Konten dari Pengguna

Lazy Ambitious EP 8: Berhenti Menunggu Mood untuk Memulai

Azahra Paradilah Nurohmah

Azahra Paradilah Nurohmah

Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azahra Paradilah Nurohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Pexels / Pavel Danilyuk
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Pexels / Pavel Danilyuk

“Pekerjaan ini nanti saja kalau sudah semangat”, “Besok mulai olahraga”, atau “Kalau suasana hati sudah enak, baru aku kerjakan”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sangat akrab. Bahkan tanpa disadari, hampir semua orang pernah mengucapkannya. Kita sering percaya bahwa langkah pertama harus diawali oleh motivasi yang besar, seolah-olah kita baru bisa bergerak ketika rasa semangat itu datang dengan sendirinya.

Masalahnya, mood tidak pernah benar-benar bisa dijadwalkan. Ada hari ketika kita bangun dengan penuh energi dan mampu menyelesaikan banyak hal, dan ada juga hari ketika membuka laptop saja terasa berat, membalas pesan terasa melelahkan, bahkan mengerjakan tugas yang sebenarnya sederhana pun seperti membutuhkan tenaga berlipat.

Sayangnya, ketika hari-hari seperti itu datang, kita sering memilih menunggu, menunggu lebih bersemangat, menunggu lebih siap, menunggu waktu yang terasa tepat. Padahal, semakin lama kita menunggu, semakin besar pula kemungkinan kita tidak pernah benar-benar memulai.

Kita hidup di era yang membuat produktivitas terlihat sangat menarik. Media sosial dipenuhi video pagi yang rapi, meja kerja estetik, to-do list yang selesai sebelum siang, dan rutinitas yang tampak sempurna. Tanpa sadar juga kita mulai percaya bahwa orang-orang produktif selalu memiliki motivasi tinggi setiap hari.

Padahal kenyataannya pasti tidak selalu seperti itu. Orang yang terlihat konsisten bukan berarti selalu bersemangat. Mereka hanya belajar untuk tetap bergerak meskipun semangatnya sedang tidak sebesar kemarin, justru inilah bagian yang sering tidak terlihat. Kita hanya melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat hari-hari ketika mereka juga merasa malas, bosan, lelah, atau ingin menyerah.

Banyak orang menganggap motivasi adalah bahan bakar utama untuk mencapai tujuan. Padahal berbagai penelitian psikologi justru menunjukkan bahwa motivasi bersifat fluktuatif. Ia naik dan turun mengikuti emosi, kondisi tubuh, pengalaman, bahkan kualitas tidur kita. Menurut Baumeister dan Tierney (2012), kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri (self-control) dipengaruhi oleh kondisi fisik, termasuk kelelahan dan kurang tidur. Ketika energi mental menurun, seseorang cenderung lebih sulit mempertahankan fokus, membuat keputusan, dan memulai tindakan yang membutuhkan usaha. Artinya, jika seluruh hidup bergantung pada motivasi, maka hidup kita juga akan ikut naik turun bersamanya. Karena itulah, orang-orang yang mampu bertahan dalam jangka panjang biasanya tidak hanya mengandalkan semangat.

Mereka membangun kebiasaan, mereka tetap membaca beberapa halaman meskipun tidak sedang ingin belajar, tetap berjalan kaki meski olahraga hari itu terasa berat, dan tetap menulis satu halaman meski ide belum mengalir. Karena mereka memahami bahwa tindakan kecil lebih berharga daripada rencana besar yang terus ditunda.

Ada satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi, dimana kita berpikir bahwa memulai harus dilakukan dengan sempurna. Kalau ingin membaca buku, harus langsung satu bab. Kalau ingin olahraga, harus satu jam penuh. Kalau ingin belajar, harus tiga jam tanpa berhenti. Akibatnya, ketika tidak mampu memenuhi standar itu, kita memilih tidak melakukan apa pun. Padahal, kemajuan hampir tidak pernah lahir dari langkah yang besar. Ia justru tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Membaca dua halaman tetap lebih baik daripada tidak membuka buku sama sekali. Menulis satu paragraf tetap lebih baik daripada menunggu inspirasi berhari-hari. Berjalan sepuluh menit tetap lebih baik daripada terus menunda olahraga hingga minggu depan.

