Konten dari Pengguna

Aku Masih Ingin Tinggal, Ketika Kamu Mulai Kehilangan Rasa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rosa Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana kedai kopi dengan kursi kayu di dekat jendela, menghadirkan kesan tenang dan reflektif tentang pertemuan serta kenangan yang pernah berarti. Sumber foto: Berna/Pexels. https://www.pexels.com/photo/chair-near-table-and-window-in-cafe-20621909/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana kedai kopi dengan kursi kayu di dekat jendela, menghadirkan kesan tenang dan reflektif tentang pertemuan serta kenangan yang pernah berarti. Sumber foto: Berna/Pexels. https://www.pexels.com/photo/chair-near-table-and-window-in-cafe-20621909/

Aku mulai menyadari bahwa hubungan kami semakin sulit dipertahankan, tetapi saat itu aku belum siap kehilangan dia. Aku masih ingin mencoba memperbaiki keadaan, sementara perasaannya tidak lagi sama seperti dahulu.

Pada akhirnya, aku belajar bahwa menyadari sebuah hubungan mungkin harus berakhir tidak selalu membuat kita siap menerima perpisahan.

Suasana interior Kalm Coffee Daily di Malang, tempat yang menjadi bagian dari kenangan dan perjalanan selama menjalani sebuah hubungan. Sumber foto: Jevon Marcius Santoso melalui Google Maps, Agustus 2025. https://www.google.com/maps/search/api=1&query=Kalmcoffeedaily+Malang

Aku mengenalnya ketika kami sama-sama menjadi pengurus organisasi kampus di Malang. Awalnya, ia hanya seseorang yang kukenal. Kami mulai dekat melalui percakapan dan beberapa pertemuan, sampai perlahan aku menyadari bahwa kehadirannya memiliki arti yang berbeda bagiku.

Pada 28 Agustus 2025, kami resmi menjalin hubungan.

Pemandangan malam dari Bukit Jabal dengan siluet pegunungan, langit bertabur bintang, serta kerlip lampu permukiman yang terlihat dari ketinggian. Sumber foto: ali sujarno melalui Google Maps, Januari 2019. https://www.google.com/maps/search/?api=1&query=Bukit+Jabal+Malang

Bersamanya, aku mengalami banyak hal untuk pertama kalinya selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Malang. Kami mengunjungi tempat-tempat baru, mencoba berbagai makanan, berpindah dari satu kedai kopi ke kedai lainnya, hingga mendaki gunung untuk pertama kalinya bagiku. Pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian dari masa kuliah yang akan selalu kuingat.

Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan kami mulai menghadapi kesulitan. Kami tidak selalu memiliki cara yang sama dalam menghadapi masalah. Ada kalanya aku ingin membicarakan keadaan dan mencari jalan keluar, tetapi komunikasi di antara kami justru terasa semakin sulit.

Aku berusaha memahami keadaan dan memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Aku masih percaya bahwa hubungan ini bisa dipertahankan jika kami menemukan cara untuk melewati kesulitan bersama.

Sampai pada 4 September 2026, ia mengatakan bahwa dirinya telah mati rasa. Ada satu kalimat yang masih kuingat dari percakapan itu:

“Rasa cintaku sekarang bukan lagi 0 ke 100, tapi 100 ke 0.”

Ilustrasi kamar dengan pencahayaan temaram dan suasana sunyi, menggambarkan ruang refleksi ketika menghadapi perubahan perasaan dan perpisahan. Sumber foto: Djakarsa (@djakar), Lemon8. https://www.lemon8-app.com/@djakar/7507262706068849173?region=id

Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang sulit kuterima saat itu: perasaan kami tidak lagi berada di titik yang sama. Aku masih ingin mempertahankan hubungan ini, sementara ia mengatakan bahwa perasaannya telah berubah.

Aku tidak bisa menentukan bagaimana seseorang seharusnya merasakan cinta. Namun, aku masih berharap hubungan yang telah kami bangun bisa diperbaiki. Karena itu, meskipun mulai menyadari bahwa keadaan semakin sulit, aku tetap mencoba bertahan selama satu bulan berikutnya.

Pada 28 September 2026, hubungan kami resmi berakhir.

Setelahnya, aku mulai memahami bahwa keinginan untuk mempertahankan hubungan tidak selalu cukup untuk membuat dua orang tetap bersama. Ada hal-hal yang bisa diusahakan, tetapi ada pula hal yang tidak dapat ditentukan oleh satu orang saja.

Aku tidak menganggap hubungan itu sebagai sesuatu yang sia-sia. Aku pernah bahagia bersamanya, mendapatkan pengalaman baru, dan belajar banyak hal selama kami bersama. Berakhirnya hubungan tidak menghapus kenyataan bahwa ia pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.

Malang akan tetap menjadi kota tempatku tumbuh, dengan kenangan tentang seseorang yang pernah berjalan bersamaku. Namun, kenangan itu juga merupakan bagian dari perjalanan hidupku sendiri.

Aku pernah ingin bertahan lebih lama. Aku juga pernah berharap hubungan ini bisa kembali seperti dahulu. Kini, aku belajar menerima bahwa keinginanku untuk tetap bersama tidak selalu berarti kami masih bisa melanjutkan perjalanan yang sama.