Di Tengah Kekhawatiran tentang AI, Justru Ada Peluang Besar
Tulisan dari Wishnutama Kusubandio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semakin dalam saya mempelajari ke mana perkembangan AI bergerak, justru semakin kuat keyakinan saya bahwa kita tidak cukup hanya mencari peluang yang bisa dilakukan AI.
Kita justru harus mencari peluang dari apa yang tidak bisa digantikan oleh AI.
Karena mungkin justru di situlah salah satu peluang terbesar kita.
AI akan membawa banyak kemajuan, meningkatkan produktivitas, membuka kemungkinan baru, dan membantu manusia menyelesaikan banyak persoalan dengan cara yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Tetapi di balik semua excitement itu, ada kegelisahan yang nyata. Realita yang ada saat ini adalah keberhasilan sebuah inisiatif AI adalah bagaimana mereka mampu menggantikan peran manusia dan mengurangi secara signifikan proses yang selama ini ada
Anak muda mulai bertanya apakah keahlian yang mereka pelajari hari ini masih akan relevan beberapa tahun lagi. Para profesional mulai memikirkan seperti apa pekerjaan mereka lima atau sepuluh tahun ke depan. Orang tua bertanya apa yang sebaiknya dipelajari anak-anak mereka untuk menghadapi perubahan yang begitu cepat.
Kekhawatiran itu wajar. Tetapi kita tidak boleh hanya melihat masa depan dengan kecemasan, kita perlu harapan baru.
Sebagai bangsa, kita juga perlu melihat perubahan besar ini sebagai kesempatan untuk menemukan sumber pertumbuhan baru, membuka lapangan kerja baru, dan menciptakan harapan baru.
Ketika Pengalaman Manusia Menjadi Semakin Bernilai
Saya melihat salah satu peluang itu ada pada Experience Economy.
Dalam bahasa Indonesia, mungkin kita bisa menyebutnya Ekonomi Karsa, ekonomi yang menciptakan nilai dari pengalaman, perasaan, kreativitas, dan karya manusia.
Cakupannya sangat luas, dari sport events, culinary experience, pariwisata, hospitality, pertunjukan seni dan teater, wellness, education, cultural festivals, theme parks, events dan konser, exhibitions, museums, eco dan conservation tourism, sampai berbagai bentuk pengalaman lain yang mungkin belum kita bayangkan hari ini.
Semuanya mempunyai satu kesamaan: yang dicari manusia bukan hanya produk atau jasa, tetapi sesuatu untuk dialami, dirasakan, dinikmati, dibagikan, dan akhirnya diingat.
AI bisa membuat musik, tetapi berada di tengah puluhan ribu orang dalam sebuah konser dan merasakan energi yang sama adalah pengalaman yang berbeda. AI bisa menghasilkan gambar pantai yang sempurna, tetapi melihat matahari terbenam bersama keluarga, merasakan angin dan mendengar suara ombak tidak bisa digantikan oleh sebuah layar. AI bisa membuat resep yang luar biasa, tetapi menikmati makanan bersama orang yang kita sayangi dan merasakan cerita serta budaya di baliknya tetaplah pengalaman manusia.
Di situlah ada paradoks yang menurut saya menarik.
Semakin AI menjadi bagian dari kehidupan kita, pengalaman manusia yang autentik justru bisa menjadi semakin langka. Dan karena semakin langka, nilainya bisa semakin tinggi.
Kita tentu membutuhkan data dan algoritma. Tapi masa depan manusia jangan sampai hanya menjadi hasil dari recommendation engine, filter bubble, dan echo chamber.
Kita tetap membutuhkan surprise, discovery, serendipity, human connection, dan pengalaman nyata yang tidak selalu bisa diprediksi oleh algoritma.
Karena sering kali, hal-hal yang paling kita ingat dalam hidup justru datang dari sesuatu yang sebelumnya tidak kita cari.
Ini bukan berarti Experience Economy melawan AI. Justru AI bisa memperkuatnya, membuat pengalaman lebih personal dan efisien, membantu creator menjangkau dunia, membantu UMKM ditemukan, menghilangkan hambatan bahasa, serta meningkatkan kualitas pelayanan.
AI-assisted, but human-experienced.
