Jatuh Cinta:Tanpa Kehilangan Diri Sendiri

saya seorang mahasiswa uin syarif hidayatullah jakarta dan hobi saya makan tidur gym main gitar repeat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alzarisqi Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamu pasti pernah merasakannya. Bangun tidur langsung semangat, lagu jelek terdengar enak, dan hal-hal kecil mendadak terasa menyenangkan. Itulah jatuh cinta. Dan jujur saja, rasanya luar biasa.
Ada penjelasan ilmiahnya. Saat jatuh cinta, otak melepaskan dopamin, zat yang membuat kita merasa senang dan gembira. Saking enaknya, sensasinya bahkan disebut mirip rasa ketagihan. Jadi kalau kamu merasa hidup jadi lebih berwarna, itu bukan cuma perasaanmu saja.
Tapi justru karena seenak itu, ada satu hal yang perlu diwaspadai: kebablasan.
Kapan semangat berubah jadi “lupa diri”?
Psikolog dari Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, mengingatkan bahwa ketika seseorang sudah masuk ke tahap bucin, ia sering lupa diri. Yang tadinya punya hobi, jadi tidak sempat. Yang tadinya rajin ketemu teman, pelan-pelan menghilang. Semua jadwal, semua pikiran, berputar di satu orang.
Padahal berubah karena orang yang kita sayangi itu wajar. Dua psikolog, Arthur dan Elaine Aron, bahkan punya teori tentang ini. Menurut mereka, manusia memang punya dorongan untuk bertumbuh, dan hubungan romantis adalah salah satu jalannya. Kita jadi belajar hal baru, melihat dunia dari sudut pandang pasangan, dan itu bisa membuat hubungan lebih memuaskan.
Masalahnya muncul kalau perubahannya ke arah yang salah, yaitu ketika kita berubah bukan karena bertumbuh, tapi karena takut kehilangan atau terlalu ingin menyenangkan pasangan. Jadi pertanyaannya bukan “boleh berubah atau tidak”, tapi “berubah jadi lebih baik atau jadi lebih kecil?”
Cara menjaga diri tetap utuh
1. Kenali dirimu dan batasanmu.
Sebelum jauh melangkah, tahu dulu apa yang kamu mau dan apa yang tidak bisa kamu tawar. Orang yang punya harga diri kuat lebih mudah menetapkan batasan yang sehat.
2. Jangan putus dengan teman dan keluarga.
Mereka tetap tempat pulang, terutama saat hubungan sedang tidak mudah. Jangan sampai cinta membuatmu menjauh dari orang-orang yang sudah lebih dulu ada.
3. Tetap punya waktu untuk dirimu sendiri.
Ikut kelas, belajar hal baru, atau lanjutkan hobi lamamu. Kamu yang terus bertumbuh juga membuat hubungan ini lebih menarik, bukan hanya untukmu, tapi untuk pasanganmu juga.
4. Beri jeda untuk berpikir jernih.
Saat emosi sedang tinggi, luangkan waktu sebentar untuk merenung sebelum mengambil keputusan besar. Dari jarak sedikit, situasinya sering terlihat lebih jelas.
5. Punya “pengingat”.
Bisa sahabat, keluarga, atau catatan kecil di ponselmu. Siapa pun yang berani bilang, “Eh, kamu mulai lupa sama dirimu sendiri, lho.”
6. Cintai dirimu dulu.
Psikolog klinis Inez Kristanti pernah menyampaikan bahwa ada saat kita perlu belajar mencintai diri sendiri lebih dulu supaya tidak menjadi budak cinta. Mengenali dan menerima emosi sendiri adalah awal yang baik.
Cinta yang sehat bikin kamu makin utuh
Jatuh cinta itu bukan soal mencari kesempurnaan, tapi soal kerja sama dan kompromi. Dan hubungan terbaik adalah yang membuat kedua orang di dalamnya tetap jadi dirinya sendiri, bahkan versi yang lebih baik.
Jadi, nikmati semangatnya. Biarkan hari-harimu terasa lebih indah. Tapi jangan lupa membawa dirimu ikut serta dalam perjalanan itu, karena semangat yang paling awet datang dari orang yang tidak kehilangan dirinya sendiri.
