Benteng Blokhuis Kediri: Bangunan Belanda yang Masih Bertahan di Tengah Kota
Tulisan dari WS Nurbaiti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu sedang berada di Kota Kediri, coba sesekali perhatikan bangunan-bangunan tua yang masih bertahan di tengah kota. Salah satunya Benteng Blokhuis. Letaknya berada di jantung Kota Kediri dan mungkin setiap hari dilewati banyak orang tanpa sadar kalau bangunan itu sudah ada sejak zaman Belanda.
Benteng ini dibangun pada 1835, ketika pemerintah kolonial Belanda masih sibuk memperkuat kekuasaannya di berbagai wilayah Nusantara. Fungsinya bukan buat tempat wisata, apalagi tempat foto-foto seperti zaman sekarang. Benteng Blokhuis dulu digunakan sebagai pusat pertahanan sekaligus pengawasan Sungai Brantas.
Menariknya, hampir dua abad kemudian, bangunan yang dulu menjadi bagian dari pertahanan kolonial itu masih bertahan. Bahkan sekarang fungsinya sudah berubah menjadi Markas Kepolisian Resor Kediri Kota. Dari tempat yang dulu dipakai Belanda untuk mengawasi wilayah, sekarang justru dipakai aparat negara Indonesia. Sejarah memang kadang punya cara sendiri untuk membuat kita geleng-geleng kepala.
Benteng peninggalan Belanda yang masih terjaga
Kalau mendengar kata benteng, biasanya yang terbayang adalah bangunan besar dengan tembok tinggi, meriam, dan suasana yang terasa sedang berada di film perang. Tapi Benteng Blokhuis punya cerita sendiri. Bangunan ini dibangun Belanda pada 1835. Pada masa itu, Sungai Brantas punya posisi penting bagi wilayah Kediri. Karena itu, keberadaan benteng bukan sekadar untuk gagah-gagahan dengan tembok tebal. Tempat ini digunakan sebagai pusat pertahanan dan pengawasan kawasan Sungai Brantas.
Bayangkan saja, hampir dua ratus tahun lalu ketika Kota Kediri belum seramai sekarang, bangunan ini sudah berdiri di tengah aktivitas kota. Kendaraan belum memenuhi jalan, gedung modern belum menjulang, tetapi Benteng Blokhuis sudah menjadi bagian dari strategi pemerintah kolonial. Sekarang kondisinya tentu berbeda. Kota Kediri sudah berkembang, jalan-jalan semakin ramai, dan kehidupan masyarakat jauh berubah. Tapi bangunan tua itu masih ada.
Dari mengawasi Brantas sampai menjaga kota
Bagian yang menurut saya paling menarik justru bukan hanya soal usianya. Benteng Blokhuis sekarang digunakan sebagai Markas Kepolisian Resor Kediri Kota. Agak unik juga kalau dipikir-pikir. Dulu bangunan ini digunakan pemerintah kolonial Belanda untuk kepentingan pertahanan dan pengawasan. Sekarang tempat yang sama digunakan aparat Indonesia.
Dulu yang dijaga kepentingan kolonial, sekarang menjadi bagian dari institusi negara sendiri. Bangunannya tetap, zamannya yang berganti. Dan mungkin begitulah cara sebuah bangunan tua bercerita. Dia tidak bisa bicara, tetapi keberadaannya bisa menunjukkan bahwa Kota Kediri pernah melewati masa yang panjang. Ada masa kolonial, masa perjuangan, kemerdekaan, sampai akhirnya menjadi kota seperti sekarang.
Hampir dua abad, semoga warisannya tetap terjaga
Masalahnya, kita sering kali terlalu terbiasa dengan sesuatu yang ada di depan mata. Karena setiap hari melihatnya, kita menganggap biasa. Padahal kalau dipikir-pikir, bangunan yang dibangun pada 1835 itu sudah melewati begitu banyak generasi.
Orang yang membangunnya mungkin sudah lama tidak ada. Orang yang pernah bekerja di dalamnya juga sudah berganti berkali-kali. Pemerintah yang dulu menggunakan bangunan ini bahkan sudah tidak berkuasa lagi. Tapi Benteng Blokhuis masih berdiri.
Sayangnya, keberadaan bangunan bersejarah sering hanya dianggap sebagai bangunan tua. Padahal ada cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar usia temboknya. Benteng Blokhuis bisa menjadi pengingat bahwa sejarah kolonial bukan sesuatu yang hanya ada di buku pelajaran. Di Kediri, jejaknya masih bisa ditemukan di tengah kota.
Sejarah jangan hilang demi kebaruan bangunan
Saya kira Benteng Blokhuis tidak harus dipaksa menjadi tempat wisata seperti benteng-benteng lain. Bagaimanapun, sekarang bangunan itu memiliki fungsi sebagai markas kepolisian. Tetapi nilai sejarahnya tetap layak dikenalkan kepada masyarakat.
Bayangkan kalau setiap warga Kediri tahu bahwa di tengah kota mereka ada bangunan yang sudah berdiri sejak 1835. Anak-anak sekolah bisa mengenalnya bukan hanya dari buku, tetapi juga dari bangunan yang masih ada sampai sekarang. Sebab kota yang maju bukan berarti semua bangunan lamanya harus disingkirkan.
Kadang kita memang perlu membangun gedung baru, memperlebar jalan, dan mengikuti perkembangan zaman. Tapi kalau semua yang lama dianggap tidak berguna, lama-lama sebuah kota hanya punya bangunan baru tanpa cerita.
Benteng Blokhuis sudah bertahan hampir dua abad. Ia pernah menjadi bagian dari kekuasaan kolonial, pernah mengawasi Sungai Brantas, dan sekarang menjadi bagian dari institusi negara Indonesia yang semoga tetap dijaga keberadaannya.