Ini adalah salah Satu Lowest-Hanging Fruits Kita
Indonesia tentu harus terus berupaya membangun kemampuan AI. Kita membutuhkan talent, technology, infrastructure, research, data, dan digital capability yang semakin kuat. Kita tidak boleh tertinggal.
Tetapi kita juga harus cukup percaya diri melihat kekuatan yang sudah kita miliki.
Indonesia punya alam, budaya, biodiversity, kuliner, musik, film, kreativitas, hospitality, komunitas, cerita, dan keragaman manusia yang luar biasa.
Kita tidak memulai Experience Economy dari nol. Banyak modal dasarnya sudah berada di sekitar kita.
Karena itu saya melihat Experience Economy sebagai salah satu lowest-hanging fruits Indonesia di era AI.
Pada 2016, devisa pariwisata Indonesia mencapai sekitar US$13,6 miliar dan berada di posisi kedua setelah kelapa sawit sebagai penyumbang devisa. Menjelang pandemi, pada 2019 angkanya meningkat menjadi sekitar US$18,4 miliar, dan menurut Bank Indonesia saat itu pariwisata menjadi sumber devisa terbesar kedua setelah batu bara.
Dan itu baru pariwisata. Baru satu bagian dari Experience Economy.
Bayangkan jika sport events, culinary experience, pariwisata, hospitality, bioskop dan teater, wellness, education, cultural festivals, theme parks, events dan konser, exhibitions, museums, eco dan conservation tourism, serta berbagai sektor lainnya mulai kita lihat sebagai satu kesatuan.
Potensinya bukan hanya devisa. Experience Economy bisa menciptakan pekerjaan, menggerakkan UMKM, menghidupkan daerah, membuka pasar bagi kreativitas, dan memberi peluang kepada jutaan orang yang mungkin tidak akan menjadi AI engineer atau data scientist tetapi tetap memiliki sesuatu yang sangat bernilai: kemampuan menciptakan pengalaman bagi manusia lain.
Ke Mana Setiap Dolar Mengalir?
Ada alasan lain mengapa Experience Economy menurut saya sangat menarik.
Coba lihat ke mana setiap dolar yang dibelanjakan akhirnya mengalir.
Dalam AI dan Digital Economy, setiap dolar yang kita keluarkan cenderung bergerak ke atas dalam ecosystem teknologi, ke platform besar, cloud computing, chips, data centers, model providers, dan perusahaan teknologi global.
Mereka tentu menciptakan value yang luar biasa besar. Tetapi nilai ekonominya cenderung terkonsentrasi pada jumlah pemain yang relatif terbatas.
Experience Economy bekerja dengan cara yang berbeda.
Bayangkan seseorang datang ke sebuah kota untuk menonton konser. Ia membeli tiket pesawat, menggunakan transportasi lokal, menginap di hotel, makan di restoran, membeli kopi dan merchandise, mengunjungi tempat wisata, lalu mungkin membeli produk lokal untuk dibawa pulang.
Di belakang konser itu ada musisi, creative team, stage crew, sound, lighting, security, catering, transportasi, production workers, sampai tenaga kebersihan.
Satu pengalaman bisa menghidupi begitu banyak orang dan keluarga.
Uangnya tinggal di negeri kita, bergerak dan menyebar, dari perusahaan besar ke bisnis kecil, dari kota besar ke daerah, dari hotel dan restoran ke pekerja kreatif, pengemudi, UMKM, dan pada akhirnya ke banyak keluarga.
Bagi saya, inilah salah satu kekuatan Experience Economy: bukan hanya menciptakan economic value, tetapi menyebarkan economic value.
Dan bagi negara sebesar Indonesia, itu sangat penting.
Kita Membutuhkan Grand Strategy yang Terpadu
Sebenarnya banyak inisiatif yang menjadi bagian dari Experience Economy sudah dilakukan, baik di Indonesia maupun di banyak negara.
Masalahnya, sering kali semuanya masih berjalan sendiri-sendiri. Tourism dilihat sebagai tourism, sports sebagai sports, creative industry sebagai creative industry, culture sebagai culture, education sebagai education dan lain-lain.
Padahal semuanya saling menguatkan.
