Cerita Dua Siswi Indonesia Lolos Beasiswa Kuliah di Jepang dari 600 Pendaftar

Selain menjadi destinasi wisata favorit, Jepang juga menjadi salah satu negara tujuan pendidikan yang diminati pelajar Indonesia. Di tengah semakin ketatnya persaingan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, akses terhadap beasiswa menjadi salah satu jalan yang membuka kesempatan bagi generasi muda untuk meraih pendidikan global.
Kesempatan itu kini dirasakan oleh sembilan pelajar Indonesia yang terpilih sebagai penerima beasiswa Fast Retailing Foundation. Mereka akan melanjutkan pendidikan sarjana di sejumlah universitas terkemuka di Jepang melalui program beasiswa penuh yang mencakup biaya kuliah hingga biaya hidup.
Berdasarkan data Japan Student Services Organization (JASSO), jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia di Jepang telah mencapai sekitar 9.000 orang. Menurut Menteri Informasi dan Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Daisuke Hoshino, para pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Jepang selama ini telah memberikan kontribusi positif bagi kedua negara.
“Selama ini, banyak para siswa Indonesia yang telah melakukan studi di Jepang dan memberikan kontribusi besar terhadap dua negara,” ujar Daisuke dalam konferensi pers Fast Retailing Foundation di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (17/6).
Melihat besarnya minat pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di Jepang, Fast Retailing Foundation, yayasan di bawah perusahaan ritel asal Jepang yang menaungi berbagai merek fesyen termasuk Uniqlo, menghadirkan program beasiswa sarjana dengan kelas berbahasa Inggris.
Pada angkatan pertama tahun 2025, sebanyak sembilan pelajar terpilih dari lebih dari 600 pendaftar. Menariknya, dua di antaranya adalah perempuan yang berhasil lolos dari proses seleksi yang cukup kompetitif.
“Beasiswa ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia dan kami percaya program ini dapat berkontribusi dalam mencetak generasi masa depan yang unggul,” ujar Direktur PT Fast Retailing Indonesia, Tatsuo Kosuge.
Perjuangan menembus seleksi ketat
Di balik keberhasilan meraih beasiswa, para penerima harus melewati proses seleksi yang tidak mudah. Mulai dari penulisan esai hingga wawancara mendalam mengenai rencana studi dan masa depan mereka.
Bagi Felicia Natalie, siswi SMA Plus Bekasi yang akan melanjutkan studi hukum di Nagoya University, tahap wawancara menjadi tantangan terbesar.
“Mungkin buat orang lain menulis esai lebih rumit, tetapi buat saya yang lebih susah adalah wawancaranya. Kalau biasanya wawancara ditanya kelemahan dan kekuatan secara general, tapi wawancara ini sangat spesifik dengan jurusan yang diambil,” kata Felicia kepada kumparanWOMAN.
Senada dengan Felicia, Skyla Nicole Tedy dari SMAK Cita Hati Christian Surabaya juga menilai wawancara sebagai tahapan yang paling menantang. Menurutnya, calon penerima beasiswa harus benar-benar memahami alasan memilih Jepang dan jurusan yang ingin dipelajari.
“Tantangannya saat diwawancarai dengan pihak Fast Retailing Foundation. Di situ banyak pertanyaan tentang tujuan ke Jepang. Lalu, kenapa pilih program itu. Jadi, itu harus dipersiapkan dengan baik,” ujar Skyla yang akan melanjutkan studi PEARL (Program in Economics for Alliances, Research and Leadership) di Keio University.
Kisah Felicia dan Skyla menjadi pengingat bahwa kesempatan pendidikan internasional terbuka bagi siapa saja, termasuk perempuan muda yang ingin mengembangkan potensi diri dan berkontribusi lebih luas di masa depan.
Sementara itu, Theobald Bimasutra dari SMA Kanisius Jakarta justru mengaku tahap paling sulit adalah menulis esai. Menurutnya, batas maksimum jumlah kata membuatnya harus menyampaikan gagasan secara ringkas namun tetap kuat.
“Menulis esai menurutku yang paling susah karena biasanya di Indonesia ada minimum jumlah kata. Kalau ini ada maksimum dan itu sangat pendek, sehingga susah menyampaikan isi pikiran ke dalam teks sependek itu,” ujarnya.
Theobald nantinya akan melanjutkan studi Applied Marine Biology di Tohoku University.
