Konten dari Pengguna

Cerpen "Ada yang Pergi Tanpa Berpamitan"

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini cerita anak muda yang lagi pacaran. Sebulan lalu, di hari Sabtu. Saat pacar gue menelpon dan bilang ada kegiatan badminton sama teman-teman kantornya. Ohh, olah raga ya. Biasa aja dong, nothing suspicious. Tidak ada yang mencurigakan.

Terus gue nawarin jemput pakai motor. Tapi dia bilang "nggak usah, aku pulang sendiri aja." Oke deh, ya gue iya-in aja. Tapi dia bilang habis itu mau ke SM (Semanggi Mall). Lucunya, gue juga pas lagi di SM. Jadi gue stay aja di situ. Mikirnya nanti bisa pulang bareng kan. Begitulah rencana simpel dan normal aja buat lelaki yang lagi punya pacar. Nggak ada yang aneh kan?

Sabtu itu terasa biasa saja. Langit mendung tipis, seperti ragu untuk hujan atau sekadar lewat. Gue masih ingat nada suara cewek gue di telepon tadi. Ringan, santai, dan tanpa beban. Katanya ada badminton bareng teman kantor. Gue percaya, karena memang nggak ada alasan untuk curiga. Bahkan ketika gue menawarkan untuk menjemput, dia menolak dengan lembut. "Nggak usah, aku pulang sendiri." Itu kalimat biasa dan sederhana di kalangan orang yang lagi pacaran. Biasa dan tidak berarti apa-apa.

Lalu, dia menyebut akan ke Semanggi Mall setelah badminton. Kebetulan yang terasa seperti takdir kecil, gue juga sedang di sana. Gue nggak bilang ke dia. Gue memilih diam, sambil berpikir akan jadi kejutan kecil yang manis. Gue nunggu dong di SM, sambil hunting dan berjalan pelan dari lantai ke lantai, sesekali mengecek ponsel, membayangkan wajahnya saat melihat dia tiba-tiba muncul. Rencana sederhana seorang lelaki sama pacarnya, sama seperti yang lainnya.

Waktu berjalan lebih lama dari yang gue kira sih. Satu jam. Dua jam. Pesan gue hanya dibalas singkat, atau kadang tidak sama sekali. Gue mulai merasa ada yang aneh, tapi gue tepis sendiri. Nggak boleh mikir macam-macam. Mungkin dia masih di jalan. Mungkin macet. Mungkin baterainya habis. Gue terus menunggu, duduk di sudut kafe dengan kopi yang sudah dingin, berharap setiap orang yang lewat adalah dia. Kebayang dong kalau lagi kasmaran?

Sampai akhirnya gue benar-benar melihat dia dari kejauhan. Bukan sendirian. Tapi dia berjalan pelan, tertawa kecil bersama seseorang yang nggak gue kenal. Atau mungkin nggak pernah gue sadari sebelumnya. Siapa ya yang jalan bareng pacar gue itu? Laki-laki sawo matang tapi bukan cowok motoran tampangnya.

Tapi dari cara jalan mereka berdua seperti bukan sekadar teman. Dari cara berdiri yang terlalu dekat melebihi sekadar kawan. Bahkan cara pacar gue menatap ke cowok itu seperti bukan tatapan yang biasa. Dan gue mulai mikir sih. Siapa ya cowok itu? Entah kenapa, gue merasa dunia jadi mengecil saat itu juga, seolah semua suara di mall menghilang. Yang tersisa hanya detak jantung gue yang tiba-tiba berdegup cepat. Mulai dag dig dug. "Apaan sih ini?" Gue membatin sendiri.

Gue nggak menghampirinya. Hanya memandang dari jauh. Nggak juga memanggil namanya. Gue hanya berdiri di tempat, lalu menyadari bahwa rencana sederhana pulang bareng dari mall itu tidak pernah benar-benar ada untuk gue. Tadinya gue berpikir, seolah nggak sengaja bisa ketemu dia di mall, lalu pulang bareng. Namanya juga rencana tapi realitasnya beda ya.

Ada yang pergi tanpa berpamitan

Ternyata "aku pulang sendiri" memang bukan sekadar judul novel atau film. Hari Sabtu itu mungkin tetap terlihat biasa bagi orang lain, tapi nggak buat gue. Hari Sabtu nggak lagi bisa buat kejutan manis. Itu adalah hari ketika sesuatu yang gue kira pasti... diam-diam sudah pergi tanpa pernah benar-benar berpamitan. Tanpa basa-basi, selalu ada permainan di belakang gue.

Sambil menunduk, gue akhirnya berjalan ke parkiran motor sambil menutup kepala dengan jaket kupluk. Melangkah pelan, sepelan kura-kura yang habis cari makan. Gue kira kejutan manis ada di hari Sabtu, nggak tahunya kejutan pahit seperti yang dirasakan banyak anak muda cowok lainnya.

Gue pun bergumam, badiminton badminton. Gampang banget bikin alasannya cuma mau menyimpang. #CukstawCerpen