Kumparan Logo

5 Basic Rules saat Chat dengan Rekan Lawan Jenis di Kantor

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi chatting-an dengan rekan kerja. Foto: Wasana Kunpol/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi chatting-an dengan rekan kerja. Foto: Wasana Kunpol/Shutterstock

Beberapa waktu lalu, seorang pengguna Threads membagikan tangkapan layar chat pasangannya dengan rekan kerja lawan jenis yang dianggap sudah melewati batas pertemanan. Dalam obrolan tersebut terlihat rekan kerja perempuan pasangannya menggunakan emoji hati dan gaya bahasa yang dinilai flirty.

Unggahan itu pun memicu banyak komentar negatif dari warganet. Banyak yang geram karena gaya berkomunikasi perempuan tersebut dianggap kurang tepat untuk hubungan pertemanan di lingkungan kerja yang profesional.

Menanggapi hal tersebut, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Gita Aulia Nurani, Ph.D., mengingatkan pentingnya menjaga batasan saat berkomunikasi dengan rekan kerja lawan jenis yang memiliki pasangan.

“Batasan yang jelas membantu mengurangi risiko kesalahpahaman dan mencegah munculnya keterikatan emosional yang tidak disengaja,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi lewat chat sering kali menimbulkan perbedaan penafsiran dari penerima, mulai dari ekspresi hingga nada suara.

Nah, untuk menghindari kesalahpahaman saat berkomunikasi, ada beberapa etika dasar chat dengan rekan kantor lawan jenis dari Gita yang dapat kamu terapkan.

Etika dasar chat dengan rekan lawan jenis di kantor yang telah memiliki pasangan

1. Emoji secukupnya, nggak perlu berlebihan

Ilustrasi Emoji. Foto: chainarong06/Shutterstock

Emoji sering kali digunakan untuk membuat obrolan terkesan lebih santai. Namun menurut Gita, penggunaan emoji yang berlebihan dapat menimbulkan makna ambigu, sehingga perlu dihindari agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Batasi penggunaan emoji yang dapat menimbulkan makna ambigu. Seperti emoji hati, cium, atau emoji yang identik dengan ketertarikan romantis,” ungkap Gita.

2. Hindari percakapan yang terlalu personal

Selanjutnya, Gita menyarankan untuk menghindari percakapan yang terlalu personal saat chat. Sebab, hal ini dapat membuka peluang tumbuhnya benih-benih perasaan di antara keduanya.

“Hindari percakapan yang terlalu personal, seperti curhat tentang masalah percintaan, kesepian, atau kebutuhan emosional yang seharusnya dibicarakan dengan pasangan atau keluarga terdekat,” ujar Gita.

3. Gunakan bahasa yang profesional

Ilustrasi Perempuan chatting-an dengan rekan kerja. Foto: myboys.me/Shutterstock

Ladies perlu menghindari bahasa flirting ketika chat dengan rekan kantor lawan jenis yang telah memiliki pasangan. Meski tak ada niat buruk, sebaiknya hindari untuk menghargai pasangan temanmu. Jadi, pakailah bahasa yang profesional agar komunikasi tidak mengandung makna ambigu.

“Gunakan bahasa yang sopan dan profesional. Fokus pada tujuan komunikasi yang jelas, misalnya urusan pekerjaan atau pertemanan dalam batas wajar," ujar Gita.

4. Hindari mengobrol hingga larut malam

Selain itu, obrolan dengan lawan jenis yang telah memiliki pasangan sebaiknya tidak dilakukan saat malam hari agar tak ada kesalahpahaman. Namun jika ada pekerjaan urgen yang mengharuskan chatting-an tengah malam, itu bisa menjadi pengecualian.

“Hindari menghubungi pada jam-jam yang tidak penting, misalnya saat larut malam kecuali memang ada kebutuhan mendesak,” jelas Gita.

5. Hindari menghapus atau menyembunyikan jejak komunikasi

Ilustrasi Menghapus pesan. Foto: Danawan Purbanggoro/Shutterstock

Terakhir, Gita mengingatkan untuk tidak menghapus jejak atau menyembunyikan riwayat chatting-an dari pasangan masing-masing. Sebab menghapus atau menyembunyikan percakapan bisa menjadi tanda adanya pergeseran batas pertemanan.

“Jika sebuah percakapan terasa harus disembunyikan, itu bisa menjadi tanda bahwa batasan mulai bergeser,” tandas Gita.