Kita sering meremehkan kekuatan dari kemajuan kecil karena hasilnya tidak langsung terlihat. Tetapi justru kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah yang perlahan mengubah hidup seseorang.

Psikolog James Clear dalam konsep Atomic Habits menjelaskan bahwa perubahan besar merupakan hasil dari perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten. Satu persen kemajuan setiap hari mungkin terasa tidak berarti pada saat itu juga, tetapi ketika dilakukan berulang kali, hasilnya bisa sangat berbeda dibandingkan jika kita terus menunggu waktu yang sempurna.

Sayangnya, otak manusia memang lebih menyukai hasil yang instan daripada proses yang panjang. Itulah sebabnya memulai terasa sulit. Kita ingin langsung melihat perubahan, padahal hampir semua pencapaian membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sering kali, yang kita butuhkan sebenarnya bukan tambahan motivasi, melainkan mengurangi hambatan untuk memulai.

Jika ingin membaca, letakkan buku di meja. Jika ingin olahraga, siapkan pakaian olahraga sejak malam. Dan jika ingin belajar, buka materi terlebih dahulu sebelum membuka media sosial. Langkah-langkah kecil seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi dapat membuat otak lebih mudah mengambil tindakan daripada terus menunda.

Mencoba memulai menjadi lebih ringan ketika kita tidak harus berpikir terlalu banyak, karena ada juga hari-hari ketika kita benar-benar lelah, dan itu tidak apa-apa. Lazy Ambitious bukan tentang memaksa diri bekerja tanpa henti.

Ada perbedaan antara beristirahat dan menunda. Beristirahat dilakukan agar kita memiliki energi untuk kembali bergerak, sedangkan menunda sering kali membuat rasa bersalah semakin besar karena kita tahu ada sesuatu yang seharusnya dikerjakan.

Belajarlah mengenali perbedaannya. Jika tubuh memang membutuhkan istirahat, beristirahatlah tanpa merasa bersalah. Tetapi, jika yang menghalangi hanyalah keinginan untuk menunggu mood, mungkin sudah saatnya kita berhenti bernegosiasi dengan diri sendiri.

Sering kali kita mengira motivasi akan datang lebih dulu, lalu tindakan menyusul. Padahal dalam banyak keadaan, justru tindakanlah yang memunculkan motivasi. Ketika berhasil menyelesaikan satu tugas kecil, kita merasa lebih percaya diri. Saat berhasil berjalan lima belas menit, kita lebih mudah melanjutkan olahraga keesokan harinya. Setelah menulis satu paragraf, paragraf berikutnya biasanya terasa lebih ringan. Semangat ternyata tidak selalu menjadi penyebab kita bergerak. Sering kali, semangat justru muncul karena kita sudah mulai bergerak.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menunggu waktu yang tepat, menunggu hari Senin, menunggu awal bulan, menunggu semester baru, menunggu suasana hati membaik, dan terus menunggu. Padahal hidup tidak berubah karena kalender berganti, melainkan karena keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.

Hari terbaik untuk memulai mungkin memang bukan hari ketika semuanya terasa sempurna, melainkan hari ketika kita memutuskan untuk berhenti menunggu. Tidak perlu langkah besar, tidak perlu langsung mengubah seluruh hidup. Tetapi, mulailah dari satu tugas, satu halaman, satu telepon, atau satu latihan. Satu keputusan kecil hari ini mungkin belum mengubah hidupmu. Namun keputusan kecil yang terus diulang, perlahan akan membentuk siapa dirimu di masa depan.

Menjadi Lazy Ambitious bukan berarti menunggu sampai merasa siap. Justru berarti berani melangkah meskipun motivasi belum sepenuhnya datang. Karena sering kali, langkah pertama bukan lahir dari rasa semangat, melainkan dari keberanian untuk memulai.

References:

Baumeister, R. F., & Tierney, J. (2012). Willpower: Rediscovering the greatest human strength. Penguin.

Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. Penguin.