Tak Baik Berprasangka Buruk

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Wiwin Husnul Hotimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Jangan hanya melihat orang dari luarnya saja lalu ditelan mentah-mentah, alangkah baiknya melihat orang itu dari luar sampai ke dalam hatinya. Agar nantinya tidak ada kesalahpahaman tak wajar yang merugikan”
Keadaan kereta begitu ramai sebab banyak manusia di dalamnya. Aku ambil earphone di saku celana yang tadi sengaja diletakkan di sana sebelum berangkat untuk memudahkan mengambilnya dalam situasi saat ini. Berhimpitan dengan orang sekitar membuatku tidak leluasa bergerak. Ketika hendak memasang earphone di seberang tempat duduk duduk ku terdengar suara bising.
Awalnya aku tidak ingin tahu, tapi melihat semua orang melirik ke sana dan menyaksikan kejadian tersebut rasa ingin tahuku memuncak. Hitung-hitung nanti tambahan topik ketika waktu senggang menunggu kelas. Aku melihat ada seorang ibu-ibu sekitar usia 30 tahun yang sedang beradu argumen dengan laki-laki muda seusiaku.
“Kamu masih muda harusnya ngalah sama yang sudah tua,” cibir si ibu itu sambil menunjuk laki-laki di depannya. Laki-laki itu terlihat kebingungan sekaligus risih karena ditatap oleh seisi manusia yang berada di gerbong 5 ini.
Laki-laki itu enggan membuka suara, ia menghiraukan si ibu yang sedang naik pitam karena tidak mendapatkan respons yang baik dari laki-laki itu. Ia malah asik mendengarkan lagu di balik earphone yang ia kenakan. Kepalanya mengikuti alunan musik menunjukkan ia tidak mempedulikan ibu itu.
“Lihat, anak zaman sekarang sekarang!” ibu itu menunjuk laki-laki itu sebagai bukti untuk menarik simpati.“Ga punya sopan santun,” lanjutnya dengan suara yang lantang. Respons laki-laki itu hanya mendongakan kepalanya setelah itu kembali fokus kepada layar ponselnya.
Tak terima mendapat perlakuan dari laki-laki tersebut. Si ibu menarik kasar earphone laki-laki muda tersebut sampai terjatuh, “EHH LO GA PUNYA SOPAN SANTUN YA SAMA GUA. ORANG TUA LO ANGGURIN, LO DI DIDIK GIMANA SIH?” teriak si ibu. Aku dan orang digerbong menganga terkejut mendengar suara yang menggelegar mengisi kebisingan mengalahkan decitan rel kereta api.
Kulihat laki-laki tersebut kembali tidak merespons, hampir seisi gerbong menahan tawa mereka. Si ibu melihat sekeliling yang sekarang malah mendapatkan sorotan mata seperti yang pertama laki-laki itu dapatkan.
Tidak ada waktu untuk merespons laki-laki itu mengeratkan barang bawaannya yang diletakkan di pangkuannya kemudian menundukkan kepala untuk segera menjemput mimpi. Tiba-tiba tanpa aba-aba ditarik dengan kasar barang bawaan laki-laki itu oleh si ibu dengan maksud agar anak muda itu berdiri.
“Sudah nak, kamu mending ngalah saja tidak akan kelar dan malu kamunya jadi bahan tontonan sekarang," saran pria tua yang duduk di sampingnya. Ia terlihat sangat terganggu dengan ocehan si ibu.
“Ga ahh pak, pegel,” pria itu akhirnya bersuara, meski perkataannya sekarang menjadi buah bibir orang-orang yang menonton.
“Saya duduk di sini terlebih dahulu, dan anda?” ucap laki-laki itu dengan wajah yang datar. Laki-laki itu mengepalkan tangannya menahan emosi yang terkuras habis sebab si ibu yang berada di hadapannya.
“Anda masih terlalu muda disebut sebagai nenek-nenek,” ucapnya tegas tapi menyakiti hati.
“Dan ini bukan kursi prioritas, lagi pula bila ini kursi prioritas anda pun tidak berhak mendapatkannya. Melihat ibu yang banyak berbicara saja bisa, apalagi hanya berdiri dari stasiun ke stasiun” ucap telak laki-laki itu.
