Konten dari Pengguna

Lengger Banyumasan: Seni Drama Yang Hampir Punah

Wiwid Febriansyah

Wiwid Febriansyah

Halo...saya seorang mahasiswa disalah satu universitas yang ada di jawa tengah, khususnya purwokerto yaitu di Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP). Saya mengambil jurusan Teknik Elektro dan memiliki minat yang besar dalam pemrograman.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wiwid Febriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lenggeran adalah seni drama tradisional Banyumas yang dipadukan dengan seni tari dan dialog.

ilustrasi tari lengger | sumber : freepik
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi tari lengger | sumber : freepik

Jenis kesenian rakyat ini biasanya digelar di lapangan atau pelataran rumah yang sedang mengadakan acara pesta. Lengger paling umum adalah lengger wanita yang biasa ditemani seorang badhut yang akan muncul di tengah-tengah waktu pertunjukan.

Musik pengiringnya biasanya menggunakan alat musik calung Banyumasan. Pada akhir pertunjukan, penonton dapat naik ke panggung untuk berdansa bersama lengger atau memberikan saweran kepada lengger wanita.

Berikut adalah urutan babak dalam pertunjukan Lenggeran:

1. Babak Lenggeran

ilustrasi babak lenggeran | sumber : unsplash

Babak lenggeran atau babak perkenalan dimulai dengan kedua lengger naik ke panggung atau ke tengah lapangan, kemudian mereka memberi salam kepada penonton. Setelah dikenal, lenggeran mulai menari sambil bergoyang mengikuti irama musik calung Banyumasan. Ini adalah awal dari tarian 'njoged' yang dipadukan dengan melodi calung Banyumasan, kemudian lengger berjalan perlahan (tanpa menari) menyusuri panggung sambil menyanyikan lagu selingan.

2. Babak Badhutan

Badhut dilakonkan oleh pria, berfungsi untuk menciptakan suasana yang menghibur. Badhut harus pandai bercanda, pandai menari, dan juga pandai bernyanyi. Biasanya, badhut menggunakan penutup muka seperti topeng badhut.

ilustrasi babak badhutan | sumber : shutterstock

Pada babak badhutan, badhut bersama lenggeran menari sambil bermain canda. Candaan tersebut harus memiliki makna lelucon, kritik sosial, sindiran, dan ironi terhadap situasi atau konflik masyarakat. Gaya tari badhut harus lucu, dan lagunya tidak baku, bisa diimprovisasi untuk menyisipkan kritikan.

3. Babak Jaran Calung

Babak ini dimulai dengan penampilan badut yang kemudian berganti busana menjadi tarian baladewan, sementara badhut mulai menari dengan menggunakan jaran kepang. Badhut menari dengan gaya khas jaran kepang sambil diiringi musik calung, kendang, dan lagu rakyat lenggang kangkung.

babak jaran calung | sumber : unsplash

Gaya tari tersebut harus dinamis dan memiliki makna tantangan atau protes terhadap situasi sulit dalam masyarakat. Sambil menari dengan gaya emosi atau dorongan nafsu yang marah, badhut harus tetap menyajikan gerakan yang lucu sehingga penonton senang.

Dalam babak ini juga diselipkan pertunjukan makanan sesajen yang sudah dipersiapkan. Adegan ini termasuk bagian dari inti permasalahan, menandakan bahwa krisis dalam masyarakat sudah terjadi. Penonton akan merasakan ketegangan situasi.

4. Babak Baladewan

Babak baladewan berisi tarian baladewan yang memiliki makna: memohon kepada Tuhan dan mengucapkan syukur karena pertunjukan lengger telah selesai, lancar, dan tertib.

Babak baladewan menjadi penutup yang menandakan bahwa pertunjukan lengger telah berakhir. Ini merupakan tahap penyelesaian atau penutupan dari masalah atau krisis yang ada dalam masyarakat.

Dengan demikian, Lenggeran tidak hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan dan makna yang dalam tentang kehidupan masyarakat tradisional Banyumas.