Kerja WFH Tetapi Susah Fokus? Ini Hubungan Desain Ruangan dan Otak

Desainer Interior dan arsitek, penghobi menulis dan pembelajar kesadaran spiritual lulusan S1 Arsitektur ITS Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rani Adisti Winahyu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah merasa tiba-tiba fokus saat bekerja di kafe? Atau sebaliknya, merasa cepat lelah dan gampang burnout pas duduk berjam-jam di sudut kamar yang sempit dan minim cahaya alami?
Sewaktu kerja dari rumah alias WFH, keluhan itu kerap terjadi. Padahal sudah niat bekerja, tetapi susah fokus atau kerja 8 jam di rumah rasanya lebih capek daripada di kantor.
Banyak dari kita menganggap rasa lelah atau perubahan mood di dalam ruangan itu murni karena faktor beban kerja atau pikiran. Padahal, ada elemen lain yang sering luput dari perhatian, tanpa disadari ruang fisik di sekitar kita sedang “berbicara” dengan otak.
Di sinilah desain sebuah ruangan mengambil peran.
Bukan Sekadar Estetika, Melainkan Respons Otak
Ada bidang ilmu yang khusus mempelajari ini, yakni neuroarsitektur. Ini irisan antara ilmu saraf dan desain ruang, yang mulai berkembang sejak awal 2000-an lewat kolaborasi arsitek dan ahli saraf.
Intinya sederhana, otak kita terus-menerus memproses elemen fisik di sekitar kita -cahaya, warna, proporsi ruang, tekstur, sirkulasi udara, dan mengubahnya jadi sinyal yang memengaruhi suasana hati, tingkat stres, bahkan kejernihan berpikir kita.
Saat mata melihat suatu ruang, otak tidak hanya mencerna warna atau keindahannya. Otak mengolah sistem saraf, mengatur kadar hormon stres (seperti kortisol), hingga memengaruhi kemampuan kita dalam mengambil keputusan.
Kita ambil contoh plafon. Plafon yang tinggi cenderung menstimulasi area otak yang berkaitan dengan kreativitas dan kebebasan berpikir. Sebaliknya, plafon yang agak rendah lebih mendukung kerja analitis yang butuh fokus tinggi dan detail.
Contoh lain -dan kerap dihindari dengan alasan panas, adalah pencahayaan alami. Paparan ritme cahaya matahari membantu menyelaraskan jam biologis tubuh (circadian rhythm), membuat tidur lebih berkualitas dan energi di siang hari lebih stabil.
Elemen alam atau biophilia, yakni kehadiran tanaman, material kayu, atau bukaan udara segar terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan mempercepat pemulihan stres.
Rumah, pada dasarnya, dirancang untuk tempat beristirahat, bukan tempat fokus berjam-jam menyelesaikan pekerjaan. Ketika kerja dari rumah jadi kebiasaan permanen, kita menaruh tuntutan konsentrasi tinggi ke ruang -yang otak kita sudah terlanjur terbiasa sebagai zona santai.
Menyadari Ruang yang Kita Huni
Memahami neuroarsitektur sebenarnya tidak melulu tentang merancang gedung bertingkat atau merenovasi rumah secara besar-besaran. Ini lebih tentang kesadaran (awareness) terhadap bagaimana lingkungan memengaruhi keseharian kita.
Ketika kita mulai sadar bahwa tata letak meja kerja yang menghadap dinding gelap bisa memicu rasa jenuh lebih cepat, kita bisa mulai melakukan penyesuaian kecil. Menggeser meja mendekati jendela, mengganti lampu berpendar terang dengan pencahayaan yang lebih hangat, atau sekadar meletakkan tanaman kecil di sudut ruangan sudah menjadi bentuk penerapan sederhana dari interaksi ruang dan otak ini.
Pada akhirnya, bangunan dan ruangan tempat kita tinggal bukan sekadar wadah pasif. Mereka terus membentuk cara kita berpikir, merasa, dan berinteraksi setiap harinya.
Fenomena ini sebenarnya cuma satu contoh dari sesuatu yang jauh lebih luas. Prinsip ini sebenarnya sudah lama dipakai di desain rumah sakit dan sekolah. Cahaya alami dan elemen hijau ditambahkan untuk mempercepat pemulihan pasien. Tata ruang kelas dirancang untuk mendukung konsentrasi anak.
Namun, ruang personal kita sendiri -kamar kos, rumah tinggal, apartemen, dan sekarang meja kerja WFH, justru paling jarang diperlakukan dengan prinsip yang sama. Kita jauh lebih terbiasa menilai diri sendiri, dibanding menilai ruang yang setiap hari kita tempati paling lama.
Kesadaran yang Dimaksud di Sini
Selama ini kita menganggap ruang cuma tempat kita berada, bukan sesuatu yang ikut menentukan siapa kita di dalamnya. Padahal keduanya berjalan bersamaan, tanpa pernah kita minta dan sadari.
Sebelum buru-buru memperbaiki ruang, mungkin kita perlu berhenti dulu menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang sebenarnya bisa dijelaskan dari ruang itu.
Karena kita tidak hanya membangun ruang. Dalam banyak hal, ruang jugalah yang perlahan-lahan membentuk cara kita merasa, berpikir, dan menjalani hidup.
Jadi lain kali saat merasa gelisah tanpa sebab di suatu tempat -coba jangan langsung tanya apa yang salah dengan diri kita. Periksa dulu, apa yang perlu disesuaikan dalam ruang yang kita huni.
