Konten dari Pengguna

Batu Kecubung Raksasa Kebanggaan Indonesia

Wiwin Kurniawati

Wiwin Kurniawati

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wiwin Kurniawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Museum Geologi (Foto: youtube.com/Fasko Dehotman)
zoom-in-whitePerbesar
Museum Geologi (Foto: youtube.com/Fasko Dehotman)

Museum Geologi, Bandung (28/01/2018) - Tidak dapat dipungkiri, Indonesia memiliki beribu peninggalan yang perlu digali untuk tetap melestarikannya sebagai peninggalan sejarah. Meminjam kata-kata Bung Karno "jangan pernah melupakan sejarah, karena sejarah adalah cermin pembelajaran untuk masa sekarang dan masa yang akan datang”. -Ir. Soekarno.

Untuk melestarikannya, diperlukan tempat untuk menyimpan berbagai peninggalan tersebut yang biasa disebut dengan museum. Sama halnya dengan museum lainnya, Museum Geologi yang berada di Jl. Diponegoro No.57, Cihaur Geulis, Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat 40122. Museum ini menyimpan benda-benda peninggalan sejarah yang berhubungan dengan geologi, ilmu kebumian.

Begitu banyak benda-benda yang berada di dalamnya, salah satunya mengenai bebatuan sejarah yang berhasil ditemukan. Sebagian besar batu yang dipamerkan di ruang koleksi batu mulia di Museum Geologi Bandung berasal dari luar negeri. Ada dari Brazil sampai Afghanistan, tapi ada batu yang mencuri perhatian yakni batu kecubung raksasa nan indah yang berasal dari tanah Indonesia.

Nah itu dia sedikit pulasan tentang batuan. Selain itu, ada ruangan yang khusus menerangkan terkait pemanfaatan dan kegunaan mineral atau batu bagi manusia. Ruangan tersebut ada dilantai 2, Dalam ruangan tersebut itu terpajang jenis-jenis mineral yang dilengkapi panel gambar dan layar informasi, di lantai itu pula memamerkan batu mulia yang sudah dipoles hingga terlihat menjadi amat cantik nan indah. Seperti batu Sunstone, Pirus, Fluorit, Giok Jawa, dan masih banyak lagi.

Menurut saya, kecantikan bebatuan yang menjadi koleksi Museum Geologi ini melebihi kecantikan batu akik yang sering saya lihat melingkar di jari abang-abang. Dan koleksi Kristal Batu Mulia inilah yang menjadi favorite bagi saya secara pribadi, selain warnanya beragam dan menarik, kecantikan dan keindahan Batuan inilah yang menjadikannya spesial.

Seperti yang kita ketahui,salah satu budaya di indonesia adalah mengkoleksi batu mulia atau batu akik. Kali ini kita akan membahas batu kecubung atau nama lainnya adalah batu amethyst. Batu kristal ametis atau kecubung ini berasal dari Sumatera Barat. Batu kecubung seberat 800 kilogram bisa diraba langsung bongkahan kristalnya yang menonjol, namun jangan berharap bisa mencongkelnya. Selain memang itu dilarang, batu kecubung ini juga tak mudah untuk memoteknya. Berdasarkan keterangan pengelola museum geologi, batu ini didapatkan dari seorang warga di Solok, Sumatera Barat dan butuh waktu delapan bulan untuk memindahkan batu ini dari lokasi galian tempat ditemukannya.

Batu kecubung adalah nama pasaran dari batu ametis, dikenal akan warnanya yang ungu. Selain itu warna batu ametis juga ada yang ungu muda, ungu kemerah-merahan, ungu kebiru-biruan dan bahkan ada yang hampir hitam. Ada juga yang menyebut dengan nama kecubung kasihan.  

Referensi yang ada menyebutkan bahwa Batu ametis mempunyai tingkat kekerasan 7 skala Mohs (masuk pada kelompok batu kuarsa/Quartz), pantas saja ketika diraba terasa kasarnya. Nama batu ametis berasal dari bahasa Yunani yang artinya “tidak mabuk”. Sedangkan kecubung dalam bahasa Inggris disebut Amethyst, yang diambil bahasa Yunani kuno yang berarti tidak beracun. Konon orang-orang Yunani kuno mengenakan batu kecubung agar terhindah dari bahaya keracunan atau mabuk berat akibat minuman keras. Dalam sejarah tercatat bahwa Santo Valentino yang dikenal sebagai pelindung cinta kasih mengenakan cincin batu kecubung yang terukir gambar Cupid, dan Leonardo Da Vinci menuliskan bahwa batu kecubung mempercepat kecerdasan serta menghilangkan pikiran jahat. Dahulu harga batu kecubung sama mahalnya dengan batu rubi, sebab tingkat kelangkaannya yang tinggi. Sejak abad ke-19, setelah ditemukannya sumber batu kecubung yang cukup banyak di Brazil, harganya menjadi lebih murah.

Bagaimanapun, keberadaannya di dalam museum telah membuat saya terpukau dengan keunikan dan kecantikannya. Selain itu, batu kecubung maupun bebatuan yang lain dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran agar tidak melupakan sejarah.