Konten dari Pengguna

Lazy Ambitious EP 4: Validasi Orang Lain Tidak Bisa Menjadi Kompas Hidup

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azahra Paradilah Nurohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Pexels / Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Pexels / Pixabay

Coba ingat kembali, “kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar bangga terhadap diri sendiri tanpa harus menceritakannya kepada siapa pun?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi, di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi dengan media sosial, jawabannya tidak selalu mudah. Hari ini, hampir setiap momen dapat dibagikan. Mulai dari pencapaian akademik, pekerjaan baru, olahraga pagi, membaca buku, hingga secangkir kopi di akhir pekan. Tidak ada yang salah dengan membagikan kebahagiaan. Masalahnya muncul ketika kebahagiaan itu baru terasa “lengkap” setelah mendapatkan banyak tanda suka, komentar, atau pujian dari orang lain. Bahkan tanpa sadar, kita mulai terbiasa menunggu pengakuan sebelum menganggap apa yang kita lakukan bernilai.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada kreator konten atau figur publik saja. Di zaman sekarang dari kalangan mahasiswa, pekerja, bahkan pelajar pun bisa mengalaminya. Kita hidup di lingkungan yang membuat kehidupan orang lain terlihat begitu menarik. Ada yang lulus lebih cepat, mendapat pekerjaan impian, membuka bisnis sendiri, membeli kendaraan pertama, atau sekadar tampak selalu bahagia. Semakin sering melihat itu semua, semakin mudah pula muncul pertanyaan dalam hati “kenapa hidupku belum seperti mereka?”

Pelan-pelan kita masuk ke ranah psikologi dan mengenal istilah external validation, yaitu kecenderungan seseorang mencari pengakuan dari luar untuk merasa dirinya berharga. Sebenarnya, kebutuhan akan pengakuan merupakan hal yang wajar, karena sebagai makhluk sosial, kita memang ingin diterima, dihargai, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan. Tetapi, persoalannya muncul ketika seluruh rasa percaya diri bergantung pada penilaian orang lain.

Fenomena itu dapat dijelaskan melalui Self-Determination Theory (SDT) yang dikembangkan oleh psikolog Edward L. Deci dan Richard M. Ryan. Dimana teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu autonomi (autonomy), kompetensi (competence), dan keterhubungan dengan orang lain (relatedness). Ketika seseorang terlalu bergantung pada pengakuan eksternal, motivasinya cenderung bergeser dari dorongan yang berasal dari diri sendiri (intrinsic motivation) menjadi dorongan yang didasarkan pada penilaian atau penghargaan dari luar (extrinsic motivation). Dalam jangka panjangnya, motivasi yang terlalu bergantung pada faktor eksternal lebih mudah berubah dan kurang mampu memberikan kepuasan yang bertahan lama.

Bayangkan seseorang yang merasa sangat percaya diri ketika unggahannya mendapat ribuan tanda suka. Tetapi, di hari lain ketika unggahan yang sama hanya mendapat sedikit respons, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Padahal yang berubah hanyalah angka, bukan kemampuannya, bukan karakternya, dan bukan nilai dirinya juga sebagai manusia.

Sayangnya, otak kita sering kali menghubungkan respons sosial dengan harga diri. Semakin banyak apresiasi yang diterima, semakin merasa berhasil. Sebaliknya, ketika pengakuan berkurang, muncul rasa kecewa yang sebenarnya tidak selalu memiliki dasar yang kuat.

Mungkin inilah perubahan yang paling halus sekaligus paling berbahaya. Awalnya kita melakukan sesuatu karena memang menyukainya. Lalu perlahan, kita mulai bertanya, “kalau aku mengunggah ini, kira-kira banyak yang suka tidak?”, “kalau aku memilih pekerjaan ini, apakah orang akan menganggapku sukses?”, atau “kalau aku mengambil jalan yang berbeda, apa nanti dianggap gagal?”

Lagi dan lagi tanpa kita ssadari, keputusan-keputusan kecil dalam hidup mulai dipengaruhi oleh bagaimana orang lain akan memandang kita. Bahkan terkadang kita lebih takut dinilai gagal daripada benar-benar gagal, dan membuat kebanyakan orang memilih jalan yang dianggap “aman” oleh lingkungan meskipun belum tentu sesuai dengan keinginannya sendiri.

