Layar Terkembang: Ketika Perempuan Berusaha Menentukan Jalan Hidupnya Sendiri

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Raya Fahriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana sering disebut sebagai salah satu karya penting dalam sastra Indonesia era Pujangga Baru. Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1937 ini tidak hanya menghadirkan kisah percintaan, tetapi juga memperlihatkan perubahan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap pendidikan, perempuan, dan modernitas (Alisjahbana, 1937; Indonesia Kaya, n.d.).

Tokoh yang paling menarik perhatian saya adalah Tuti. Berbeda dengan gambaran perempuan pada masanya yang umumnya diposisikan di ranah domestik, Tuti tampil sebagai perempuan yang berpendidikan, aktif dalam organisasi, serta memiliki pemikiran yang maju. Sejak awal cerita, pengarang sudah memperlihatkan karakter Tuti sebagai sosok yang teguh pada pendiriannya. Ia digambarkan sebagai seseorang yang jarang takjub terhadap sesuatu dan selalu menimbang berbagai hal berdasarkan pemikiran yang rasional (Alisjahbana, 1937, hlm. 14).
Pandangan tersebut terlihat semakin jelas ketika Tuti berbicara mengenai kedudukan perempuan dalam masyarakat. Dalam pidatonya di Kongres Putri Sedar, ia menyatakan:
“Perempuan yang dicita-citakan oleh Putri Sedar bukanlah perempuan yang berdiri dalam masyarakat sebagai hamba dan sahaya, tetapi sebagai manusia yang sejajar dengan laki-laki” (Alisjahbana, 1937, hlm. 38).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa isu utama novel ini bukan sekadar percintaan, melainkan perjuangan perempuan untuk memperoleh kebebasan berpikir dan menentukan masa depannya sendiri. Bagi ukuran tahun 1930-an, gagasan seperti ini dapat dikatakan cukup berani karena menempatkan perempuan sebagai subjek yang memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam kehidupan sosial (Alisjahbana, 1937, hlm. 38).
Selain mengangkat persoalan emansipasi perempuan, novel ini juga menyoroti pentingnya pendidikan. Hal ini terlihat ketika Yusuf mengatakan bahwa
”Menjadi guru? Baik benar pekerjaan itu mendidik kanak kanak bangsa kita. Bangsa kita kekurangan guru dan teristimewa guru yang dengan insyaf merasa menanggung jawab atas anak yang terserah kepadanya. Saya mengucapkan selamat kepada Zus memilih pekerjaan itu. Bangsa kita haus akan pengajaran dan sebenamya berbahagialah orang yang dapat serta membantu mempersembahkan air kepada orang beijutajuta yang kehausan itu . . . " (Alisjahbana, 1937, hlm. 20).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan menuju kemajuan masyarakat.
Pandangan mengenai pentingnya pendidikan juga tampak melalui ungkapan bahwa bangsa Indonesia masih membutuhkan kemajuan dalam bidang pengajaran. Melalui gagasan tersebut, pengarang memperlihatkan keyakinannya bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan untuk membawa masyarakat menuju perubahan yang lebih baik (Alisjahbana, 1937, hlm. 20).
Di sisi lain, pengarang menghadirkan Maria sebagai tokoh yang sangat berbeda dengan Tuti. Jika Tuti mengandalkan rasio dan prinsip hidup, Maria lebih mengikuti perasaan serta suara hatinya. Perbedaan karakter kedua tokoh ini membuat konflik dalam novel terasa hidup. Pembaca diperlihatkan dua cara pandang yang sama-sama manusiawi: kehidupan yang dipandu oleh cita-cita dan kehidupan yang dipandu oleh cinta (Alisjahbana, 1937).
Konflik antara tradisi dan modernitas juga menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini. Melalui berbagai dialog tokohnya, pembaca dapat melihat bagaimana masyarakat Indonesia saat itu sedang berada dalam masa perubahan. Sebagian masih mempertahankan nilai-nilai lama, sementara sebagian lainnya mulai menerima pemikiran baru mengenai pendidikan, hak perempuan, dan kebebasan individu. Hal tersebut terlihat ketika Tuti mengkritik cara berpikir yang masih dipengaruhi oleh kepercayaan yang tidak rasional dengan mengatakan,
“Tahyul amat dalam membusuk di daging manusia” (Alisjahbana, 1937, hlm. 14).
Salah satu kutipan yang menurut saya paling penting adalah ketika Tuti berkata:
“Kita harus membanting tulang sendiri untuk mendapat hak kita sebagai manusia” (Alisjahbana, 1937, hlm. 37).
Pernyataan tersebut menggambarkan semangat perjuangan yang menjadi ruh novel ini. Perubahan tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan oleh mereka yang menginginkannya. Kutipan tersebut juga menegaskan bahwa kesetaraan tidak diperoleh melalui belas kasihan, melainkan melalui usaha dan perjuangan yang sungguh-sungguh (Alisjahbana, 1937, hlm. 37).
Meski ditulis hampir satu abad yang lalu, tema yang diangkat dalam Layar Terkembang masih terasa relevan hingga sekarang. Persoalan kesetaraan gender, pendidikan perempuan, dan kebebasan menentukan pilihan hidup masih menjadi pembahasan dalam masyarakat modern. Hal inilah yang membuat novel tersebut tetap layak dibaca oleh generasi masa kini (Indonesia Kaya, n.d.).
Dari segi bahasa, pembaca mungkin akan menemukan beberapa kosakata dan ejaan lama yang berbeda dengan bahasa Indonesia sekarang. Namun, justru di situlah letak nilai historis novel ini. Pembaca dapat melihat bagaimana perkembangan bahasa Indonesia sekaligus memahami cara berpikir masyarakat pada masa itu (Alisjahbana, 1937).
Secara keseluruhan, Layar Terkembang bukan hanya sebuah kisah cinta, melainkan juga refleksi tentang perubahan zaman dan perjuangan perempuan untuk menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir maupun menentukan jalan hidupnya sendiri. Novel ini menunjukkan bahwa sastra tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan sosial yang tetap relevan lintas generasi (Alisjahbana, 1937; Indonesia Kaya, n.d.).
Daftar Pustaka
Alisjahbana, S. T. (1937). Layar terkembang. Balai Pustaka.
Indonesia Kaya. (n.d.). Buku Indonesia: Layar Terkembang, karya Sutan Takdir Alisjahbana. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/buku-indonesia-layar-terkembang-sutan-takdir-alisjahbana/