Sebuah sport event bisa menjadi tourism, tourism menggerakkan culinary dan hospitality, film bisa memperkuat sebuah destinasi, culture bisa melahirkan festival, education menciptakan international mobility, conservation tourism bisa menghasilkan nilai ekonomi sekaligus menjaga alam, sementara transportasi menghubungkan semuanya.
Jadi mungkin yang kita butuhkan bukan selalu sektor atau program baru.
Yang jauh lebih penting adalah cara baru melihat dan menghubungkan apa yang sebenarnya sudah kita miliki.
Kita membutuhkan framework dan blueprint yang melihat Experience Economy sebagai satu ecosystem dan satu grand economic strategy, bukan kumpulan sektor yang berjalan sendiri-sendiri.
Inovasi Tidak Melulu Tentang Teknologi
Kita sering mendengar bahwa untuk maju, sebuah bangsa harus terus melakukan inovasi.
Saya sangat setuju.
Tetapi inovasi tidak selalu harus berarti menciptakan teknologi baru.
Inovasi juga bisa berarti melihat aset lama dengan perspektif baru, menghubungkan sesuatu yang sebelumnya terpisah, menciptakan pengalaman dan model bisnis baru, membuka pasar baru, serta menemukan value baru dari sesuatu yang sebenarnya sudah kita miliki sejak lama.
Di saat dunia berlomba membuat mesin semakin pintar, kita juga bisa berinovasi membuat pengalaman manusia semakin bernilai.
Jangan Terjebak dalam Someone Else’s Playbook
Kita sering terlalu cepat bertanya, “Negara lain melakukan apa?”
Mungkin kita perlu lebih sering bertanya:
“Apa yang kita punya, dan bagaimana kita membuatnya bernilai bagi dunia?”
Sebuah bangsa tidak akan menciptakan keunggulan besar jika terus terjebak dalam someone else’s playbook.
Kita juga harus berani membuat playbook kita sendiri.
Indonesia mempunyai kombinasi alam, biodiversity, budaya, kreativitas, keragaman, hospitality, cerita, dan manusia yang sangat sulit direplikasi.
Ini bukan sekadar heritage. Ini adalah aset besar besar bangsa dan ekonomi kita.
Berbagai inisiatifnya sebenarnya sudah banyak dilakukan. Tantangannya adalah bagaimana kita tidak membiarkan semuanya terus berjalan sendiri-sendiri dalam silo, tetapi mulai menghubungkannya menjadi satu ecosystem dan satu grand strategy.
Masa Depan Tidak Harus Tentang Cerita Manusia yang Kalah dari Robot
Saya percaya AI adalah masa depan yang penting.
Kita harus ikut membangun, menggunakan, dan mengambil sebanyak mungkin manfaat darinya.
Tetapi masa depan bukan harus menjadi cerita tentang manusia yang akan kalah dari mesin.
Justru perkembangan AI bisa membuat kita kembali melihat apa yang paling bernilai dari manusia: kreativitas, empati, budaya, kebersamaan, rasa, kehadiran, dan kemampuan menciptakan pengalaman yang berarti bagi manusia lain.
Karena itu, ketika dunia berlomba bertanya apa lagi yang bisa dilakukan AI, kita juga perlu berani bertanya:
Apa yang tidak bisa digantikan oleh AI, dan bagaimana kita membangun masa depan dari sana?
Kita tidak harus memenangkan setiap perlombaan yang dibuat orang lain.
Kita juga bisa menciptakan arena kita sendiri, di mana teknologi menjadi enabler tetapi manusia tetap menjadi pusatnya, sebuah arena yang membuka pekerjaan, menggerakkan kreativitas, menghidupkan UMKM, membangun daerah, dan memberikan harapan baru bagi jutaan orang.
Semakin dalam saya mempelajari masa depan AI, semakin saya percaya bahwa salah satu peluang besar kita justru ada pada sesuatu yang sudah kita miliki sejak dulu: kemampuan manusia untuk membuat manusia lain merasa, mengalami, dan mengingat.
Itulah Experience Economy, atau Ekonomi Karsa.
Dan mungkin, di tengah segala kekhawatiran tentang masa depan manusia di era AI, justru di sanalah salah satu harapan terbesar kita berada.

