Konten dari Pengguna

Stasiun Waru Sidoarjo: Peninggalan Kolonial yang Kini jadi Andalan Komuter Lokal

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari WS Nurbaiti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penumpang menunggu kereta di peron dalam Stasiun Waru. (Foto. Dokumen Pribadi – W.S Nurbaiti)
zoom-in-whitePerbesar
Penumpang menunggu kereta di peron dalam Stasiun Waru. (Foto. Dokumen Pribadi – W.S Nurbaiti)

Seringnya perjalanan dari Kediri ke Surabaya membuat saya tidak asing dengan Stasiun Waru selepas melintasi Flyover Waru, Sidoarjo. Stasiun ini memiliki letak strategis, dekat jalan raya utama dan Terminal Purabaya. Membuat banyak orang datang dan pergi silih berganti dari stasiun ini. Tapi siapa sangka, tempat yang sekarang sibuk mengantar penumpang ternyata sudah punya cerita sejak zaman kolonial.

Stasiun Waru berada di Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Sidoarjo sudah ada sejak era kolonial Belanda dan menjadi bagian dari jalur kereta api Surabaya–Pasuruan yang dikelola perusahaan Staatsspoorwegen (SS).

Jalur kereta api yang melewati kawasan Waru mulai beroperasi pada 1878. Jalur ini menjadi bagian dari proyek perkeretaapian SS di Jawa Timur yang menghubungkan Surabaya, Sidoarjo, hingga Pasuruan. Dulu kereta api bukan cuma soal membawa orang dari satu kota ke kota lain. Jalur kereta juga punya urusan penting dengan hasil bumi dan kepentingan logistik pemerintah kolonial.

Dulu Angkut Hasil Bumi, Sekarang Angkut Penumpang

Perangkat persinyalan mekanik di Stasiun Waru jenis Siemens & Halske masuk ke Indonesia diperkirakan kuat awal 1920. (Foto. Dokumen Pribadi – W.S Nurbaiti)

Kalau sekarang Stasiun Waru lebih identik dengan penumpang kereta lokal yang buru-buru mengejar waktu, sebab sepengetahuan saya hanya Ka Probowangi saja kereta jarak jauh yang berhenti di stasiun ini. Selebihnya semua komuter lokal yang hilir mudik membawa penumpang, padahal dulu ceritanya agak berbeda.

Kereta api pada masa kolonial punya fungsi besar untuk mengangkut hasil bumi dari berbagai daerah menuju pusat perdagangan. Jalur Surabaya–Sidoarjo–Pasuruan menjadi salah satu bagian penting dari jaringan tersebut. Posisi Waru juga cukup strategis. Wilayah ini berada di antara Surabaya dan Sidoarjo, sehingga sejak dulu punya peran sebagai kawasan penyangga mobilitas kedua wilayah.

Jadi, jangan heran kalau stasiun yang kelihatannya biasa saja ternyata punya sejarah yang lumayan panjang. Relnya mungkin cuma besi yang membentang, tetapi perjalanan yang pernah melewatinya sudah berganti-ganti zaman.

Ada satu cerita yang menurut saya menarik dari Stasiun Waru. Dulu stasiun ini sempat dilengkapi fasilitas terminal peti kemas. Jadi, tempat ini bukan cuma digunakan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, tetapi juga pernah menjadi bagian dari aktivitas bongkar muat barang.

Denyut Nadi Transportasi Kereta Api

Genta stasiun mekanik di Stasiun Waru telah digunakan di jaringan perkeretaapian Indonesia sejak masa kolonial Hindia Belanda, diperkirakan mulai akhir abad ke-19. (Foto. Dokumen Pribadi – W.S Nurbaiti)

Kawasan Waru yang sekarang padat kendaraan dan bangunan, dulu juga pernah sibuk dengan aktivitas logistik melalui jalur kereta api. Namun zaman berubah. Sistem angkutan barang semakin berkembang dan efisiensi operasional membuat kegiatan bongkar muat peti kemas di Waru akhirnya dipindahkan sepenuhnya ke Stasiun Kalimas di Surabaya.

Stasiun Waru pun perlahan meninggalkan cerita sebagai tempat aktivitas logistik dan lebih fokus melayani perjalanan penumpang. Perubahan fungsi Stasiun Waru sebenarnya menunjukkan bagaimana kebutuhan kota ikut berubah.

Dulu kereta dibutuhkan untuk mengangkut hasil bumi dan barang. Kemudian berkembang menjadi bagian dari aktivitas logistik. Sekarang, Stasiun Waru justru lebih sibuk mengantarkan manusia yang setiap hari bergerak antara Sidoarjo, Pasuruan dan Surabaya.

Apalagi lokasinya cukup strategis. Stasiun ini berada di dekat jalan raya utama dan tidak jauh dari Terminal Purabaya atau Bungurasih. Kombinasi itu membuat kawasan Waru menjadi salah satu titik penting pergerakan masyarakat.

Kini masanya terus berputar. pagi hari, orang berangkat kerja. Siang ada yang bepergian. Sore dan malam, penumpang kembali ke rumah. Kereta datang, penumpang turun. Kereta berangkat, penumpang berikutnya menunggu. Begitu terus setiap hari cara Stasiun Waru menjadi denyut nadi transportasi kereta api.

Rel Lama, Cerita yang Terus Menyesuaikan Zamannya

Kalau dipikir-pikir, menarik juga melihat perjalanan Stasiun Waru. Dibangun pada era kolonial Belanda, pernah menjadi bagian dari jalur pengangkutan hasil bumi, sempat digunakan untuk aktivitas peti kemas, lalu berubah menjadi stasiun yang melayani mobilitas masyarakat.

Bangunannya mungkin tidak semegah stasiun-stasiun tua yang sering dijadikan objek wisata sejarah. Tidak pula selalu menjadi tujuan orang untuk sekedar berfoto. Tapi justru dari tempat sederhana seperti Stasiun Waru, saya melihat bagaimana perkembangan transportasi ikut membentuk sebuah kawasan.

Belanda boleh sudah lama pergi. Staatsspoorwegen juga tinggal cerita sejarah. Peti kemas sudah dipindahkan. Tetapi relnya masih digunakan untuk kereta yang datang dan pergi. Bedanya, sekarang yang dibawa bukan lagi sekadar hasil bumi untuk kepentingan perdagangan kolonial.

Sebab yang dibawa adalah orang-orang yang sedang mengejar pekerjaan, sekolah, keluarga, atau sekadar ingin pulang. Relnya tetap sama-sama membentang namun certanya selalu menyesuaikan zaman.