Konten dari Pengguna

Tak Ada yang Istimewa dari Kekalahan Marcus/Kevin, Ini Olimpiade!

Wisnu Prasetiyo

Wisnu Prasetiyo

Wartawan kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wisnu Prasetiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon Kevin Sanjaya Sukamuljo pada pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo, Jepang. Foto: Markus Schreiber/AP PHOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon Kevin Sanjaya Sukamuljo pada pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo, Jepang. Foto: Markus Schreiber/AP PHOTO

"Yes all Indonesian final," cuit ratusan netizen kemarin, Rabu (28/7).

Mereka begitu optimistis melihat undian quarter finals Olimpiade Tokyo 2020 di sektor ganda putra cabang bulu tangkis. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo bertemu Aaron Chia/Soh Wok Yii dari Malaysia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berjumpa pasangan Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.

Sebagai juara grup A dan D, keduanya dipastikan tak akan bertemu di babak sebelum final. Tentu dengan catatan The Minions dan The Daddies berhasil mengalahkan lawan-lawannya.

Suara optimisme digaungkan para BL (Badminton Lovers). Teriakan All Indonesian Final menggema mengingat rekor pertemuan andalan Indonesia dengan lawannya teramat baik.

Sebelum laga hari ini, Marcus/Kevin tak pernah kalah dari ganda Malaysia dalam 7 pertemuan terakhir. Sementara head to head Daddies dengan Kamura/Sonoda juga apik.

Tapi, dalam hati sebagai BL yang nggak fanatik-fanatik amat, saya ingin berteriak ke mereka yang sudah teriak-teriak All Indonesian Final.

"Woy ini Olimpiade!"

Semua bisa terjadi. Mengutip pernyataan Babah Ahsan, di Olimpiade jangan lihat rekor pertemuan. Bisa saja satu pasangan tak pernah menang lawan musuh besarnya, tapi di Olimpiade kemenangan pertama itu muncul.

Tak usah jauh-jauh. Kemarin, siapa yang menyangka Kento Momota unggulan pertama bertekuk lutut melawan tunggal Korea Selatan Heo Kwang Hee, dua game langsung.

Bahkan Heo tak masuk radar untuk sekadar lolos dari grup. Tapi sekali lagi ini Olimpiade.

Semua bisa terjadi.

Dalam pertandingan hari ini, sembari tetap memantau Varian Delta Plus, saya melihat magis Olimpiade sudah mulai terlihat dari bola pertama yang dilepaskan ganda Negeri Jiran.

Soh Wok Yii yang biasanya bisa dimatikan Kevin tampil trengginas di depan net. Tiap kali dapat poin energinya pun berlipat-lipat.

Sampai pada saat serve Kevin dinyatakan fault dua kali oleh service judge, saya langsung merasa belum tahun ini, belum di Olimpiade Tokyo keduanya meraih medali emas. Mungkin saja di Paris 2024.

Game pertama pun diambil oleh Ganda Malaysia. Coach Harry IP pun memberikan petuahnya di masa jeda.

"Enakin mainnya. Ayo masih bisa."

Game kedua berjalan lebih seru. Skor rapat. Tapi lagi-lagi momen 'Olimpiade' terjadi lagi.

Saat serve The Minions dinyatakan terlalu tinggi di angka-angka kritis. Kevin pun sampai membanting raket saking kesalnya.

"Sudah tak ada harapan. Tapi enggak papa, Kevin juga manusia," kata saya sambil menatap layar TV.

Dan akhirnya memang andalan Indonesia itu kalah.

Kecewa, tapi tak sampai segitunya. Sebab, saya bukan termasuk dari mereka yang sudah teriak All Indonesian Final bahkan saat laga quarter final belum dimulai.

Kalau sudah begitu, sekali lagi, jangan sekecewa itu. Apalagi sampai melontarkan kata-kata yang kurang apik ke The Minions.

Kamu seperti itu karena ekspektasimu sendiri. Padahal kamu tahu, The Minions sangat super di Super Series tapi mereka belum teruji di major event.

Mereka belum pernah juara World Tour Finals, mereka baru sekali tampil di Olimpiade.

Jangan lupa, ini Olimpiade! Bukan cuma skill, tapi ada magis yang harus kamu ingat bisa jadi batu sandungan utama.

Tetap semangat, Minions. Win ratemu masih di atas 85 persen sepanjang karier. GOAT.

Masih ada Paris, masih ada kejuaraan lain. Atau mungkin untuk Kevin, mungkin saja bisa dicoba main rangkap? Bersama Apriyani Rahayu misal?