Media sosial pada dasarnya hanya menampilkan potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Dimana kita hanya melihat hasil akhirnya saja, kita melihat foto wisudanya, kita melihat promosi jabatannya, kita melihat liburan, dan kita melihat pencapaiannya. Tetapi kita jarang melihat kegagalan, penolakan, rasa lelah, atau malam-malam ketika seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. Karena yang kita lihat hanyalah bagian terbaik, otak kita sering membuat perbandingan yang tidak adil. Kita membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh tantangan dengan kehidupan orang lain yang sudah melalui proses penyuntingan. Lama-kelamaan, kita merasa selalu tertinggal. Padahal belum tentu demikian.

Banyak orang mengira bahwa tidak mengejar validasi berarti kehilangan ambisi. Padahal keduanya sangat berbeda, menjadi Lazy Ambitious bukan berarti menyerah pada mimpi, bukan berarti puas dengan keadaan, bukan pula berarti berhenti berkembang. Sebaliknya, menjadi Lazy Ambitious berarti tetap memiliki tujuan, tetapi tidak lagi membiarkan tepuk tangan orang lain menentukan arah perjalanan kita.

Kita tetap belajar, tetap bekerja keras, dan tetap mengejar impian. Tetapi motivasi utamanya bukan lagi agar terlihat berhasil, melainkan karena kita memang ingin bertumbuh. Dalam kerangka Self-Determination Theory, motivasi yang muncul karena seseorang merasa memiliki pilihan, menikmati proses belajar, dan bertumbuh sesuai nilai yang diyakininya disebut sebagai motivasi yang lebih otonom. Motivasi seperti ini terbukti lebih berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, ketekunan, serta kepuasan hidup dibanding motivasi yang semata-mata didorong oleh pujian, status, atau pengakuan sosial. Dengan kata lain, ambisi tidak harus hilang, tetapi arah ambisi itu perlu kembali berpusat pada diri sendiri, bukan pada tepuk tangan orang lain.

Ada ketenangan yang muncul ketika kita mulai menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk mendapatkan pengakuan, melainkan perjalanan untuk mengenal diri sendiri.

Bukan berarti kita harus menolak semua pujian. Apresiasi tetap penting, masukan dari orang lain juga dapat membantu kita berkembang. Tetapi akan jauh lebih sehat jika pujian menjadi pelengkap, bukan sumber utama rasa percaya diri, karena jika hari ini kita merasa berharga hanya karena dipuji, maka besok kita juga akan merasa tidak berharga ketika pujian itu berhenti. Itulah sebabnya, validasi dari dalam diri jauh lebih penting, menghargai proses yang telah dilalui, mengakui usaha yang sudah dilakukan, memaafkan kesalahan yang pernah terjadi, dan percaya bahwa nilai diri kita tidak berubah hanya karena satu kegagalan atau satu penilaian dari orang lain.

Mungkin, selama ini kita tidak benar-benar takut gagal, tetapi kita hanya takut gagal di hadapan orang lain. Kita tidak benar-benar takut berjalan lebih lambat, tetapi kita hanya takut dianggap tertinggal. Padahal hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mendapat pengakuan. Hidup adalah tentang menemukan arah yang benar, lalu berani berjalan sesuai dengan nilai yang kita yakini, meskipun tidak selalu disorot atau dipuji.

Karena pada akhirnya, pengakuan dari orang lain memang menyenangkan, tetapi tidak pernah cukup untuk menopang rasa berharga dalam jangka panjang. Ketika nilai diri sepenuhnya diserahkan kepada penilaian orang lain, kita akan terus hidup dalam kecemasan, dimana takut tidak dianggap berhasil, takut tidak cukup menarik, atau takut kehilangan perhatian. Sebaliknya, ketika kita belajar menghargai diri melalui proses, usaha, dan nilai yang kita yakini, kita tidak lagi mudah goyah hanya karena respons orang lain berubah. Serta ketika kita mampu menerima, menghargai, dan mempercayai diri sendiri, kita tidak lagi membutuhkan tepuk tangan untuk terus melangkah.

Mungkin, inilah makna lain dari menjadi Lazy Ambitious, tetap memiliki mimpi yang besar, tetapi tidak lagi menjadikan pengakuan orang lain sebagai alasan utama untuk mengejarnya.

References:

Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American psychologist, 55(1), 68.