemudian ikut menyusun komunitas orang Melayu Sri Lanka (Sri Lankan Malay), dan ikut memberikan warna tersendiri pada masyarakat Sri Lanka.

Charles Tambu (ketiga dari kanan), sebagai anggota delegasi RI dalam pertemuan Lake Success, New York, 1947. (wikipedia)

Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui bahwa di masa-masa awal kelahiran negara Indonesia, seorang keturunan Sri Lanka ikut membantu perjuangan Indonesia. Orang tersebut adalah Charles Tambu, yang menurut catatan Rudolf Mrazek dalam bukunya : “Sjahrir : Politics & Exile in Indonesia” adalah seorang jurnalis yang ditangkap tentara pendudukan Jepang di Singapura saat Perang Dunia kedua dan kemudian dibawa ke Indonesia untuk kemudian “ditugaskan” memantau lalu-lintas berita radio tentara Sekutu di sebuah “Radio Camp” Jepang di pinggiran Jakarta.

Sutan Sjahrir mengenang betapa penting peranan Charles Tambu sebagai penterjemah berita-berita tentara Sekutu dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dan bagaimana kelompok nasionalis Indonesia berhasil menjalin komunikasi secara rutin dengan Charles.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Charles Tambu terus membantu perjuangan Indonesia mendapatkan pengakuan di dunia internasional. Charles ikut mendampingi Perdana Menteri Sutan Syahrir dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di Lake Success, Amerika Serikat, bulan Agustus 1947 yang waktu itu Indonesia berhasil menggalang dukungan kecaman dunia terhadap tindakan agresi militer Belanda. Pertemuan di Lake Success tersebut menghasilkan keputusan pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN) untuk membantu penyelesaian pertikaian antara Indonesia dan Belanda. Charles kemudian diberikan kewarganegaraan Indonesia oleh presiden Sukarno, dan sempat ditunjuk sebagai Konsul Jenderal RI di Manila, Filipina, pada tahun 1953.

Melihat betapa lama dan bersejarahnya hubungan kedua bangsa, bantuan obat-obatan Indonesia ke Sri Lanka di masa-masa sulit ini diharapkan dapat menjadi perekat yang lebih erat bagi hubungan bilateral Indonesia dan Sri Lanka. Garis sejarah yang telah terjalin sejak lebih dari seribu tahun yang silam kiranya perlu terus dirajut melalui berbagai kerja sama konkret yang bermanfaat bagi masyarakat kedua negara.

Wiryawan Prah Utomo, pegawai Kementerian Luar Negeri, pernah bertugas di Sri Lanka tahun 2017-2020