Aku yang Selalu Kalah dengan Malam Takbiran

Wartawan kumparan
Tulisan dari Wisnu Prasetiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Malam takbiran yang ceritanya selalu sama.
Dulu ku selalu menangis karena aku harus bertakbir karena bapakku harus berjaga malam. Kini, aku tetap menangis di malam sakral ini.
Dulu, setidaknya 10-15 tahun lalu, aku adalah anak bapakku. Dikatakan demikian, karena aku selalu mengandalkan dia, di setiap kondisiku.
Bahkan kumasih tidur sekasur dengannya hingga SMP. Bapakku dulu satpam di sebuah sekolah, setiap malam takbiran ia selalu berjaga malam. Meninggalkan kami.
Tak jarang aku menangis meminta untuk ikut menemaninya berjaga. Khawatir, sesuatu yang buruk menimpanya. Jadi, ya begitu. Aku tak ingin menghabiskan megahnya Lebaran tanpa Bapak.
Jadi lah, hampir setiap malam Lebaran kala itu kulewati dengan rengekan.
Singkat cerita, kini ketika Bapak pergi, sudah 9 tahun, aku tetap menangis. Magis takbiran memang luar biasa. Suasana sendu ditinggal Ramadhan bercampur dengan perasaan riang menjemput kemenangan.
Gema takbir.
Ya senandung mengagungkan kebesaranNya menambah malam syahdu takbiran. Sulit menahan tangis ketika malam takbiran tiba.
Kini, aku hidup di rumah 5 x 2 meter bersama ibuku.
Lagi, aku menangis ketika malam takbiran menyapa.
Ibuku sudah 60 tahun lebih, terakhir ia dirawat di rumah sakit karena jantungnya bermasalah.
Kini dia berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Capek sedikit bisa membuatnya sakit.
Namun, seperti apapun kondisinya, ia tetap bersemangat menyiapkan sajian lebaran andalan keluargaku. Ketupat legit, sayur kacang panjang nikmat dan semur daging menggoda selera.
Ibu tetaplah ibu. Aku sudah ingatkannya untuk tak terlalu lelah. Namun semangat ingin menyajikan tradisi tahunan itu mengalahkan segalanya.
Tepat di malam takbiran ini, aku lagi-lagi merasakan lezatnya ketupat Lebaran ibuku. Waktu berbuka puasa terakhir di tahun ini aku habiskan untuk melahap makanan itu.
Lagi, aku menangis di malam takbiran.
Sambil mendengar takbir berkumandang dan menyantap ketupat itu, aku merenung.
"Oh ternyata aku sudah menghabiskan hidupku selama ini. Kini aku menjadi tumpuan. Ibuku yang selalu mencintaku dan kucintai sudah tak meminta macam-macam lagi, kecuali waktu kebersamaan denganku Namun mengapa aku kerap melawan dengan tidak menyediakan waktuku untuknya. Lalu mengapa aku sibuk memikirkan perempuan lain yang nyatanya tak membuatku kuat."
Lagi, aku menangis di malam takbiran ini. Dan, aku benar-benar merasa menjadi pengecut.
Pengecut? Ya seperti itu.
Malam takbiran selalu sukses membuatku merasa menjadi seorang pengecut.