“Ya tetap saja, saya WANITA dan kamu PRIA!” elak sang ibu dengan menekan kata sensitif sambil menggerutu tidak jelas.
Begitu lancang si ibu itu menarik tas pria itu sampai terjatuh dari pangkuannya, “SAYA TIDAK MAU TAHU, CEPET BERDIRI!!”
Aku serta seisi punumpang sama terkejutnya dengan perilaku tak sopan ibu itu.
Tidak merespons, pria itu malah merogoh kolong kursi mencari sesuatu. Ia mengambil benda yang kehadirannya menjadi atensi kami semua.
“Silakan duduk bu! dan kalau perlu gak usah pulang di sini aja,” ucap laki-laki itu sambil mengambil barangnya yang terjatuh.
Laki-laki itu hanya memiliki satu kaki dan kaki satunya yang kurasa hanya sebatas lutut. Kini sedang berdiri di depan pintu kereta sedikit kesusahan. Celana panjang yang menutupi kakinya, membuat orang di sana tidak sadar akan kebutuhan khusus yang harus pria itu dapatkan. Kami semua menunduk tidak berani menatap pria itu sebab merasa malu karena telah berprasangka buruk kepadanya.
Aku melihat wajah si ibu gelagapan tidak mampu berkata-kata dengan wajah yang merah karena malu dilihat seisi penumpang gerbong seraya menelanjangi ibu itu melalui mata mereka semua dengan beberapa cibiran yang lolos keluar dari mereka yang kini membicarakannya. Tanpa rasa bersalah beberapa detik kemudian, ibu itu memejamkan matanya hendak memulai tidur.
Aku memutuskan untuk berhenti di stasiun ini dan berlari cepat mengajar orang tersebut. Orang yang sudah aku cap sebagai orang yang tidak baik. Aku menemukannya, laki-laki itu saat ini sedang duduk di halte. Tangannya sibuk membolak-balikan earphonenya, aku tebak sepertinya earphone miliknya rusak. Aku coba mengumpulkan keberanianku dan duduk di sampingnya.
"Ini," ku sodorkan earphone milikku, ia terlihat kebingungan, ya bagaimana tidak di pikirannya aku adalah orang asing yang sok akrab dengan tiba-tiba menyodorkan sebuah earphone.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Ya buat dengerin musik," jawabku bodoh.
"Aneh, memang itu kegunaan benda tersebut bukan?"
"Tidak kok, aku dengar kemarin dapat digunakan sebagai alat pancing," jujur aku hanya mengarang untuk menetralisir rasa gugupku.
"Hahahahaha."
"Jangan cuma tertawa, ambil ini! pegel loh," ucapku sambil menyodorkan earphone ku lebih dekat kepadanya.
"Baik saya terima, gratis kan?" tanyanya.
"Tentu saja tidak, kau harus membayarnya. Tapi tenang, bukan dengan uang kok"
"Lantas?"
"Dengan ini," ku sodorkan tangan kosongku ke arahnya. "Mari berteman? Namaku Annya, kamu?"
Aku lihat raut wajahnya berubah datar dan tanganku masih belum ada balasan darinya. Keringatku mengalir tanpa permisi, wajahku mulai gugup takut mendapatkan tolakan dari laki-laki itu. Pasrah, ku tarik kembali tanganku namun kurasakan ada sentuhan di tanganku. ternyata laki-laki itu menerima pertemananku.
"Walau terdengar aneh dan mencurigakan dengan tiba-tiba mengajak berteman tanpa saling mengenal tapi dipikir-pikir keren juga. Mari berteman, Annya."
Kenangan itu adalah sebuah kenangan yang tidak akan aku lupakan, menemukan teman sekaligus sahabat sejati dengan cara unik. Memiliki segudang prasangka buruk saat bertemu dengannya, kasar, tidak punya rasa kasian, dan hal buruk lainnya. Saat kejadian itu aku menyadari bahwa manusia dapat saja melukai manusia lain bukan cuma dengan benda tajam melainkan tatapan dan pikiran mereka.
Laki-laki yang ku ceritakan ceritanya yang membuka satu pikiranku, saat ini sedang berada di atas panggung, ia menerima penghargaan sebagai "Mahasiswa Lulusan Terbaik". Ia adalah Angkasa Bintara, Mahasiswa Hukum.
