Konten dari Pengguna

Ketika Narasi yang Sama Menghasilkan Nasib yang Berbeda bagi Perempuan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Qurota Ayunin Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI penafsiran teks naskah Kitab Suci (sumber: freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI penafsiran teks naskah Kitab Suci (sumber: freepik)

Perempuan mengikuti laki-laki. Laki-laki memimpin, perempuan mendampingi. Kalau kamu tumbuh dalam keluarga religius di Indonesia, kemungkinan besar kamu pernah mendengar kalimat semacam itu, entah dari mimbar, dari meja makan, atau dari percakapan yang seolah tidak pernah perlu dipertanyakan. Yang menarik adalah bahwa narasi seperti ini tidak eksklusif milik satu agama atau satu budaya. Dari tradisi Abrahamik hingga Konghucu, dari teks-teks kuno hingga khotbah minggu ini, polanya hampir seragam: otoritas ada di pihak laki-laki, perempuan berada dalam lingkup kepemimpinan mereka.

Tapi kalau narasinya sama, mengapa nasib perempuan di berbagai komunitas keagamaan bisa sangat berbeda?

Pola yang Terlalu Konsisten untuk Kebetulan

Hampir semua tradisi keagamaan besar memiliki narasi yang menempatkan laki-laki pada posisi kepemimpinan dan perempuan pada posisi yang membutuhkan perlindungan atau bimbingan. Dalam tradisi Kristen, surat-surat Paulus memuat pernyataan bahwa perempuan hendaknya tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan. Dalam tradisi Islam, konsep qawwamah sering ditafsirkan sebagai hak laki-laki untuk memimpin perempuan dalam rumah tangga. Dalam tradisi Konghucu, hierarki lima hubungan yang menjadi fondasi etika sosial menempatkan hubungan suami-istri dalam logika yang sama: suami sebagai yang utama, istri sebagai yang mengikuti. Bahkan dalam tradisi Hindu, teks-teks seperti Manusmriti memuat ketentuan yang secara eksplisit membatasi kemandirian perempuan di berbagai fase kehidupannya.

Konsistensi pola ini lintas tradisi yang berkembang di wilayah geografis berbeda dan pada periode sejarah yang tidak saling terhubung menunjukkan bahwa ada sesuatu yang struktural di baliknya, bukan sekadar kebetulan tekstual. Riane Eisler dalam The Chalice and the Blade (1987) mencatat bahwa dominasi maskulin dalam sistem simbolik termasuk agama bukan fenomena universal yang given, melainkan hasil dari proses historis panjang di mana otoritas atas interpretasi teks dikuasai oleh satu kelompok tertentu.

Tapi Implementasinya Tidak Seragam

Jika teksnya relatif sama di mana-mana, yang terjadi di lapangan justru sangat beragam. Di banyak keluarga Tionghoa-Indonesia yang memegang nilai Konghucu, narasi tentang kepemimpinan laki-laki tetap ada, tapi dalam praktiknya anak perempuan justru banyak yang disekolahkan setinggi-tingginya, disiapkan mewarisi usaha keluarga, dan didorong untuk mandiri secara ekonomi. Di komunitas Kristen tertentu, ikatan pernikahan yang sakral dan permanen justru mendorong investasi jangka panjang pada pasangan, termasuk dukungan terhadap pendidikan dan karier istri. Di sisi lain, dalam komunitas yang berbeda dengan teks yang tidak jauh berbeda, narasi yang sama dipakai untuk membatasi perempuan keluar rumah, mengakses pendidikan, atau membuat keputusan atas hidupnya sendiri.

Perbedaan outcome ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan teksnya. Teksnya relatif sama. Yang berbeda adalah konteks sosial ekonomi, struktur keluarga, dan yang paling penting: siapa yang memegang otoritas untuk menafsirkan teks itu dan apa kepentingan yang dibawa dalam proses penafsirannya.

Masalahnya Ada di Lapisan Interpretasi

Teks agama tidak berbicara sendiri. Selalu ada institusi, otoritas, dan mekanisme interpretasi yang menentukan bagaimana teks dibaca, bagian mana yang ditekankan, konteks historis mana yang diabaikan, dan makna mana yang dianggap final. Dan secara historis, otoritas interpretasi itu hampir selalu dikuasai oleh laki-laki, dari ulama hingga pendeta hingga tetua adat, yang meskipun tidak selalu dengan niat buruk, menghasilkan pembacaan yang secara konsisten menempatkan perempuan pada posisi subordinat.

Fatima Mernissi dalam The Veil and the Male Elite (1991) menunjukkan bagaimana hadis-hadis yang merendahkan perempuan dalam tradisi Islam sering kali memiliki rantai perawi yang bermasalah secara historis, namun tetap beredar luas dan diterima sebagai otoritatif karena masuk ke dalam kanon yang disusun oleh otoritas laki-laki. Ini bukan argumen bahwa teks agama itu sendiri secara inheren patriarkis, melainkan bahwa proses seleksi, interpretasi, dan transmisi teks itu berlangsung dalam konteks sosial yang sudah lebih dulu patriarkis, sehingga menghasilkan pembacaan yang memperkuat struktur yang sudah ada.

Pola yang sama bisa ditemukan di tradisi lain. Elisabeth Schüssler Fiorenza dalam In Memory of Her (1983) mendokumentasikan bagaimana perempuan sebenarnya memiliki peran kepemimpinan yang signifikan dalam komunitas Kristen awal, tapi narasi tentang peran itu secara sistematis diminimalkan dalam proses kanonisasi teks dan pembentukan institusi gereja yang berlangsung berabad-abad kemudian.

Bukan Agamanya, Tapi Siapa yang Menafsirkannya

Yang perlu dibedakan adalah antara teks itu sendiri dan lapisan interpretasi yang menutupinya. Banyak teolog feminis dari berbagai tradisi, dari Amina Wadud dalam Islam, Elisabeth Schüssler Fiorenza dalam Kristen, hingga Judith Plaskow dalam Yahudi, menunjukkan bahwa pembacaan yang lebih egaliter terhadap teks-teks yang sama itu bukan hanya mungkin, tapi secara historis dan linguistik bisa dipertanggungjawabkan. Artinya, ketimpangan gender yang diperkuat narasi agama bukan produk tak terelakkan dari teks itu sendiri, melainkan produk dari monopoli interpretasi yang berlangsung terlalu lama tanpa cukup suara yang beragam di dalamnya.

Di dunia modern, sebagian komunitas keagamaan sudah mulai menggeser monopoli itu, dengan membuka ruang bagi perempuan untuk masuk ke dalam proses penafsiran, baik sebagai ulama, pendeta, maupun teolog. Akan tetapi resolusi tersebut belum selesai di situ, bahkan ketika ruang interpretasi mulai terbuka, ada sistem lain yang bekerja untuk memastikan ketimpangan itu tetap menguntungkan pihak tertentu, dengan wajah yang berbeda dan bahasa yang lebih modern.