Emotional Numbness: Ketika Merasa Kosong di tengah Rutinitas

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazwa Aulia Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kalian saat berada di tengah keramaian, tapi rasanya tuh kosong? Atau ketika dalam suatu aktivitas yang harusnya membuat bahagia, tapi tidak merasakan apa-apa? Nah, ternyata dalam psikologi ada istilah ilmiahnya lho!
Kamu mungkin merasa bahwa hal tersebut terjadi karena “lagi capek” atau “lagi nggak mood”. Namun, dalam psikologi bisa jadi kamu berada pada kondisi emotional numbness atau mati rasa emosional. Hal ini terjadi bukan kelemahan atau sebuah drama, tapi respons pikiran kamu yang sudah terlalu lama menanggung beban yang menumpuk sehingga emosi tersebut memilih mematikan alarm agar tidak kusut sepenuhnya.
Mengenal Lebih Jauh Istilah Emotional Numbness
Menurut Roberts (2019), di dalam penelitiannya yang berjudul “Feeling Nothing: Numbness and Emotional Absence” membahas emotional numbness sebagai pengalaman seseorang ketika menyadari bahwa dirinya tidak lagi tergerak secara emosional pada dunia di sekitarnya. Penelitian ini menjelaskan bahwa mati rasa secara emosional bukan hanya dalam kondisi “tidak merasakan apa-apa”, tapi pada pengalaman psikologis yang terjadi dan memiliki makna bagi seseorang.
Sebagian orang menganggap bahwa mati rasa emosional ini sebagai bentuk pertahanan diri, sebab membantu mereka dalam mengurangi rasa sakit emosional yang terlalu dalam. Namun, dampak jangka panjang yang akan mereka rasakan adalah kesepian, terasing bahkan sampai sulit untuk membangun hubungan dengan orang lain (Westfall & Veilleux, 2026).
Tanda-tanda yang Mungkin Sering Kamu Abaikan
• Merasa biasa saja terhadap peristiwa yang seharusnya sedih atau bahagia
• Kehilangan minat terhadap hobi, olahraga hingga interaksi dengan orang lain.
• Merasa terisolasi, kesepian dan cenderung menutup diri, meskipun berada di lingkaran pertemanan.
• Sulit untuk menguraikan perasaan yang dirasakan kepada orang terdekat dan tertutup saat diajak bicara.
• Selalu dalam mode otomatis, melakukan segala sesuatu tanpa rasa.
Spektrum Mati Rasa: Kapan Kamu Harus Khawatir?
Nah, tidak semua mati rasa secara emosional merupakan tanda bahaya. Ada beberapa spektrum dari yang normal hingga bahaya yang perlu kamu pahami lebih lanjut.
Mati rasa dapat dikatakan normal ketika terjadi sementara, seperti rasa hampa setelah hari yang berat atau pasca-kehilangan orang tersayang yang menjadi bagian proses berduka yang sehat.
Mati rasa yang perlu diperhatikan, biasanya mati rasa kronis yang sudah berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Selain itu, mati rasa ini sudah mengganggu aktivitas bersosialisasi dengan orang lain dan tidak mampu menikmati hidup dengan baik.
Mati rasa yang berbahaya dan perlu penanganan dari profesional. Seseorang dalam kondisi ini kemungkinan merasa terputus dari diri sendiri atau kenyataannya secara intens. Sebagian besar disebabkan karena trauma masa lalu atau gangguan psikologis lainnya.
Mengapa Hal Ini Terjadi Pada Seseorang?
1. Trauma dan Kehilangan
Secara biologis, otak kita akan merespons kehilangan sesuatu yang sangat besar seperti halnya kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan penting atau kegagalan yang menghancurkan. Mereka menggunakan cara yang sama seperti merespons ancaman fisik, yaitu shut down. Dalam konteks ini, mati rasa emosional menjadi bentuk pelindung sementara yang memungkinkan seseorang terus bernapas sambil memproses apa yang terlalu besar untuk dirasakan sekaligus.
2. Stres Kronis dan Burnout
Ketika seseorang mengalami kondisi stres berkepanjangan akibat beban tugas, konflik keluarga, serta tuntutan yang tidak pernah berhenti, sistem regulasi emosi dapat mencapai titik jenuhnya. Pada saat itulah mati rasa hadir bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai bentuk pertahanan biologis.
3. Gangguan Depresi dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Dalam PTSD, emotional numbness muncul untuk merespons kejadian traumatis yang dialami seseorang, seperti kekerasan, kehilangan hingga bencana alam, sehingga ia tidak mampu merasakan emosi positif. Namun, dalam gangguan depresi, seseorang tidak mampu merasakan emosi karena perubahan mood dan energi, bukan karena trauma.
Jalan Kembali: Langkah-langkah yang Bisa Kamu Lakukan
Pertama, menerima dan menyadari kondisi. Langkah awal ini penting karena kita harus mengakui bahwa “aku tidak lagi merasakan apa-apa” dan membiarkan kalimat itu terucap apa adanya. Mengakui bahwa mati rasa itu bukan kelemahan moral, melainkan respons terhadap beban yang berat sehingga kita mampu membuka ruang untuk pemulihan.
Kedua, mencari dukungan sosial. Mulai mencoba untuk berbicara dengan orang terdekat yang dipercaya, seperti keluarga, teman atau pasangan. Berbagi cerita bukan hanya tentang mencari “solusi”, namun hanya untuk didengar dan diakui.
Ketiga, pola hidup sehat. Meskipun kita memiliki beban tugas yang banyak, pikiran yang rumit dan tuntutan sosial yang tidak kunjung berhenti, kita harus tetap menjaga pola hidup sehat seperti olahraga, tidur yang cukup dan jurnaling. Hal itu berperan penting dalam proses memperbaiki keseimbangan emosional dan kognitif kita.
Keempat, terapi atau intervensi dengan profesional. Jika kondisi ini berlangsung cukup lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka cobalah untuk berbicara dengan psikolog atau psikiater profesional. Bukan berarti kita lemah, hanya saja ini sebuah langkah paling bijak yang harus kita ambil. Pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), EMDR untuk trauma, atau Acceptance and Commitment Therapy (ACT) terbukti efektif dalam membantu seseorang secara bertahap menemukan kembali kehidupan emosional mereka.
