Konten dari Pengguna

Kapan Punya Anak: Saat Pertanyaan Jadi Tekanan

Zahrah Hayati

Zahrah Hayati

Mahasiswa Hukum Keluarga di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahrah Hayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pasangan yang sedang merenung. Foto oleh Timur Weber dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-pasangan-8560439/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan yang sedang merenung. Foto oleh Timur Weber dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-pasangan-8560439/

Menghadapi pertanyaan kapan punya anak kini seolah menjadi ritual wajib yang harus dilewati oleh setiap pasangan setelah resmi menikah. Kalimat ini kerap meluncur begitu saja tanpa beban di tengah acara kumpul keluarga besar, reuni teman lama, hingga obrolan santai di tempat kerja. Bagi sebagian orang, ucapan tersebut mungkin hanya dianggap basa-basi biasa. Namun, bagi pasangan yang menerima, pertanyaan sesederhana itu perlahan bisa bergeser menjadi tekanan sosial yang tak terlihat.

Ekspektasi yang Datang Setelah Pernikahan

Dalam budaya kita, pernikahan dan kehadiran anak seolah menjadi paket lengkap untuk mendefinisikan apa itu "keluarga ideal". Anak dianggap sebagai pelengkap kebahagiaan sekaligus simbol keberhasilan suatu rumah tangga, sebuah pandangan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak mengherankan jika setelah pernikahan, banyak pasangan langsung dihadapkan pada ekspektasi untuk segera memiliki keturunan. Tak jarang, pasangan yang belum memiliki anak dalam kurun waktu tertentu dianggap "terlambat" atau bahkan dipertanyakan keseriusannya dalam membangun keluarga.

Pandangan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Dalam banyak masyarakat, anak dipandang memiliki nilai sosial, budaya, psikologis, ekonomi, bahkan religius. Anak tidak hanya dianggap sebagai penerus keturunan, tetapi juga sumber kebahagiaan keluarga, kebanggaan orang tua, serta harapan di masa depan. Dalam konteks ini, kehadiran anak sering kali menjadi ukuran tidak tertulis mengenai keberhasilan sebuah rumah tangga.

Pada dasarnya, harapan orang tua atau keluarga besar terhadap kehadiran anak merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Biasanya, harapan tersebut lahir dari rasa kasih sayang, kepedulian, serta keinginan untuk melihat keluarganya terus berlanjut. Dalam banyak keluarga, memiliki cucu bahkan menjadi salah satu kebahagiaan yang dinantikan setelah anak-anak mereka menikah. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai rencana memiliki anak sering kali muncul bukan karena niat buruk, melainkan karena sudah menjadi bagian dari kebiasaan sosial.

Antara Harapan dan Kesiapan Pasangan

Meski demikian, tidak semua pasangan berada dalam kondisi dan kesiapan yang sama. Tiap pasangan memiliki perjalanan, tantangan, dan pertimbangannya masing-masing. Ada pasangan yang mungkin sedang berjuang dengan masalah kesuburan yang tidak diketahui oleh orang lain. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa sekitar satu dari enam orang dewasa di dunia pernah mengalami infertilitas dalam hidupnya. Di sisi lain, ada pula pasangan yang memilih menunda memiliki anak karena alasan ekonomi, pendidikan, karier, kesiapan mental, maupun pertimbangan pribadi lainnya yang tidak harus diketahui oleh lingkungan sekitar.

Persoalan mulai muncul ketika harapan tersebut berubah menjadi tuntutan yang terus-menerus disampaikan. Pertanyaan yang awalnya terdengar sederhana dapat berkembang menjadi sindiran, perbandingan dengan pasangan lain, atau bahkan penilaian tertentu terhadap kehidupan seseorang. Pada titik inilah, kepedulian dapat berubah menjadi tekanan yang perlahan mengikis ruang aman pasangan untuk saling terbuka dan menjalani prosesnya sendiri. Berbagai penelitian dalam studi psikologi keluarga menunjukkan bahwa pasangan yang belum memiliki anak maupun yang memilih untuk tidak memiliki anak sering menghadapi tekanan sosial dan stigma dari lingkungan sekitarnya. Mereka kerap dianggap egois atau tidak menjalankan peran keluarga sebagaimana mestinya. Padahal, keputusan mengenai memiliki anak merupakan keputusan yang sangat personal dan melibatkan banyak pertimbangan yang kompleks. Keputusan memiliki anak bukanlah perkara sepele seperti memilih menu makan siang atau menentukan tujuan liburan akhir pekan. Kehadiran anak membawa komitmen dan tanggung jawab jangka panjang yang akan dijalani selama bertahun-tahun. Karena itu, keputusan tersebut idealnya lahir dari kesiapan dan kesepakatan pasangan, bukan semata-mata karena dorongan atau tekanan dari lingkungan sekitar. Proses pertimbangan yang panjang ini biasanya melibatkan kondisi ekonomi, kesehatan, kesiapan emosional, hingga tujuan hidup yang ingin dicapai oleh pasangan itu sendiri. Di era media sosial, tekanan semacam ini bahkan bisa terasa lebih kuat. Berbagai macam unggahan tentang kehamilan, bayi, pesta gender reveal, hingga cerita parenting yang silih berganti memenuhi linimasa media sosial sering kali tanpa sadar memperkuat ekspektasi publik mengenai kehidupan setelah menikah. Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin menjadi inspirasi. Namun bagi yang belum atau memilih tidak memiliki anak, arus konten semacam itu dapat memunculkan perasaan tertinggal atau terasing karena tidak mengikuti "alur" yang dianggap normal oleh masyarakat.

Mengambil jalan tengah dalam persoalan ini bukan berarti mendukung satu pilihan hidup tertentu atau menentang pilihan lainnya. Ini bukan debat antara mereka yang ingin segera memiliki anak dan mereka yang memilih jalan berbeda. Ini adalah tentang menghormati proses, kesiapan, serta hak setiap individu untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Harapan dari keluarga adalah doa yang indah, tetapi harapan tersebut sebaiknya disampaikan dengan empati, bukan dengan campur tangan yang seakan menghakimi. Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban yang segera. Ada keputusan-keputusan dalam hidup yang memerlukan waktu, pertimbangan, dan kesiapan yang tidak selalu dapat dilihat dari luar. Pada akhirnya, pertanyaan "kapan punya anak?" mungkin terdengar sepele bagi yang melontarkannya. Namun bagi yang menerima, hal itu bisa menjadi beban tak terlihat yang tidak ringan untuk dipikul. Sikap terbaik yang bisa kita berikan adalah memberikan ruang, kepercayaan, serta dukungan yang tulus. Menghargai privasi dan kesiapan sebuah pasangan merupakan bentuk penghormatan terhadap kedewasaan mereka dalam mengambil keputusan hidup. Sebab, seluruh tanggung jawab membesarkan anak sepenuhnya berada di tangan pasangan yang menjalani rumah tangga tersebut. Merekalah yang akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mengelola keuangan, membesarkan, hingga mendidik anak sampai dewasa. Kadang, bentuk perhatian terbaik bukanlah pertanyaan, melainkan keheningan yang penuh pengertian.